Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Thursday, 16 January 2014

Resolusi Tahun 2014

Segenap kru Fly Me to My Dream mengucapkan...
SELAMAT NATAL 2013 dan TAHUN BARU 2014
Terima kasih atas kesediaan pembaca aktif, pembaca silent, dan pembaca nyasar untuk meramaikan blog GAJEBO ini.

Semoga kalian semua semakin sukses dalam segala hal di tahun yang baru ini :)


Menutup akhir tahun 2013, saya cukup puas karena bisa liburan selama 2 minggu untuk mudik. Meskipun akhirnya jadi bokek, tapi semuanya terbayar karena bisa kumpul bersama keluarga di Malang, Kudus, Surabaya, Jakarta dan Bandung. What a fun roadshow !

Sebelum menyusun resolusi tahun 2014, saya ingin kilas balik alias review apa saja yang terjadi di tahun 2013 lalu.

- Beli gadget Android yang dicicil 12x, akhirnya lunas juga akhir tahun 2013 lalu wakakaka.... lumayan mengurangi beban tagihan kartu kredit.

- Udah belajar nyetir mobil di Jakarta, tapi setelah nyobain keluar beberapa kali terus trauma dan berhenti total. Sekarang jadi kagok lagi, padahal udah setaun sejak punya mobil... hixx... menyedihkan.

- Dapat kesempatan ke Australia. Yeahh.... perjalanan pertama saya keluar negeri. Saking excited-nya, duit tabungan langsung ludes buat jalan-jalan ke Melbourne juga, maruk dot com hahaha....padahal destinasi yang ditentukan cuma Sydney doank !

- Dalam perihal kerjaan, gaji tahun 2013 naiknya lumayan dikarenakan efek kenaikan upah buruh dan peningkatan omset export. Meski demikian, kenapa pengeluaran juga berbanding lurus ama penghasilan ya ?? Terbukti dengan tagihan kartu kredit yang juga meningkat signifikan T__T

- Masih dalam hal kerjaan. Kalau tahun lalu saya masih meneruskan proyek-proyek peninggalan jaman lampau, tahun ini perusahaan sudah meluncurkan proyek yang saya handle dari NOL. Senangnya....langsung deh update CV LinkedIn sebagai "Key Achievement" hahahaaa....beberapa bulan kemudian, beberapa telepon dari perusahaan lain menawarkan interview, tapi ntah kenapa saya masih menikmati comfort zone ini, dan masih cinta ama perusahaan ini. Apakah loyalitas saya mulai terbentuk ??? Kalau teman saya tahu, bisa dihujat abis-abisan saya karena loyal !!
Meet Colleagues from Australia : Mike, Vincent, MJ, Dwayne, Craig
 
Christmas Pict @Central Park Mall, small gift from Craig

- Mulai ngegym untuk melatih pernapasan dan kekuatan jantung, tapi setelah beberapa bulan kok kayaknya gak ngefek yah ?? Meski demikian, saya harus tetap rajin datang minimal sekali seminggu, kalo gak...bisa disantet sama suami saya yang udah susah-susah bayarin hihihiiii....

- Bisa liburan bareng mami mertua, mami, papi, adek-adek ke Jakarta dan Bandung dengan budget sendiri. Walopun saya belum mampu menopang kebutuhan hidup mereka, cuma ini yang bisa saya lakukan. Dan ketika mami saya bilang bahwa dia menikmati liburan ini, rasanya saya juga ikut senaaaanngg...makasih Tuhan Kau masih ijinkan kami berkumpul dalam keadaan sehat.

Ke Ciater liburan akhir tahun 2013, berkabut bangettt....

- Have fun bareng teman-teman kantor. Snorkling ke kepulauan seribu, outing di Garut, jalan-jalan ke Gading walk, Food Festival, dll... meski kadang sedih karena beberapa di antara mereka resign, tapi kenangan itu akan selalu ada *kok jadi kayak lagu ya ??

Snorkling with colleagues @ Kepulauan Seribu

 
 
Company Gathering 2013 @ Kampung Sumber Alam Garut


- Memulai baby program, yang mana membuat kantong kempes dan belum kelihatan hasilnya. Semoga saja di tahun yang baru ini, kisah "How I Met Your Father" bisa memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan :)

- Pindah ke apartemen baru. Awalnya saya sangsi bisa tinggal di tempat baru ini, tapi ternyata bisa *kalo dipaksain* dan saya lega karena ternyata jauh lebih menyenangkan daripada apartemen lama.

Di awal tahun 2014 ini, saya ingin menetapkan beberapa resolusi yang, meskipun belum tentu terwujud tapi bisa jadi motivasi karena ada target untuk dicapai :)

- Meningkatkan saldo tabungan untuk : melunasi kredit mobil, investasi, bantuan modal usaha orang tua, kuliah S2 desain.

- Meneruskan baby program ke tahap lebih lanjut.

- Berani nyetir mobil sendiri ke mana-mana.

- Menyelesaikan salah 1 novel dan kirim ke beberapa penerbit


Selamat berjuang kawan !


Thursday, 17 October 2013

I Failed

Saya nggak sadar kalau ternyata tanggal 7 September 2013 kemarin, lomba menulis 7 deadly sins udah diumumin 20 besar karya terbaik, dan tanggal 7 Oktober 2013 akhirnya terpilih 7 pemenang utama.

Memang sih saya gak terlalu berharap banyak bakal menang mengingat ini pertama kalinya saya bikin cerita panjang, saya pikir saya akan cuek-cuek aja mengetahui karya saya gak masuk ke daftar itu, tapi ternyata ada sedikit rasa kecewa *ya iyalahhh...hello ?

I failed.

Sudah bertahun-tahun saya lupa rasanya ikut kompetisi dan gagal.
Sekarang jadi ingat lagi, waktu SD hampir setiap minggu ikut lomba gambar, kalo menang dapet piala ya syukur, kalo gak ya udah. Minggu depan akan ada kompetisi lain.

So...

Kayaknya saya HARUS KUDU SHOULD MUST beli novel Indonesia deh....
Kalo dipikir-pikir, saya hampir ga punya satu pun novel asli Indonesia, semuanya novel terjemahan, gimana bisa menguasai medan perang dan menang ???

My next project should be better than this :)

Sunday, 14 April 2013

Writing Competition 2013

Setelah sekian lama nggak pernah ikutan kompetisi lagi, baik kompetisi menggambar atau menulis, akhirnya tahun ini saya nekat ikutan kompetisi lagi. Padahal dari segi waktu bisa dibilang sudah mepet banget, and very close to deadline !!!

Saya sudah setengah jalan, kira-kira sampai halaman 80an ketika akhirnya menyempatkan diri untuk browsing mengenai pemenang kompetisi tahun lalu, terus melihat-lihat video promosi - bahkan video untuk kompetisi tahun ini sudah ada yang upload ! - tiba-tiba saya merasa down.

Saya merasa alur cerita saya biasa saja, penggunaan frase dan kata tidak apa adanya, penggambaran karakter dan tokoh-tokoh di dalamnya kurang dalam, begitu juga dengan emosi yang ingin disampaikan. Singkat kata, tulisan saya sangat kurang dalam hal kualitas.

Yah, bukan berarti saya menyerah setelah menghabiskan berjam-jam di depan komputer dan kurang tidur selama berhari-hari. Karena sudah terlanjur nyemplung, lebih baik saya basah sekalian.

Mungkin ini kedengaran sangat pesimis, seperti demam panggung, galau !

Satu-satunya hal optimis yang bisa saya pikirkan adalah :

Kalo nggak menang, ya udah diperbaiki lagi dan kirim ke penerbit lain yang lebih ecek-ecek.
Mungkin kita bisa belajar dari karya para pemenang, untuk jadi lebih baik lagi.

Lebih baik kalah daripada tidak berani mencoba !

Arrghhh, aku galaw, CIYUS!!!!!

Monday, 18 March 2013

My Novel Progress

Hulalaaa....
setelah sekian lama, akhirnya saya mulai nulis proyek impian lagi dan baru memasuki bab III.
Saya juga mengubah setting waktu dari tahun 1921 menjadi 1931.
Hal ini disebabkan karena di Malang, sepertinya AMS (Algemeene Middelbare School) baru didirikan pada akhir tahun 1930an.

Ini dia sneak peak-nya, saya mendapatkan referensi kosa kata Belanda ini dari buku Kwee Thiam Tjing dan google translate. Sudah pasti yang dari Google translate grammarnya kacau. I need Steven, my relative from Belgium, semoga saja dia menjadi penerjemah saya, secara bahasa Belanda Belgia belum tentu sama dengan bahasa Belanda asli....ataukah sama ???!! ntahlah....

Lalu kami berdua menertawai Marco sampai terbahak-bahak, padahal tidak ada yang lucu dari kejadian itu. Dan Marco pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Albert kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat dan mengatakan,

”Jij een…chinees, kunnen we vriend ?”
 
Aku sempat bingung dan tidak tahu harus jawab apa, tapi aku balas saja jabat tangannya dan mengangguk. Albert menjabat tanganku dengan mantap dan mengangguk juga, “Dan zijn we vrienden, ehh…..naam ?”

"My name is Khan"


Boong dink kalimat yang terakhir ini, cuma buat ngeles aja gamau kasi bocoran nama tokoh utamanya.
Intinya di bab III ini ketambahan 1 tokoh baru si sinyo Londo.


Friday, 2 November 2012

Candy-Candy itu Jodohnya Albert. TITIK.

Hayooo....angkat tangan, siapa angkatan anak SD tahun 1995 yang gak tau atau gak pernah denger Candy-Candy sama sekali ???

Candy-Candy adalah salah satu komik favorit saya, dan setiap kali baca komiknya, saya PASTI nangis! Saya benar-benar menyesal ketika komik Candy-Candy dijual sepaket dari seri 1-9 kenapa tidak saya beli ketika saya kelas 5 SD, saya malah beli serial Mari-Chan.
Huaaaa....stupidddd....
Sedangkan animenya sempat diputar di RCTI sekitar tahun 1994-1995 yang membuat Candy-Candy booming di kalangan anak cewek Indonesia. Bahkan tidak sedikit juga anak cowok yang tertarik.
Namun sayang sekali, karena masalah sengketa hak cipta antara pengarang ceritanya, dan ilustrator alias mangaka-nya, maka komik Candy-Candy ini tidak dipublish ulang.
Namun, karena kongkalikong antara mangaka-nya dan salah satu perusahaan TV Taiwan, anime Candy-Candy sempat dirilis dalam versi CD/DVD. Sayangnya saya cuma punya sampai season 2 ketika Candy-Candy bekerja sebagai perawat. Sampai saat postingan ini ditulis, saya belum dapet yang season 3.

Yang bikin saya geregetan adalah.....
Perhelatan di dunia maya mengenai ending Candy-Candy yang menggantung.

YA ! Pada bagian ending-nya, diceritakan Candy-Candy akhirnya bertemu dengan Paman William yang selama ini membantu dia mengatasi kesulitan, dan dia ternyata adalah cinta pertama Candy yang ditemui di bukit poni, yang disebut Candy sebagai "Pangeran Bukit Poni" dan juga adalah sahabat Candy yang suka berkelana, Albert.

Pangeran Bukit Poni = Albert = Paman William

Kalau dipikir secara logika, biasanya, cowok yang pertama ditemui di awal cerita dan meninggalkan kesan lalu muncul lagi di bagian ending secara mengejutkan, berarti cowok tersebut dimaksudkan si pengarang cerita sebagai JODOH dari si pemeran utama cewek.

Meski demikian, karena endingnya hanya diceritakan sampai terungkapnya jati diri Paman William, tanpa memberikan hint kepada siapa Candy akan melabuhkan cintanya, para penggemar Terrence Grandchester bersikeras bahwa Candy akan tetap jadian dengan mantannya itu.

Urrghh.......
sebenarnya saya cuma pengen menumpahkan uneg-uneg dan kengototan ini kepada penggemar Terry Grandchester, karena malas bergabung ke forum-forum ga jelas, lebih baik saya tumpahkan di blog saya sendiri.

Pokoknyaaaaaa..

CANDY WHITE + WILLIAM ALBERT ARDLEY

tidak boleh ada interupter lain, apalagi si nyebelin Terry. Biarin Terry ama si Suzanna, biar Candy berbahagia dengan cinta pertamanya yang selalu ada kapan pun dan di mana pun dia membutuhkan dukungan.
Namanya juga jodoh. Gak akan ke mana.

Masih belum percaya juga kalau Candy & Albert adalah SOULMATE ????

Mari kita telusuri perjalanan Candy :

1. Saat Candy sedih karena tak seorang pun menginginkan dia sebagai anak angkat, dia bertemu dengan Pangeran Bukit Poni (aka William Albert Ardley) yang memberi dia keberanian untuk berharap dan terus bermimpi. Saat itu Candy kecil menganggap sang pangeran adalah cinta pertamanya.

2. Enam tahun kemudian, saat Candy berumur 12 tahun dan pertama kali bertemu dengan Anthony Brown, yang dia ingat pertama kali adalah Pangeran Bukit Poni, cinta pertamanya. Tidak heran, karena Anthony adalah keponakan Albert yang memang sangat mirip dengannya. Anthony bahkan sempat cemburu dengan Pangeran Bukit Poni yang selalu diceritakan Candy.

3. Saat Candy hendak dijual sebagai budak ke Mexico oleh keluarga Regan, ia secara tak sengaja bertemu dengan Albert (aka William Albert Ardley) yang saat itu sedang menyamar sehingga tak seorang pun mengenali dia. Dia mengenakan wig coklat, padahal rambut aslinya pirang. Dan mengenakan jenggot palsu, sehingga tampak tua. Padahal aslinya masih muda dan gantenggggg......

4. Saat Candy hidup terlunta-lunta karena perlakuan keluarga Regan, Paman William (aka William Albert Ardley) dengan bantuan 3 bersaudara sepupu Anthonny, Archie, dan Stea mengangkat Candy sebagai putri keluarga Ardley. Konglomerat di Chicago. Di sini, Paman William digambarkan sebagai "Paman Kaki Panjang" yang dengan misterius selalu membantu Candy.
Karena tak seorang pun tahu jati diri William, kecuali si nenek Elroy, semua orang termasuk Candy mengira William adalah seorang lelaki tua kaya yang baik hati dan tidak tertarik bersosialisasi. Padahal William sebenarnya adalah seorang pemuda yang baru beranjak dewasa dan kaya karena dapat warisan, namun lebih suka berkelana dekat dengan alam sehingga dia menyerahkan urusan tetek bengek kepada nenek Elroy dan cuma memberikan instruksi jika keadaan urgent.

5. Paman William menyekolahkan Candy ke St. Paul, di mana ia bertemu dengan Terry Grandchester dan saling jatuh cinta. Sayang (walaupun sebenarnya tidak), kisah mereka tidak bisa berlanjut karena adanya pihak ketiga, Suzanna Marlow. Yahhhh....namanya juga gak jodoh, relain aja deh wahai penggemar Terry. Say bye-bye to Terry.

6. Candy memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah perawat. Di mana pada suatu ketika, ia bertemu dengan Albert yang lupa ingatan. Mereka bahkan sempat tinggal dalam sebuah rumah yang sama alias KUMPUL KEBO, dan menjadi bahan gosip orang. Candy saat itu mungkin hanya menganggap Albert sebagai "kakak" karena ia masih menyimpan rasa sayang pada Terry. Namun berbeda dengan Albert, justru rasa sayangnya pada Candy mulai tumbuh saat ia menjadi orang lain yang lupa ingatan. Rasa sayang Albert kepada Candy saat itu murni dan tulus, ketika ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Saat Albert mendapatkan ingatannya kembali, ia pergi dengan diam-diam sambil meninggalkan surat terima kasih pada Candy karena telah merawatnya.

6. Candy dan Terry akhirnya menyadari satu sama lain bahwa mereka tidak mungkin bisa bersama lagi, bagaimana pun rasa sayang itu masih ada. Kisah mereka adalah kenangan manis masa muda. Namun kenyataan yang berbicara lain memaksa mereka untuk bersikap dewasa atas pilihan mereka masing-masing. Sekalipun pilihan itu diambil secara terpaksa. Terry yang hancur-hancuran karena putus asa memutuskan untuk kembali melangkah dan berusaha meyayangi Suzanna, Candy juga memutuskan untuk tidak lagi menemui Terry dan berniat melupakannya.

7. Kisah Candy dan Terry yang menggambarkan kisah masa muda Candy berakhir. Lalu babak baru pun dimulai, babak di mana Candy menuju kedewasaan. Di mana ia kembali ke bukit poni, ke tempatnya berasal. Dan di saat inilah, di awal babak baru, jati diri Pangeran Bukit Poni, cinta pertama candy, yang sejak awal sengaja disembunyikan oleh pengarang, DIUNGKAPKAN. Dan dia adalah....jeng...jeng..jeng....
ALBERT !!!!!

Jadi, sekali lagi saya tegaskan dengan NGOTOT bahwa,

CANDY adalah jodohnya PANGERAN BUKIT PONI
CANDY adalah jodohnya ALBERT
CANDY adalah jodohnya PAMAN WILLIAM


 
Tuuuhh kannnn....adegan endingnya menyentuh banget, tiap kali baca langsung berkaca-kaca

Candy & Albert FOREVER

Thursday, 20 September 2012

September Books Review


Sebenarnya buku-buku ini sudah saya beli pada awal Juli lalu, tapi karena saya bacanya cuma sebentar-sebentar, atau kalo pas lagi pup di WC aja jadi selesainya lama. Bahkan buku yang judulnya "Rumah Arwah" aka The House of Spirit belum sempat saya baca karena baru-baru ini saya beli buku Memoar Kwee Thiam Tjing dan buku ke-4 tetralogi Inheritance yang pastinya lebih menarik untuk dibaca. Heheee....

The Spiderwick Chronicle

Ini nih buku jadul yang bioskopnya mau diputar di Surabaya beberapa tahun silam sebelum saya hijrah ke Jakarta, udah lama banget ya ? Waktu itu saya ingat banget pengen nonton Freddie Highmore yang nampak cute di diorama-nya. Alhasil setelah saya kelar baca novelnya, saya langsung minta suami donlotin film ini karena penasaran. Ternyataaaaa......filmnya jelek, aktingnya si Freddie juga pas-pasan kalo gamau dibilang jelek, cuma modal tampang doank imut. Kuciwaaa deh saia.....
Jadi, novel fantasy ini modelnya mirip kayak Narnia, mungkin juga pengarangnya dapet ide dari sana. Tokoh utama cerita yang hidup di dunia nyata berhubungan langsung dengan dunia gaib peri-peri dan makhluk ajaib di sekitar mereka. Plot cerita dibangun dengan sangat cerdas dan unik oleh Holly Black disertai ilustrasi menarik oleh Tony Diterlizzi sehingga membuat pembaca (saya) gak sabar untuk segera menyelesaikan ke-5 serinya.


The Story Girl


Pemeran utama dalam novel ini adalah anak-anak berusia belasan tahun dengan segala problema khas anak. Topik yang diangkat pada tiap bab pun rasanya ringan dan ceria, sesuai dengan emosi yang ingin dibangun oleh L.M.Montgomenry tentang romantisme dan keindahan pulau Prince Edward di musim panas dan musim gugur. Pengarang cewek itu tidak pernah membiarkan dirinya lupa menggambarkan betapa indah padang rumput, kebun buah, hutan mapple, gunung, lembah, bukit, tempat bermain, hutan, dan kebaikan hati orang-orang di Carlisle.
Saya ingin sekali bisa menceritakan keceriaan masa kanak-kanak yang begitu antusias dan penuh impian serta semangat dalam karya fiksi saya seperti yang sukses dilakukan L.M.Montgomery.


Nobody's Boy


"Slamat pagi pohonku...slamat pagi gunungku...slamat pagi teman-teman semuaaa....Aku kan pergi jauh demi cita-citaku, Remi mohon doa restu darimuuu...Jangan bersedih teman-temanku, hidup ini adalah perjuangan...marilah kita mulai melangkah, menuju cita-cita bahagiaa...."
Ya ampunnn, saya gak nyangka masih inget bagian lagu pembuka anime "REMI" yang ditayangkan RCTI setiap hari minggu pada tahun 1995, film animasi 3D pertama yang katanya kalo nonton kudu pake kacamata 3D, tapi meski udah saya pake, kayaknya itu efek 3D ga terlalu nampol hahahahaa....jaman dulu :D
Seperti yang sudah saya duga, membaca novel ini juga bisa membuat saya mencucurkan air mata, sama seperti ketika nonton anime-nya. Memang novel ini saya lahap dalam waktu sekejap dibanding ketika membaca The Story Girl, itu karena Hector Malot bisa menceritakan kisah dengan realistis dan mengalir apa adanya. Tapi ada poin minus dalam plot cerita ini, yang membuat aura jadulnya sangat terasa, yaitu kebahagiaan yang ditemukan dalam gelimangan harta. Yeahh..cinderella boy. Sang tokoh utama si Remi ternyata anak orang kaya, dan setelah penderitaan yang begitu panjang, ia bertemu dengan ibu kandungnya yang ternyata janda kaya, dan Remi adalah salah satu pewaris kekayaannya. Klise banget kan ?? Emangnya kalo udah kaya terus ga ada masalah yah ?? Untungnya Remi adalah anak yang baik, jadi meskipun kaya, dia tetap ingat sama orang-orang yang membantunya semasa masih miskin, dan dia nyumbangin duitnya buat mendonasi anak-anak pemusik jalanan.
Kalo alternate ending di animenya yang saya browsing di youtube, setelah Remi menemukan ibu kandungnya, ia tetap memutuskan untuk berkelana bersama sahabat sejatinya Mattia menjadi pemusik jalanan dan belajar mengenai kehidupan. Nahh...yang ini lebih mending. Para penulis script anime yang notabene adalah orang-orang modern mungkin berpikir, "so what kalo lu udah kaya ? it is not a fairy tale yang mesti berakhir di dalam istana jadi pewaris tahta dan gak ngapa-ngapain."



Menjadi Tjamboek Berdoeri


Ini adalah memoar tentang Kwee Thiam Tjing, seorang jurnalis yang aktif di tahun 1920-1930an dan pernah menulis buku Indonesia Dalam Bara & Api yang cukup fenomenal karena menuturkan pembantaian puluhan warga etnis Tionghoa di Malang.
Saya mengetahui buku ini dari suatu blog ketika browsing tentang Malang Tempo Doeloe dan cukup tergelitik untuk membacanya.
Gaya bahasa Thiam Tjing menurut saya cukup unik, karena meskipun ia mengangkat topik yang cukup serius, dia bisa menuturkannya dengan sesuatu yang lucu dan menggelitik. Entah bagaimana saya harus menyebutnya...Yang jelas saya cukup sering tertawa sendiri ketika membaca ulasan beliau mengenai perbedaan perlakuan yang diterima Inlander dan Nederlander,  atau ketika cowok-cowok ABG MULO menggoda cewek-cewek ABG Cor Jesu lalu disiram air oleh suster, atau sindiran si pemilik toko kebangsaan Jepang yang barangnya dianggap murahan, atau ketika rakyat Indonesia sama-sama meneriakkan "BANSAIIII" meski mereka tidak tahu artinya.
Saya membaca buku ini secara random, tidak urut dari depan ke belakang, sehingga masih banyak bagian yang belum sempat saya baca. Tapi saya jadi punya sedikit gambaran bahwa kondisi yang ingin saya tampilkan dalam literatur bebas saya ternyata tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masa lalu, di mana kebebasan sangat mahal harganya.


Inheritance


Ini buku ke-4 Inheritance karya Christopher Paolini dan merupakan buku terakhir dari petualangan penunggang naga Eragon dan naganya Saphira. Ketika membaca beberapa bab di depan, saya sudah merasa bahwa buku ini jauh lebih menarik daripada buku ke-3 nya BRISINGR yang cukup membosankan dan bertele-tele.
Menurut teman saya, di seri terakhir ini cukup banyak adegan pertarungan ala abad pertengahan yang menegangkan, tentu saja karena di seri ini tokoh-tokoh utama harus menghadapi The Final Boss Galbatorix.
Lupakan tentang filmnya yang busuk, cukup nikmati saja petualangan Eragon dan Saphira di setiap lembarnya.


Next Book To Read....
The House Of Spirit, Peranakan Tionghoa di Nusantara, Candu Tempo Doeloe

Aduhhh, kapan yah bacanya ?! kebiasaan buruk saya adalah tidak dapat menahan diri dari godaan iman kalo lagi di toko buku, apalagi kalo kartu kreditnya masih ada saldo T__T
Buku lama belum kebaca, udah beli buku baru lagi >_<


"Jangan biarkan saya berkeliaran sendiri di toko buku atau saya akan kembali tanpa tangan hampa...."

Friday, 24 August 2012

Resep Sebuah Masterpiece

Belakangan ini, salah satu kesibukan saya adalah menulis.
Akhirnya saya memberanikan diri juga menulis sebuah karya panjang, meski ketidakpedean pastilah datang merayap.
Di antara beberapa ide yang sudah bermunculan, ada dua yang paling menonjol.

Yang satu berbentuk saga atau chronicle, seperti narnia, berjumlah 7 seri. Entah kapan saya bisa mewujudkannya menjadi sesuatu yang berarti daripada sekadar ide antah berantah.

Yang satunya lagi, adalah gabungan tema-tema dan ide yang sebelumnya pernah saya tulis. Dari tulisan pendek itu, hanya tinggal dikembangkan melalui penambahan karakter dan jalan cerita supaya lebih kompleks. Saya berencana menjadikan yang satu ini sebagai debut (Cieilee....gayanya bo' belum tentu juga ada yang mau nerbitin heheheheeee....)

Oke, ide sudah ada.
Plot dan kerangka sudah dibuat, meski harus disesuaikan lagi sambil jalan.
Lalu saatnya merangkai kata demi kata, menjadi bab demi bab.
Astagaaa....ternyata gak gampang.

Menurut plot yang saya buat, buku ini nantinya akan berjumlah 18-19 bab dengan total halaman 150. Jika 150/19 maka seharusnya per bab sepanjang 8 halaman A4 dengan font Times New Roman spasi 1,5.
Kesulitan yang paling nyata saya temui adalah merangkai percakapan. Saya selalu merasa percakapan yang terjadi kurang natural.
Seandainya dialog itu diucapkan anak berusia 10 tahun, saya selalu merasa tidak seharusnya anak sepuluh tahun mengeluarkan statement seperti itu.
Atau ketika percakapan terjadi di antara orang dewasa yang hidup pada awal abad ke 20, saya tidak punya bayangan bagaimana mereka saling bertukar pikiran.
Pokoknya, saya selalu merasa, dialog antar karakter kurang pas.
Mungkin ini bisa dikesampingkan dulu, dan menunggu suatu hari nanti apa pendapat editor.

Kesulitan lain adalah informasi mengenai latar belakang. Yep !!
Saya harus mengumpulkan banyak informasi untuk menggambarkan suasana dan kondisi pada saat cerita saya sedang berlangsung.
Saya tidak yakin ketika menuliskan jarak antara rumah karaker satu dengan karakter lainnya di kota Malang pada tahun 1920. Ke mana kendaraan mereka harus belok, atau di mana letak bangunan ini dan itu.
Memang ada sedikit informasi dari sebuah blog, tapi kurang detail. Seandainya saya punya bukunya Dukut Imam, "Malang Tempo Doeloe" mungkin sedikit membantu.
Untuk mempelajari sedikit gaya bahasa tempo dulu, saya beli juga buku Memoar Kwee Thiam Tjing. Tapi sepertinya tidak mungkin menulis percakapan dengan gaya jadul seperti itu, pembaca pasti akan pusing dan malas baca. Maka saya putuskan untuk menulis dengan gaya bahasa yang modern, sebenarnya untuk memudahkan saya juga heheheheeee......

Jadi dari pengalaman di atas, kesimpulan yang bisa saya tarik adalah :

IDE + SKILL = MASTERPIECE

Ide yang brilian harus bisa diwujudkan dengan skill yang mumpuni untuk menghasilkan suatu maha karya.
Dan meski ide saya yang gak brilian-brilian amat cukup membuat saya puas, tapi skill saya benar-benar melempem.

Oke, saatnya sneak peak membaca salah satu dialog yang terjadi dalam karya saya. Kalimat ini saya persiapkan untuk membangun emosi romantis pembaca akan harapan dan cita-cita masa kecil. Tapi asal tahu saja, bahwa dialog ini terjadi di antara anak berusia 9 tahun dan 12 tahun. Karena masih off the record, nama karakternya akan saya ganti dengan AAA dan BBB. Mungkinkah anak yang hidup di tahun 1921 dengan pendidikan ala kadarnya bisa berujar seperti ini ??

“Aku bercita-cita menjadi jurnalis suatu hari nanti. Kau tahu jurnalis ? Kurasa tidak. Jurnalis adalah orang yang bekerja di surat kabar dan membuat berbagai berita agar orang lain tahu.”

“Apa cita-cita itu sama dengan impian ?” tanya AAA penasaran.

BBB mengangguk, “Bisa dibilang begitu. Kau berharap dewa mau membantumu bisa membaca dan menulis. Apa yang akan kau lakukan jika semua itu sudah terwujud ? Pasti kau juga punya cita-cita. Jika kau mau terus menjadi buruh pencuci botol, kurasa kau tidak akan punya tekad sekuat itu untuk bisa membaca dan menulis.”

SKIP. SKIP. SKIP.

“Saya menebak usia pohon ini lebih tua daripada makam ini. Dan ia selalu berdiri tegak di puncak bukit tanpa bergerak sedikit pun memandang ke segala penjuru di bawah sana. Kalau ia bisa bercerita, pasti ia punya kisah-kisah hebat yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah hari dalam kehidupan saya. Saya ingin sekali bisa mendengar kisah-kisah hebat. Kelak jika saya sudah lancar membaca dan menulis, saya akan menuliskan semua kisah-kisah itu agar tidak hilang ditelan masa,” AAA menoleh pada BBB, “Apakah seorang jurnalis akan seperti itu BBB ? Menuliskan kisah-kisah hebat agar dunia tahu ?”

Mungkinkah anak kecil bisa membuat metafora seperti itu ??
Anak kecil dalam novel bisa saja :D