Tuesday, 5 April 2016

The Diary of Caymaru - A Hello from the Womb

Halo dunia...aku Caymaru si keren, sebelumnya mamaku memanggilku Baby G, tapi kok kesannya kayak merk jam tangan Casio yah...
akhirnya suatu hari papaku memanggilku "Caymaru" and I like it !
Kalian suka juga nggak ?

Diary ini akan ditulis olehku, atau oleh Caymama, atau mungkin juga oleh Caypapa :)

Apakah kalian mau nimbrung juga ?
Boleh.. boleh...kalo mau nimbrung di komen donk, aku suka punya banyak temen, aku kan shio Monyet api :)

kata master Shifu, kalo shio monyet itu temennya banyaaaakkkkk karena orangnya supel, tapi beneran gak yah nanti aku kayak gitu ?
Kalo sekarang sih aku cuma bisa jumpalitan di perut mama, soalnya aku masih keciiillll tiny winy bity... masih banyak space kosong di sini ^_^

Oh iya di post pertama ini, aku mau flashback dikit ah ke akhir tahun 2015, itu adalah saat di mana aku tercipta di dunia ini.... myohohohoho ^o^

Jadi pada awal bulan Desember 2015, keluargaku sedang berduka karena kehilangan Opa, papinya Caypapa, yang sangat kami cintai. Beliau meninggalkan kami begitu cepat sehingga kami semua merasa shock dan tidak siap.

Pada saat itu, ketika Caymama melihat tubuh Opa yang terbujur kaku dan melihat Oma dan Caypapa menangis, Caymama refleks memegang perutnya dan berkata dalam hati, "Jika saja Tuhan berkenan memberikan kehidupan baru ketika kehidupan lain telah Ia ambil..."
Caymama tidak tahu kenapa ia berpikir begitu, dan yang ia lakukan juga reflek aja karena di dalam hati ia juga sangat merindukan kehadiranku.

Waktu berlalu dan hidup harus terus berlanjut.

Caymama yang sudah mengajukan surat resign pada bulan Oktober pun akhirnya bersiap meninggalkan cita-citanya sebagai wanita karir demi menjaga kesehatannya. Caymama berharap suatu hari nanti di masa depan, ketika kesehatannya membaik, dia ingin melanjutkan program baby yang sempat tertunda 2 tahun lalu.

Caymama bilang, hidup itu tentang pilihan. Kita tidak bisa memiliki segalanya yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita rencanakan, pada suatu titik manusia akan dihadapkan pada berbagai pilihan untuk menentukan masa depannya. Jika 1 pintu kesempatan tertutup, akan selalu ada pintu kesempatan lain terbuka. Caymama rela bekerja serabutan, menjadi freelancer atau penjual online atau ibu rumah tangga, demi kesehatan dan sebuah kesempatan yang lain.

Menjelang 2016, Caymama dan Caypapa mudik ke Malang. Ketika kebelet pipis, mereka berhenti di sebuah Rest Area di daerah Bekasi Timur, di situlah pertama kalinya Caymama hoekk...hoekkk di dalam WC yang baunya pesing. Padahal menurut Caymama selama 30 tahun dia hidup belum pernah mungkok karena bau pesing WC, sepesing apapun dia bisa tahan karena memang indera penciumannya kurang tajam dan terpercaya :D

Selama di Malang, Caymama juga selalu merasa mual dan pusing dan merasa badan tidak fit, menurutnya itu karena sakit maag dan kurang oksigen, seperti yang selalu terjadi. Bahkan ketika piknik ke sebuah pantai di selatan Malang yang bernama Balekambang, Caymama mau pingsan karena cuaca panas dan hiruk pikuk keramaian yang ruarrrrr binasaaaaa...untunglah hal tersebut tidak sampai terjadi karena Caypapa menggendong Caymama balik ke mobil. Sampai pada akhirnya, Caymama tidak tahan dengan sakit maagnya, ia ingin bermanja-manja di rumah Omi dan Opi di Surabaya.... menurut Caymama bersantai di rumah orang tua sendiri jauh lebih nyaman daripada di rumah mertua.

Di Surabaya, rasa mual Caymama tak kunjung berkurang walaupun sudah minum berbagai obat maag. Suatu pagi Caymama dalam keadaan perut kosong makan buah kelengkeng banyak banget, karena itu buah favoritnya. Alhasil lambungnya kram melilit tak tertahankan dan ia pun dilarikan ke UGD. Di sana Caymama baru menyadari bahwa ia sudah terlambat haid selama 2 minggu. Tapi ia masih tidak mau percaya 100% kalau ia kemungkinan hamil, karena sudah 3 tahun lebih usahanya untuk hamil secara alami tidak membuahkan hasil.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, Caymama membeli test pack dan berniat melihat hasilnya saat menginap di tengah perjalanan.
Walopun saat itu keadaan sangat kacau karena tiba-tiba aja Caypapa demam tinggi, tidak nafsu makan, dan tidak mampu menyetir dengan fokus...hampir aja dia nabrak sepeda gowes. Sampai di hotel di Pekalongan, ia sudah dalam keadaan hampir pingsan.

Saat di hotel sambil menjaga Caypapa yang demamnya gak turun-turun, Caymama mengetahui bahwa hasil test pack-nya positif.
Kalo kondisi normal, seharusnya adegan ini menjadi adegan mengharukan kan ? kayak di film-film gitu yang istri dan suaminya berpelukan saling mencucurkan air mata, atau berpelukan bahagia....tapi waktu itu Caypapa lagi sakit (yang nantinya ketauan kalo dia kena DBD...huhuhu) dan Caymama galau karena susah membujuk Caypapa untuk menunda perjalanan ke Jakarta, Caypapa ngotot pengen kembali ke Jakarta walopun fisiknya gak mampu. Mereka akhirnya bertengkar...dan Caymama mengeluarkan jurus maut wanita yaitu.... air matanya T_T
Akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Caymama. Karena memang wanita selalu benar, laki-laki selalu salah....uuuhhh gimana nih ??? Sabar yah Caypapa, mungkin ini semua demi kebaikan kita bersama :p


harusnya pelukan romantis gini lohhhh kalo ada berita kehamilan.....

pic source : veer.com / google search

Keesokan paginya, Caymama memutuskan untuk meminta jemputan dari saudara di Kudus, yang jaraknya 4 jam perjalanan. Di Kudus, Caypapa mendapatkan sedikit perawatan walopun ia ngotot untuk kembali ke Jakarta. Caymama setuju dengan syarat Caypapa mengajak sopir, sedangkan Caymama stay di Kudus untuk berobat di salah seorang shinshe rekomendasi Mak Ik, tantenya Caymama.
Lalu berpisahlah Caymama dan Caypapa untuk sementara waktu ditemani semburat sinar mentari pagi...

Uuhhh....aku ngantuk nih...
Caymama juga kayaknya udah capek duduk lama-lama jadi jubir aku, keren kan aku punya jubir kayak Farhat Abbas...aku kan gaol (^^)v



kayaknya segini dulu post pembukanya, kapan-kapan kita lanjutkan lagi ya


Salam sayang dari dalam perut sexy,
Caymaru si keren  :-*


Wednesday, 30 March 2016

Misteri Suara Tawa di SPBU

Kejadian ini terjadi waktu aku lagi hamil memasuki usia kandungan hampir 3 bulan.
Waktu itu sekitar pukul 19:00 aku nemenin Eric untuk isi ulang oksigen di Jalan Panjang. Selesai isi ulang, kami mampir ke SPBU untuk isi bensin, berhubung diriku udah kebelet pengen pipis akhirnya turun ke arah toilet.
Sementara Eric nunggu di mobil, aku pun menuju toilet yang berada di bagian belakang SPBU, tepatnya di belakang mushola, di samping gudang yang kelihatannnya sepi.

Di depan toilet hanya ada seorang bapak penjaga yang menunggu kotak uang. Di bagian dalam toilet ada 2 bilik WC yang mana campur antara laki-laki dan perempuan karena modelnya seperti kamar mandi.
Salah 1 bilik tertutup tanda ada orang yang memakai. Aku pun masuk ke bilik yang satunya lagi.

Saat aku mulai pipis, terdengar bunyi fush dari WC sebelah tanda orang sebelah udah kelar buang hajat.

Habis pipis, aku pun bersiap menyiram air....lalu saat itulah terdengar suara orang tertawa, "Ihihhihihi...."

Suaranya jelas banget sehingga aku menganggap itu adalah suara dari WC sebelah dan tidak ada perasaan maupun pikiran apa pun.

Aku kembali menyiram air sampai benar-benar bersih, tapi suara tawa itu malah terus berlanjut...

"Ihihihihihiii.....ihihihihihi.....ihihihiiiii...."

Tiba-tiba aja aku teringat sama film-filmnya Suzanna, aku pikir kok ada aja sih orang iseng begini, kurang kerjaan banget.
Aku pun buru-buru membuka pintu yang terkunci dan melihat ke WC samping yang ternyata.... KOSONG !!!

JENG JENG !!!

Aku jadi heran, seandainya memang orang di WC sebelah yang ketawa ketiwi iseng, harusnya dia papasan dengan aku ketika aku buka pintu. Nyatanya bilik itu sepertinya udah kosong sejak suara flush yang tadi, berarti orangnya sudah keluar dari tadi.

Aku berjalan ke depan, dan lagi-lagi tidak ada seorang pun selain si Bapak penjaga uang yang dari tadi masih melamun aja nungguin kotak. Aku gak melihat seorang perempuan sama sekali. Aku tengok ke toko di belakang si Bapak yang letaknya tepat di samping WC, aku pikir mungkin si Mbak penjaganya yang iseng ketawa-ketiwi atau lagi bercanda sama temannya. Ternyata toko itu juga sepi tidak ada orang sama sekali !

Sekali lagi aku mikir, kalo memang ada perempuan, misalnya mbak-mbak penjaga toko yang ketawa karena sedang bercanda dari ruang sebelah, harusnya suaranya seperti teredam tembok, gak mungkin sejelas suara tadi. Dan pasti terdengar juga suara lawan bicaranya. Nyatanya di sekitar tempat itu tidak ada siapa-siapa selain Bapak penjaga kotak. Masak iya, dia kurang kerjaan banget gangguin orang lagi pipis...orang tampangnya serius hahahahaaaa....

Pikiranku terus bertanya-tanya sembari jalan ke mobil.
Aku pun tiba-tiba teringat cerita salah seorang teman yang tinggal di daerah kampung, yang digangguin tawa kuntilanak karena ibunya sedang mengandung.

Apa mungkin yang gangguin aku tadi itu beneran kuntilanak ya ?? Yang bisa merasakan aura janin....

Kalo memang benar demikian, berarti itu pertama kalinya sepanjang ingatanku mendengar suara Mbak Kunti, bener-bener mirip seperti di film.


pic source : raindart @ deviantart
link : http://img03.deviantart.net/a123/i/2012/193/e/4/indonesia_ghost___kuntilanak___by_raindart-d56xhxr.jpg




Monday, 28 December 2015

Jogja Trip 2015 - Part 3 : Prambanan Temple & Ramayana Ballet Dance

Setelah check-out dari Raffles Villa di Kaliurang, kami melanjutkan perjalanan ke kota Yogyakarta untuk check-in di hotel HOM Platinum.
Sorenya kami melanjutkan perjalanan ke candi Prambanan dan tiba di tempat tepat sebelum gerbang ditutup, yaitu jam 6.
Untung masih boleh masuk.

Saya kira karena pertunjukan sendratari Ramayana dimulai jam 19:30 maka candinya masih buka sampai malam. Waktu itu saya berpikir bahwa jam 6 sore masih terlalu dini.
Ternyata oh ternyata, panggung tari dan lokasi candi berada di tempat yang berbeda.
Kita juga tidak bisa ke panggung tari dari lokasi candi, karena tempatnya dipisah pagar dan jalan.
Jadi, lokasi candi hanya buka sampai sore. Gerbang ditutup pukul 17:00 dan lokasi ditutup pukul 18:00

Jadi, petanya seperti ini :



Menyesal sekali kenapa tadi kami tidak pergi lebih siang dan malah mengulur-ulur waktu. Akhirnya kami cuma bisa berfoto secara kilat karena sinar matahari juga sudah mulai redup. Suasana dan kondisi di dalam candi menjadi sangat gelap. Sempat masuk ke dalam candi yang ada patung Syiwa-nya tapi gelap banget... terus diketawain bule karena lagi-lagi saya digendong ama ayang ahahahahahaa.... padahal udah menolak tapi apa daya kami diburu waktu sehingga gak sempat lagi kalo harus mendaki satu persatu anak tangga bagikan siput *cry*
Meski begitu, pantulan sinar matahari sore alias sunset menambah keeksotisan candi ini...



Meksi belum puas berfoto dan berkeliling ke seantero reruntuhan candi, kami pun harus meninggalkan lokasi karena sudah gelap dan lampu penerangan taman tidak terlalu banyak. Begitu matahari terbenam, lampu spot warna-warni langsung dinyalakan dan menyinari ketiga candi induk Prambanan, candi Wisnu, Candi Brahma, dan candi terbesar Candi Syiwa.

Komplek candi ini luassss banget apalagi buat orang yang jalannya kayak siput macam ngana, kami sempat tersesat karena mengikuti dua sejoli bule yang berjalan entah ke mana. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan sendiri mengikuti insting dan petunjuk yang kurang jelas sampai akhirnya berhasil sampai ke parkiran. Kami harus keluar lokasi dengan mobil, mengambil arah memutar dan masuk ke area sendratari yang berada di komplek sebelah.

Ternyata komplek yang satu ini jauh lebih ramai dibanding komplek candi, mungkin karena emang baru buka yaa... sedangkan komplek candi tadi kan udah tutup.
Beberapa bule yang kami temui di Prambanan juga ternyata ikutan nonton sendratari ini.
Ada beberapa kelas mulai dari VIP, special seat, first class, second class, student, semuanya bisa dilihat di

yogyatrip.com

Kami memilih first class seat dengan  harga tiket Rp. 175.000,-/ person
walaupun agak menyamping tapi yang penting bisa dapet di depan.
Dan herannya, kenapa kursi VIP-nya dipake bule semua ya ?? apakah emang dibooking oleh sebuah grup tur ataukah orang Indonesia gak rela ngeluarin duit Rp. 350.000,- ??

Sebelum masuk, foto dulu sama cosplayer resmi, walaupun penarinya nanti bukan mereka :D



Sepertinya saya gak perlu lagi menceritakan kisah Ramayana, selain karena kisah ini udah diceritain sejak kita masih SD, sempat dijadiin wahana yang antriannya Masya Allah di Dufan pada tahun 1997-2000an, akhir-akhir ini juga banyak sinetron India-he yang me-remake kisahnya :)

Enjoy the show....
Candi Prambanan yang ada di komplek sebelah ternyata menjadi latar belakang dari panggung, diterangi lampu-lampu spot :)



Dan berakhirlah perjalanan kami di hari pertama.

To be continued.....

Jogja Trip 2015 - Part 2 : Merapi Lava Tour

Siapa sih yang nggak pernah denger tentang keganasan gunung Merapi ?
Gunung yang paling aktif di Indonesia ini menyimpan seribu cerita kelam dan mistis sepanjang masanya, dan belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan tidur panjang. Sang Ardi masih akan berdiri kokoh menyaksikan cerita manusia di Jawa Dwipa :)

Di Kaliurang - sebuah wilayah tujuan wisata di kaki gunung Merapi - atraksi yang paling menarik adalah "Lava Tour", di mana kita akan diantar berkeliling oleh seorang pemandu dengan mobil Jeep ke lokasi-lokasi yang terkena "Wedhus Gembel" alias awan panas, atau tersapu lahar dingin.
Ada beberapa operator yang menyediakan jasa tour ini. Kebetulan yang saya ikuti adalah operator yang posnya tepat berada di samping Raffles Villa di dekat bundaran patung udang.
Ada beberapa paket tour yang ditawarkan dengan kisaran harga mulai Rp. 350.000,- sampai Rp. 600.000,-
Kami bertiga sepakat mengambil paket yang paling murah karena sorenya harus segera ke Candi Prambanan sehingga tidak bisa berlama-lama di Kaliurang.


Brosur paket Lava Tour by Mas Yus

Ternyata naik Jeep asik banget...apalagi kalo guide-nya, Mas Yuswanto, agak sedikit ngebut sehingga udara sejuk Kaliurang berhembus menerpa wajah...uhuuuiiii....

Sebelum mulai menelusuri desa yang hancur karena awan panas, jeep kami melakukan aksi offroad di atas sungai pasir yang namanya Kali Opak...pokoknya Seru banget !!! Kata Mas Yus, sungai tersebut dulunya penuh air dan ada bangunan bendung yang berfungsi, tapi sejak tertimbun Lava dingin, airnya sekarang cuma seuprit dan bendungannya juga masih dalam tahap renov karena mengalami kerusakan.


Perjalanan menuju Kali Opak... melewati bangunan runtuh, jalan berbatu, dan kuburan massal

Perjalanan dilanjutkan menyusuri pemakaman massal korban letusan merapi melewati jalanan pasir berbatu-batu yang di kanan kirinya banyak bangunan runtuh. Lalu sampailah kami ke "Museum Sisa Harta".
Di situ banyak barang rusak maupun mayat hewan yang sudah membatu akibat terkena awan panas. Mulai dari televisi, rak kulkas, mesin jahit, sepeda motor, "sisa" kelinci, batu-batu vulkanik yang terlempar dari semburan merapi, dll

 
Museum Sisa Harta

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke sebuah monumen yang disebut "BATU ALIEN" yaitu sebongkah batu super gede yang terlempar dari semburan Merapi, dan jika dilihat pada angle tertentu menyerupai wajah orang. Karena itu penduduk sekitar menyebutnya batu alien. Ada juga yang menyebutnya "BATU ALIHAN" - alihan = perpindahan - konon menurut mereka batu itu menghadap tepat ke arah keraton Yogyakarta jika ditarik garis lurus.
Di lokasi ini, Mas Yus menunjukkan kepiawaiannya mengambil berbagai angle foto unik yang mungkin sudah sering ia lakukan pada setiap turis yang berkunjung. Berhubung kami nggak pernah melakukan adegan foto begitu, jadinya kami excited banget... saya aja sampai kelelahan disuruh lompat-lompat, gak terasa sampai sepatunya jebol.


 
Batu alien - mirip kan sama wajah orang ?!


 
Foto-foto unik dengan background langit biru ^^

Dari batu Alien, kami melanjutkan perjalanan ke tambang pasir yang lokasinya nyeremin tapi eksotis bangettttt....
Gimana gak serem kalo jeep-nya diparkir di pinggir jurang yang notebene adalah pasir, bisa aja kan sewaktu-waktu longsor. Uniknya di tambang pasir ini, beberapa lubang masih mengeluarkan asap dari dalam, dan batu yang warnanya coklat basah jika disentuh ternyata hangat !
Kali ini kami banyak mengambil foto panorama, sayangnya background gunung Merapi tidak tampak tertutup awan :'(

 
Tambang pasir...offroad rute, taken with ASUS Zenfon 2 panorama mode

Hari sudah semakin panas ketika kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi terakhir, BUNKER DARURAT di dusun Kaliadem.

Sampai di lokasi, kayaknya saya udah kelelahan banget dan mulai sesak napas, sehingga pada saat ada tangga menanjak, mau nggak mau harus minta bantuan suami buat gendong hehehehe.... yang mana aksi ini mengundang perhatian bule-bule di sana, dikiranya saya males banget kali yah nggak kasian ama suami :p

Masuk ke bunker, suasananya gelap dan pengap.
Di dalam ada sebuah batu besar yang di atasnya diberi sesajen, menambah suasana makin mencekam dan bikin merinding meskipun banyak pengunjung dan masih di siang bolong.
Menurut cerita, ketika letusan tahun 2006, 2 orang relawan bersembunyi di dalam bunker yang memiliki ketebalan dinding 3 meter dengan pintu beton setebal 25 cm, namun panasnya material merapi yang melahap daerah tersebut malah membuat bunker itu bagaikan oven raksasa. Dua orang relawan yang terjebak di dalam, yang satunya meninggal di dalam bak mandi yang terletak di dalam bunker, dan satu lagi meninggal di dekat pintu bunker. Katanya saat bunker diselimuti material panas merapi, suhu di dalam bisa mencapi lebih dari 200*C, atau maksimal 700*C. Ya Tuhan....gak kebayang panasnya kayak apa, di Jakarta aja suhu 33*C udah bikin emosi !

 
Peresmian bunker

 
Foto dari dalam bunker....


 
digendong ayang karena capek naik tangga wakakaka XD

Dari lokasi bunker, jeep kami kembali menuju Kali Opak untuk melakukan off road di sungai yang asik banget tadi sebagai penutupan sebelum akhirnya kembali ke villa.

Kami pun berkemas untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan.

To be continued...

Sunday, 25 October 2015

Jogja Trip 2015 - Part 1 : The Trip Begin

Akhirnya setelah hiatus hampir setahun, blog ini ada update-nya juga... so many things happened. Banyak yang ingin ditulis, banyak momen, tapi tidak disertai niatan untuk membuka laptop dan menulis.
Ntah kenapa suasana di rumah ini membuat saya kehilangan mood menulis. Adaaaa aja alasan yang dibuat, internet susah, meja kerja gak kondusif, hawanya panas, pemandangan gak membangkitkan mood. I MISS LIVING IN A HIGH FLOOR APARTMENT T___T

Libur lebaran bulan Juli 2015 yang lalu saya berencana mengunjungi sang nenek yang tinggal di Kudus. Sebelum ke kudus, saya ingin menghabiskan 3 hari 2 malam di Jogja yang sudah lamaaaaaa sekali tidak saya kunjungi, terakhir kayaknya waktu masih SD kelas 6 deh.

Hari pertama keberangkatan dari Jakarta, kami udah colong start duluan sementara para karyawan lain masih belum libur. Takutnya kalo berangkat pas H-2 jalan pantura bisa macetos bangetos... jadilah kami, aku-suami-adek cowok, berangkatnya H-7 hahahaaa...
Kebetulan si adek cowok lagi berlibur ke Jakarta dalam rangka liburan semester, jadinya dia diboyong juga ke Jogja daripada jamuran sendiri di rumahku.

Kami mulai excited waktu pertama kali melewati gerbang tol Cipali yang sedang happening itu. Ternyata jalan tol baru ini masih sepiiiii banget, jalan 120 km/jam serasa jalan 80 km/jam.... gak terasa uiii kalo ngebut, habisnya sejalan cuma 1-2 mobil yang berlalu.
Jalan di tol baru kayak gini, para pengemudi harus ekstra hati-hati, percaya gak percaya, biasanya masih banyak korban kecelakaan, kalo kami sih yang penting berdoa aja sepanjang jalan, urusan hidup mati itu sudah di tangan Tuhan.
Eh, ternyata bener loh... ada mobil yang kebalik di depan kami, tapi si eric nggak turun bantuin karena mobil lain di depan tetep jalan, padahal mobil-mobil di belakang banyak yang berhenti dan bantuin. Sepintas sih kayaknya penumpangnya gak kenapa-kenapa karena masih bisa keluar dan jalan-jalan, syukurlah ya....

Perjalanan cukup lancar sampai di Brebes, kita maksi bentar di ayam goreng Mbok Berek, terus dilanjutkan lagi sampai Pekalongan. Dari situ kita menuju selatan ke arah Magelang.
Jalannya kecil, berliku, naik turun gunung. Untungnya saat itu masih jam 4 sore, kalo udah malem pasti serem banget jalan sendirian di gunung cuma bertiga. Pemandangannya cukup indah juga.

Gambar kiri : gerbang tol Cipali, Cikopo - Palimanan
Gambar kanan atas : suasana tol Cipali yang masih lengang
Gambar kanan bawah : suasana perbukitan ke arah Temanggung

Jam 8 malem, kami sampe di Magelang dan makan malam di resto sejenis Special Sambal, tapi lupa namanya apa... yang jelas menunya mirip "SS" gitu, berbagai lauk goreng plus pilihan sambel yang beraneka ragam. Berhubung di SS, sambelnya gak terlalu nendang, aku dan si adek kalap pesen sambelnya, dan pas dateng ternyata porsinya banyak dan rasanya pedessssss gak pake ampun... jadilah kami berdua nangis kepedesan, sementara si eric yang gak makan sambel cuma adem ayem aja kekenyangan.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kaliurang pakai sahabat setia para traveller, yaitu google map. Kami cukup heran karena suasananya sepi banget gak kayak di Puncak, feeling udah gak enak karena Gugel map menyuruh kami lewat jalan kecil yang bukan merupakan jalan protokol.
Ternyata...apa yang kami takutkan terjadi juga. Gugel map menginstruksikan kami untuk menuju ke suatu titik yang menurutnya adalah "Raffles Villa" seperti yang saya pesan lewat agoda. Anehnya... berdasarkan Gugel map villa itu masuk ke sebuah gang kecil yang jalannya seperti jalan kampung tidak diaspal. Si Eric gak mau meneruskan jalan karena takut mobilnya selip di tengah gang super gelap itu, dan hanya ada secercah cahaya di ujung sana. Seingatku, peta di agoda menunnjukkan bahwa villa itu berada di tepi jalan protokol dan berada di dekat persimpangan jalan.... kok ini malah menyuruh kami lewat gang sempit tak beraspal. Kami langsung teringat pada kejadian-kejadian di mana bus atau truck terjebak di sebuah hutan tanpa jalan setapak yang awalnya mereka kira adalah sebuah jalan di kampung....kami langsung merinding....

Akhirnya, setelah sempat masuk sepanjang 10 meter, kami memutuskan untuk keluar dari gang gelap itu dan kembali ke jalan utama dan bertanya di poskamling. Ternyata jawaban petugas poskamling pun tak banyak membantu karena dia tidak terlalu mengenal daerah yang kami maksud. Dia hanya menyuruh kami untuk kembali ke arah "Patung Udang", dalam bahasa Jawa, udang disebut "urang" asal nama Kaliurang.
Kami pun mulai galau...karena dari tadi kami tidak melihat sesuatu berbentuk udang sama sekali.

Akhirnya sambil berdoa, kami melanjutkan perjalanan terus naik ke atas sambil berharap S*mpati-nya tidak kehilangan sinyal... ada untungnya juga ya pakai paket internet itu, kalo pake yang lain bisa-bisa sinyalnya lenyap di gunung begini T__T

Puji Tuhan, setelah sekitar 20 menit mengikuti jalan kecil yang gelap namun beraspal, akhirnya kami sampai di sebuah persimpangan jalan, dan tepat di kiri kami ada sebuah villa cukup besar dengan spanduk "RAFFLES VILLA" Puji Tuhan alhamdulilah...waktu menunjukkan pukul 22:30 WIB

Kami langsung melakukan check-in dan bersih-bersih karena badan udah terasa lengket gimana gitu, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kami tertidur.

Eits...ceritanya belum selesai !!

Kami tidur di kamar yang paling kecil, terletak di tengah ruangan antara ruang makan dan dapur. Di depan kami ada kamar yang lebih besar dengan teras, tapi kamar itu sedang kosong tanpa penghuni.
Kami tidur bertiga berjejer kayak pindang di atas sebuah kasur dengan tirai kelambu.

Karena space tidur yang sempit dan diapit 2 cowok, saya jadi merasa tidur kurang nyenyak dan suka terbangun. Mata melek ganti posisi, merem lagi, melek lagi ganti posisi, merem lagi, dst...

Kira-kira pada pukul 4 atau 5 pagi, ketika akan ganti posisi untuk yang kesekian kalinya, tiba-tiba lampu kamar mandi MENYALA sendiri terus ada air mengucur di bak mandi. Saat itu, pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup.
Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, si adek dan si eric masih lengkap, tidur dengan nyenyaknya di kanan kiri saya.
Ketika saya berpikir mungkin mereka lupa mematikan lampu....tiba-tiba lampu kamar mandi MATI SENDIRI.




JENG JENG
........
.....




Belum berhenti sampai di situ, kira-kira lampu kamar mandi menyala dan mati sampai sekitar 3x. Dan ada bunyi ceklek-ceklek seperti bunyi saklar dipencet. Jadi kalau misalnya lampunya konslet kan matinya byar-pet-byar-pet... nahh yang ini tuh lampunya mati hidup tapi disertai bunyi "ceklek"
dan ada suara air samar-samar dari dalam kamar mandi.
Saya sempet kebingungan selama beberapa detik, dan berpikir apakah penjaga villa ini punya tombol otomatis dari luar kamar ???
Karena saya teramat sangat ngantuk dan lelah, saya pun melanjutkan tidur lagi sampai matahari bersinar.

Paginya, ketika saya cek isi bak mandi tidak bertambah airnya, padahal semalam sepertinya kerannya nyala...

Ide mengenai penjaga villa yang punya tombol otomatis dari luar juga sepertinya tidak mungkin, karena villa ini kan villa sederhana, ngapain juga dimodifikasi kayak villa film-film agen rahasia, dan kenapa pula mereka harus mati nyalain lampu pada dini hari. Kan kurang ajar kesannya.
Jadi, saat itu saya menyimpulkan bahwa "penunggu" rumah yang lain juga ingin menyapa tamunya.
Untung nginepnya cuman 1 malem...

  
Penampakan Raffles Villa di pagi hari. Untuk kamar paling kecil, semalam tarifnya Rp. 195.000,- sudah dapet sarapan berupa nasi goreng.
Overall villanya bersih dan cukup nyaman, ditambah bonus X-Moment yang mati nyala itu.... 

Ini mesin generator air panas sederhana. Terletak di halaman depan villa, bahan bakunya adalah daun-daun kering di sekitar pekarangan. Jadi air panas yang dihasilkan juga gak bisa panas-panas banget melainkan suam-suam kuku... katanya sih ini yang punya villa menganut gerakan GO-GREEN


Halaman depan Raffles Villa, di sebelah kanan itu ruangan Suite yang terpisah dari bangunan utama. Cocok untuk pasangan yang lagi hanimun karena dekorasinya creepy-creepy romantis gitu deh, serba kayu dengan penerangan sendu... untuk tarif semalam bisa cek di Agoda atau telepon langsung


Yang ini iseng nyobain kamera hape baru. Waktu itu si ASUS Zenfon 2 baru aja dipake menggantikan si Tab dan BB, dan berjasa terhadap pengambilan hampir semua foto di JOGJA TRIP kali ini....


Lalu kami pun bersiap untuk melakukan "LAVA TOUR" salah satu atraksi menarik di kaki gunung Merapi.
 To Be Continued....

Wednesday, 18 February 2015

New Year 2015 in Bandung - Part 2 : BRAGA WALK

1 Januari 2015

Pagi-pagi, kami turun ke bawah buat sarapan dan kaget setengah mati melihat kondisi
restoran hotel yang....

semrawut
kotor buanget
makanan udah abis semua

Sambil mengeluh, aku duduk di salah satu meja yang piringnya belum diberesin, masih ada ceceran makanan di sana-sini, pokoknya buat aku sih...ini rada menjijikkan !

Waiter dan waitress nya kewalahan menghadapi tamu di peak season, cuma 2-3 orang dan mereka gak mampu melayani kami, bahkan untuk makanan yang udah abis pun, kami harus meminta dan menunggu beberapa saat sampai disajikan lagi. Tentu saja itu cuma menu makanan yang bisa direfill, macam nasi goreng, kue bolen, roti tawar, dan puding. Menu seperti bubur dan daging atau ikan, jangan harap nongol lagi.

Kata welcome boy-nya, itu karena mereka baru buka beberapa bulan dan gak siap menghadapi peak season. Pemiliknya juga lagi keluar negeri jadi mereka kayak gak punya wewenang untuk melakukan inovasi.

Yahhh...whatever your reason, menurut aku sih mereka sama sekali gak siap untuk buka hotel.

Siangnya, aku dan suami jalan-jalan ke stasiun yang berada tepat di depan hotel. Stasiun Bandung ini bersih banget dan ramai, sayang sekali aku gak ambil foto bangunan landmark itu. Menurut salah satu blog, perjalanan ke Bandung naik kereta api itu sangat menyenangkan karena melewati gunung dan bukit-bukit yang pemandangannya indah. Memang kalo dilihat dari mobil saat di tol Cipularang, jalanan kereta yang dibangun Belanda itu masih nampak kokoh dan menyembul di antara lembah-lembah perbukitan, jadi penasaran juga seperti apa rasanya naik kereta ke Bandung.

Malamnya, kami memutuskan untuk cari makan di Braga Walk karena letaknya yang cukup dekat dari hotel.

Kami memarkir mobil di ujung jalan, dan menyusuri Braga dengan berjalan kaki. Karena menurut trip advisor, jalanan Braga itu romantis dan enaknya dilewati sambil jalan kaki.
Sayang banget, pas ke sana, sedang ada renovasi yang membuat jalanan nampak kotor dan berantakan, bahkan lampu jalan yang jadul itu, yang kayak lampu jalanan di London, juga ikut dibongkar...meskipun mungkin setelah renovasi akan dibangun lagi.

di depan salah satu cafe

Aku paling suka sama suasana kota tua yang berbau-bau Eropa gitu, kayak kota tua di Jakarta, kota tua di Semarang, dan kota tua di kawasan Braga ini. Di sini banyak cafe-cafe yang jual minuman beralkohol dan dipenuhi asap rokok, berhubung aku harus menghindari asap rokok sebisa mungkin, kami mencari resto yang memungkinkan.

Dan ketemulah warung penyet Bu Tris....mirip yah sama Bu Kris yang tersohor itu.


menu oseng ini enak banget, meskipun isinya tanpa daging...cuma tulang ikan sama kuah cabe-cabean

Aku menyukai Braga yang eksotis,
Aku akan kembali lagi ke sana,
Tak sabar aku menantikan wajah barunya....


*last update : katanya Jalan Braga gak akan pernah kembali seperti jaman keemasannya dulu.... sayang banget kalo gitu, padahal ini kan heritage yang harus diselamatkan kayak kota tua Jakarta, cmon Bang Kamil....do something about it T_T


New Year 2015 in Bandung - Part 1 : KAWAH PUTIH

*Gegara di rumah kontrakan ga pasang internet, dan ga ada sinyal WIFI, jadinya sekarang jarang ngeblog, postingan lama ini pun terpaksa harus antri sekian minggu baru bisa diupload.


Sebenarnya impian kami untuk mengakhiri tahun 2014 adalah dengan mudik ke Jawa Timur naik mobil sendiri, dan mampir ke kota Jogja serta Semarang.

Asik kayaknya kalo pergi berdua terus mampir-mampir ke kota yang dilewati untuk kuliner...
Apa daya, duitnya udah run out buat something else which is more important T___T

Alhasil, kami cuma berakhir tahun di Bandung, lagi-lagi.....
Iyah. Soalnya, Bandung itu destinasi wisata yang meski dikunjungi berkali-kali, tetap aja ada sesuatu yang baru yang bisa dikunjungi.
Apalagi kami yang ke sananya belum tentu setahun sekali, pasti masih buaaaanyyyaakkkkk banget tempat yang bisa dijelajah !

Kali ini, aku penasaran banget sama yang namanya Kawah Putih, yang sering jadi lokasi pemotretan pre-wed, jadi lokasi film cinta-cintaan, pokoknya memberikan aura romantisme.
Masalahnya adalah....di sana uap sulfurnya tajam, padahal aku kan harus menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, bisa-bisa ntar di sana pusing dan pengen pingsan.
Tapi, puji Tuhan semuanya berjalan lancar, pas di sana kondisiku sehat walafiat, bisa foto-foto selfi narsis, naik tangga juga kuat meskipun berhenti setiap 10 anak tangga.

Kronologinya begini...

31 Maret 2014

Berangkat pagi-pagi dari Jakarta dengan berbekal uang bensin, uang makan, pakaian secukupnya, dan tentu saja tabung oksigen !!

Sampai di Bandung lanjut ke arah Bandung selatan, Ciwidey, untuk menuju kawah putih.
Di tengah perjalanan, entah di daerah mana, kami berhenti di sebuah depot sederhana yang jual masakan Sunda untuk makan siang, aku ngidam pepes teri !

Menu Sunda itu sehat banget yah, isinya daun-daunan.....non kolesterol,
bandingin sama menu Jawa Timur yang walopun enak jugaaa....tapi isinya petis, jeroan, dll :D
 

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kawah putih.

Di gerbang depan, kami harus membayar Rp. 180.000,- untuk 1 mobil + 2 orang

Ini tiketnya mahal banget kalo aku bilang, soalnya fasilitas jalan rada rusak dan WC kurang nyaman


Di gerbang ini, biasanya turis yang naik bus berhenti dan melanjutkan ke kawah naik angkutan spesial, wahhh...lupa namanya tapi sejenis kolt dengan bagian samping terbuka, kalo rame-rame asik juga kali ya...

Lalu setelah menyusuri 5 km jalanan yang berliku yang agak rusak di beberapa bagian, kami sampai juga di kawasan kawah putih yang sebenarnya, tinggal parkir di parking land, lalu turun menyusuri tangga yang lumayan banyak, dan voilaaa....nikmatilah pemandangan romantis ! plus bau-bau sulfur yang mirip kentut itu.

Di lahan parkirnya, petugas sering menginformasikan bahwa wanita hamil dilarang turun sampai ke kawah. Petugas juga menginstruksikan kami supaya menggunakan masker karena uap sulfur sedang lumayan pekat.

\(^^)/ udah kayak pelem korea belon gan ?? #ngarep

Puas selfie, kami pun balik ke atas dan tepat saat itu, hujan mengguyur kawasan kawah putih.
Pas banget daahhh...coba kalo kesiangan dikit, pasti udah gak bisa turun akibat ujan :)
Di dalam mobil, sambil megap-megap akibat capek naik tangga, aku langsung menikmati oksigen pake selang kesayangan yang selalu setia masuk ke goa upil hahahaaa....

Perjalanan pulang menuju Bandung diiringi hujan lebat dan macet di daerah KOPO.

Untung aja si biru masih mampu menerjang banjir....padahal motor yang di sebelah kiri kami udah oleng akibat kena arus banjir...

Akhirnya kami sampai di hotel Grand Sovia di depan stasiun pukul 19:00.
Kami mendapatkan voucher makan malam (horeee...ga perlu keluar ujan-ujan cari makan) karena ada acara New Year's Eve !

1. tetap semangat naik tangga, 2. Si Oksi yang setia menemani
3. Dinner @ hotel ada live band, 4. Besoknya di roof pool mini...maunya kayak MBS, sayang viewnya ga banget kakakakaaa....

Setelah mandi dan istirahat bentar, kami turun untuk makan malam, di sana udah ada band yang lagi nyanyi2. Sayangnya menu makan malamnya standard banget, yahhh...maklum sih karena ini hotel budget. Kami gak menghabiskan detik-detik tahun baru di sini karena bosan, akhirnya kelar makan kami balik ke kamar. Suami udah tepar duluan, jadinya aku nonton TV sambil nungguin kembang api dari jendela kamar.

Ternyata oh ternyata.....

Tidak semeriah Jakarta...

Bahkan di sekitar hotel tidak nampak jedar-jedor yang terlalu banyak.
Kayaknya tahun baruan di Indonesia, paling semarak dan hingar bingar...ya...di Jakarta.

Dan aku pun mengakhiri tahun 2014 dengan berdiri di depan jendela lantai 6,
melihat gebyar cahaya warna-warni di kejauhan,
merasa sendiri,
dan tenggelam dalam rasa rindu pada keluargaku di Surabaya....


To be continued....


*New Year 2015 in Bandung - Part 2 : BRAGA WALK