Showing posts with label job. Show all posts
Showing posts with label job. Show all posts

Saturday, 5 April 2014

Soft Opening Kasoetkoe Online Shop


Segenap kru "Fly Me to My Dream" mengucapkan :

"Selamat dan Sukses ! Atas dibukanya website Kasoetkoe Shop"


wakakakaaa....lucu juga yah kalo dikasi selamat, berhubung kru fly me to dream itu sama dengan kru kasoetkoe Shop.
Ini dia penampakannya :


 Tampilan halaman katalog Kasoetkoe

Yap, ini adalah proyek "serius" pertama suami dan saya sebagai salah satu usaha mencari duit tambahan. Seperti biasa, suami saya selaku webmaster mendevelop website menggunakan bahasa pemrograman PHP, sedangkan saya yang utak-atik desainnya seperti penciptaan logo, theme warna, dan general layout.

Sebenarnya, saya kurang puas dengan hasil desain ini, karena bikinnya diburu waktu, jadi agak cepet-cepetan. Dan, kalau saya bikinnya kelamaan, suami saya yang inisiatif sendiri melayout-nya :)

Bagi saya, website ini memiliki nilai lebih selain sebagai pencari duit tambahan. Website ini merupakan pilot project untuk usaha-usaha online lainnya di masa depan, itung-itung belajar untuk persiapan kemerdekaan sebagai karyawan kantoran.

Website ini merupakan versi 1 sebagai generasi pertama yang dilaunching. Versi 1 ini belum memiliki fitur "Log In" dan "Keranjang Belanja" sehingga customer harus membeli secara manual melalui email/sms/chat. Karena belum memiliki database terintegrasi, sulit untuk melihat histori dan sebagainya. Nanti rencananya akan ada versi 2, pengembangan lebih lanjut dari versi 1 di mana pembeli harus log in sebagai member untuk mendapatkan poin plus-plus yang bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik.

Setelah websitenya jadi, sekarang saya harus mikirin strategi pemasarannya, business development, supply chain management, customer relationship management, kayak yang pernah saya bahas dalam tugas mata kuliah e-business saya di blog ini :

Tapi kok kayaknya itu idealis banget yah....apa lebih baik saya mulai dari yang simplicity dulu ??
Tapi kalo membatasi diri begitu, sepertinya kita membiarkan diri kita untuk manja dalam berkembang lambat...

Tertarik untuk membuat website sederhana Online Shop Anda ?
Jangan ragu menghubungi kami, karena kami juga menyediakan jasa pembuatan website + design dengan harga terjangkau !
*ngiklan dulu hahahaa...

Silakan dikunjungi yah...boleh...silakan.....Om Tante Mbak Mas...

Jangan lupa "Like" Facebooknya dan "Follow" twitternya buat naikin traffic.

Makasih.
Suwun.

Monday, 17 February 2014

FOREX, New Acquaintance of Mine

Berawal dari kunjunganku ke pameran properti di JCC minggu lalu, rasanya ngiler banget liat rumah-rumah berharga murah (yang sekitar 200 jutaan), yang cicilannya 2 jutaan. Pengen beli, terus dijual lagi buat modal rumah yang lebih besar, tapi apa daya cicilan mobilnya belom kelar. Ditambah lagi bayar kontrakan yang sebulan sekitar 3 jutaan. Kalo misalnya berandai-andai nih, cicilan mobil dan biaya kontrakan dipangkas, kami yakin mampu bayar cicilan rumah yang harganya 400-500 jutaan. Kalau misalnya bisa beli rumah harga segitu, aku juga pengen jual lagi dan beli yang lebih gede lagi hahahaaaa..... salah siapa, rumah-rumah idaman yang di brosur-brosur itu harganya berkisar 700 juta ke atas.

Permasalahannya sekarang adalah "CONDITION".

Aku kan cewek.
Cita-citaku pengen kerja dari rumah tanpa harus meninggalkan anak-anak. Atau kalau misalnya pun harus kerja, pengennya yang waktunya fleksibel. Mau nawarin aku kerja macam MLM ? PLease no....that's not my type. Aku yakin di luar sana masih banyak hal yang bisa menghasilkan uang selain
MLM.

Saat ini, aku masih belum punya anak, dan masih jadi karyawan berlevel staff. Level staff ini dilihat dari tingkat ke-stress-an tergolong dalam kelas menengah, karena itu wajar jika gajinya juga masuk dalam kelas menengah alias pas-pasan. Belum lagi kalau staff tersebut gak punya passive income alias cuma ngandelin gaji bulanan doank. Kemajuannya dalam memiliki berbagai aset pasti lambat.

Sebagai seorang yang gampang bosen dan jenuh terjebak dalam rutinitas, membayangkan akan bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore - belum termasuk perjalanan dari rumah ke kantor - selamaaa......katakanlah selama membayar cicilan rumah alias 15 TAHUN, adalah sebuah mimpi buruk bagi aku.

Timbul pertanyaan-pertanyaan :

Nanti siapa yang urus anak-anakku ? Baby sitter ?
Baby sitter jaman sekarang apa bisa dipercaya ditinggalin seharian ?
terus ntar anakku apakah bakal menganggap baby sitter itu emaknya ??
kalau aku jadi ibu rumah tangga, siapa yang bakal bantuin suami bayar cicilan rumah, baby sitter, bensin kendaraan, listrik, air, susu bayi yang sebulan bisa ngabisin 2 juta lebih ?
Gimana aku bisa jadi ibu rumah tangga dengan penghasilan yang sama seperti seorang karyawan ?


Hmmm....mari kita berhitung !

Katakanlah penghasilan seorang karyawan adalah 6 juta.
Upss....jangan 6 juta, ntar kurang motivasi, lebih baik kita buat lebih tinggi karena gaji karyawan kemungkinan naik sampai 35% toh tiap tahun ?
Baik, katakanlah gaji karyawan level staff 7,5 juta.
7,5 juta dibagi 22 hari kerja = sekitar 340 ribu
Biar makin termotivasi, mari bulatkan ke atas menjadi 350 ribu.

Tiga ratus lima puluh ribu rupiah per hari !

Apakah menurutmu jumlah tersebut banyak ???
mungkin saat kamu masih jomblo, atau belum punya anak, kamu akan menjawab iya.
Tapi sebetulnya TIDAK.

Dengan effort 5 hari seminggu, minimal 8 jam sehari, jumlah tersebut bisa dibilang KECIL.
Apalagi inflasi tiap tahun ga berbanding lurus dengan kenaikan gaji seorang karyawan. Pasti makin lama, kebutuhan-kebutuhan makin sulit dijangkau, padahal secara naluri manusia tuh pasti ingin berkembang dan kebutuhan serta keinginannya makin banyak.

Bandingkan dengan orang yang buka warteg !

Saya yakin seyakin-yakinnya, penghasilan mereka sehari bisa mencapai jutaan (NB: kalau laris)
Jadi, buat apa bangga jadi karyawan level staff ?
Mendingan buka warteg kan ?

Masalah lain untuk buka warteg ini juga ga gampang loh.
Seorang enterpreneur pasti dituntut untuk kreatif, kerja keras, pantang menyerah, pokoknya syarat PEJUANG TAKESHI deh !

Jika kita belum mau membakar perahu kita bernama "PEGAWAI KANTORAN",
totalitas untuk menjadi enterpreneur BELUM BISA DILAKUKAN.

Terus gimana donk ?

Pernah liat mobil-mobil mewah harga milyaran berseliweran di Jakarta ?
Pernah penasaran gak gimana mereka bisa dapet uang sebanyak itu ?
Bisa jadi mereka pengusaha sukses, bisa jadi mereka koruptor, bisa jadi
juga mereka pegawai TOP MANAGEMENT di perusahaan TOP GAIN REVENUE.

Tapi saya yakin 1 hal....
mereka semua adalah INVESTOR !

THEY DON'T WORK FOR MONEY, THE MONEY WORK FOR THEM.

oke, katakanlah hal penting semacam investasi itu sudah aku lakukan dari tahun-tahun kemarin. Tapi semua itu adalah long term investment. Imbal hasilnya tidak bisa aku rasakan dalam waktu dekat. Dibutuhkan 3 atau 5 atau bahkan 10 tahun untuk menikmati hasilnya. Sedangkan kondisiku saat ini mengharuskan aku bergerak cepat. Masak aku berdoa siang malam tiap hari memohon dikaruniai seorang anak, tapi masih belom bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas ?
I feel so stupid and silly then....

Jadi, aku mulai bertanya-tanya sama adekku, YES my little brother, yang masih ababil dan baru saja berusia 18 tahun itu mengenai seluk beluk forex.

Sejak kuliah di finance, dia mulai tertarik dengan yang namanya cari duit. Entah itu jadi broker properti, MLM kosmetik, sampai belajar forex. Di antara semua coba-coba yang dia lakukan, ternyata dia paling serius menekuni bidang forex. Selain karena dia juga dilatih oleh seorang manager di perusahaan tempatnya latihan pakai virtual account, dia juga termotivasi untuk mendapatkan real account dan nasabah.

Kalau motivasi adek saya ini lain lagi.
Ya iyalah...hidup kan mesti ngikutin fase, masa baru umur 18 tahun udah disuruh mikir ngurus anak.
Jadi ceritanya, dia pengen banget beli mobil buat PDKT ke cewek-cewek.
Memang orang tua kami bukan tergolong orang yang mampu membelikan anaknya mobil buat kuliah. Boro-boro buat anaknya, buat dipakai sendiri aja kagak punya.

Terkadang agak keki juga kalo ke-ababil-an adekku ini lagi kumat. Kenapa sih jadi anak gak bisa ngerti kondisi orang tuanya yang lagi susah. Kerja banting tulang peras keringat buat bayarin dia kuliah, masih aja gak bersyukur.

Tapi kalau mau dipikir lebih lanjut lagi, aku gak bisa juga nyalahin dia 100%, lha wong tempat kuliahnya sekarang didominasi anak orang tajir. Sebagai seorang kakak yang open minded *ciehhh...* aku mikir kalo dia pasti mengalami yang namanya social pressure.
Ibarat San Chai di Universitas Ying De....wakakakakaa....

Karena itulah, dia  getol banget pengen cari duit sendiri, sebanyak-banyaknya, as soon as possible. Menunggu sampai lulus kuliah adalah SANGAT TERLAMBAT. Betul dik, jangan ikutin jejak kakak-kakakmu ini yang baru mikirin cari duit sejak lulusan. Walo sebenarnya pun, cari duit pada saat kuliah ini bisa menimbulkan ketidakfokusan. Terbukti dari IP adik saya yang ga nyampe 3, ampunnn dahh...ngelus dada !
Serba salah emang menghadapi anak ababil @_@

Sekian curcol saya hari ini.

Mari kita segera menuju TKP belajarforex.com dan menyongsong masa depan yang lebih baik.

Selamat berinvestasi.

NB: Beli juga bukunya Ellen May "Smart Trader Not Gambler" yang katanya
bagus buat trader pemula, saham ada forex juga ada.
*kok malah ngiklan ya?*

Thursday, 16 January 2014

Resolusi Tahun 2014

Segenap kru Fly Me to My Dream mengucapkan...
SELAMAT NATAL 2013 dan TAHUN BARU 2014
Terima kasih atas kesediaan pembaca aktif, pembaca silent, dan pembaca nyasar untuk meramaikan blog GAJEBO ini.

Semoga kalian semua semakin sukses dalam segala hal di tahun yang baru ini :)


Menutup akhir tahun 2013, saya cukup puas karena bisa liburan selama 2 minggu untuk mudik. Meskipun akhirnya jadi bokek, tapi semuanya terbayar karena bisa kumpul bersama keluarga di Malang, Kudus, Surabaya, Jakarta dan Bandung. What a fun roadshow !

Sebelum menyusun resolusi tahun 2014, saya ingin kilas balik alias review apa saja yang terjadi di tahun 2013 lalu.

- Beli gadget Android yang dicicil 12x, akhirnya lunas juga akhir tahun 2013 lalu wakakaka.... lumayan mengurangi beban tagihan kartu kredit.

- Udah belajar nyetir mobil di Jakarta, tapi setelah nyobain keluar beberapa kali terus trauma dan berhenti total. Sekarang jadi kagok lagi, padahal udah setaun sejak punya mobil... hixx... menyedihkan.

- Dapat kesempatan ke Australia. Yeahh.... perjalanan pertama saya keluar negeri. Saking excited-nya, duit tabungan langsung ludes buat jalan-jalan ke Melbourne juga, maruk dot com hahaha....padahal destinasi yang ditentukan cuma Sydney doank !

- Dalam perihal kerjaan, gaji tahun 2013 naiknya lumayan dikarenakan efek kenaikan upah buruh dan peningkatan omset export. Meski demikian, kenapa pengeluaran juga berbanding lurus ama penghasilan ya ?? Terbukti dengan tagihan kartu kredit yang juga meningkat signifikan T__T

- Masih dalam hal kerjaan. Kalau tahun lalu saya masih meneruskan proyek-proyek peninggalan jaman lampau, tahun ini perusahaan sudah meluncurkan proyek yang saya handle dari NOL. Senangnya....langsung deh update CV LinkedIn sebagai "Key Achievement" hahahaaa....beberapa bulan kemudian, beberapa telepon dari perusahaan lain menawarkan interview, tapi ntah kenapa saya masih menikmati comfort zone ini, dan masih cinta ama perusahaan ini. Apakah loyalitas saya mulai terbentuk ??? Kalau teman saya tahu, bisa dihujat abis-abisan saya karena loyal !!
Meet Colleagues from Australia : Mike, Vincent, MJ, Dwayne, Craig
 
Christmas Pict @Central Park Mall, small gift from Craig

- Mulai ngegym untuk melatih pernapasan dan kekuatan jantung, tapi setelah beberapa bulan kok kayaknya gak ngefek yah ?? Meski demikian, saya harus tetap rajin datang minimal sekali seminggu, kalo gak...bisa disantet sama suami saya yang udah susah-susah bayarin hihihiiii....

- Bisa liburan bareng mami mertua, mami, papi, adek-adek ke Jakarta dan Bandung dengan budget sendiri. Walopun saya belum mampu menopang kebutuhan hidup mereka, cuma ini yang bisa saya lakukan. Dan ketika mami saya bilang bahwa dia menikmati liburan ini, rasanya saya juga ikut senaaaanngg...makasih Tuhan Kau masih ijinkan kami berkumpul dalam keadaan sehat.

Ke Ciater liburan akhir tahun 2013, berkabut bangettt....

- Have fun bareng teman-teman kantor. Snorkling ke kepulauan seribu, outing di Garut, jalan-jalan ke Gading walk, Food Festival, dll... meski kadang sedih karena beberapa di antara mereka resign, tapi kenangan itu akan selalu ada *kok jadi kayak lagu ya ??

Snorkling with colleagues @ Kepulauan Seribu

 
 
Company Gathering 2013 @ Kampung Sumber Alam Garut


- Memulai baby program, yang mana membuat kantong kempes dan belum kelihatan hasilnya. Semoga saja di tahun yang baru ini, kisah "How I Met Your Father" bisa memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan :)

- Pindah ke apartemen baru. Awalnya saya sangsi bisa tinggal di tempat baru ini, tapi ternyata bisa *kalo dipaksain* dan saya lega karena ternyata jauh lebih menyenangkan daripada apartemen lama.

Di awal tahun 2014 ini, saya ingin menetapkan beberapa resolusi yang, meskipun belum tentu terwujud tapi bisa jadi motivasi karena ada target untuk dicapai :)

- Meningkatkan saldo tabungan untuk : melunasi kredit mobil, investasi, bantuan modal usaha orang tua, kuliah S2 desain.

- Meneruskan baby program ke tahap lebih lanjut.

- Berani nyetir mobil sendiri ke mana-mana.

- Menyelesaikan salah 1 novel dan kirim ke beberapa penerbit


Selamat berjuang kawan !


Monday, 10 June 2013

Apakah ini benar-benar VERTIGO ??

Senin, 3 Juni 2013
Saya jalan ke kantor, di tengah jalan, tiba-tiba mata saya berwarna-warni. Saya pikir itu karena silau kena sinar matahari saja.
Sesampainya di kantor, saya mendadak pusing tujuh keliling, mual, dan muntah2 di WC, persis seperti orang hamil.
Seandainya saja benar-benar hamil T_T, tapi waktu itu saya habis mens, jadi nggak mungkin kalau hamil. Siangnya karena sudah nggak tahan lagi, saya diantar pulang oleh teman kantor. Di rumah setelah minum obat muntah dan membaringkan kepala, I feel a lot better.

Selasa, 4 Juni 2013
Saya masih pusing-pusing dikit, tapi karena nggak parah saya tetap menjalani aktivitas seperti biasa

Rabu, 5 Juni 2013
Hari ini jadwal saya ke pabrik di Cibitung. Karena paginya macet, manager saya tidak ke kantor dulu melainkan langsung ke pabrik, dan saya di kantor harus mencari tebengan. Tebengan saya berangkatnya pagi banget, saya baru saja sampai kantor belum sempat beli sarapan, mereka sudah akan berangkat. Akhirnya saya ke pabrik tanpa sarapan secuilpun. Di mobil, saya merasa agak pusing, untunglah nggak sampai mabok darat. Di pabrik, biasanya staff kantor dapet catering yang lumayan enak, entah kenapa hari ini menunya amat sangat tidak enak, sehingga saya cuma makan beberapa sendok dan nggak habis. Perjalanan kembali ke kantor bersama manager saya terjebak macet pula karena kamisnya libur. Sungguh hari yang melelahkan. Sampai di kantor, saya nggak langsung pulang, tapi masih harus balas email-email, dll. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19:00.

Kamis, 6 Juni 2013
Meskipun ini hari libur, tapi saya nggak bisa bangun siang seperti biasa. Saya harus bangun pagi untuk menengok keponakan saya di Tangerang. Saya berangkat pukul 09:45 dan menuju daerah kebon kacang dulu untuk menjemput adik ipar saya. Pagi ini saya merasa mual dan kembung karena maag saya kumat. Tapi saya berusaha tidak hiraukan setelah minum obat maag.

Jumat, 7 Juni 2013
Setelah bangun pagi, baru beraktivitas 30 menit tiba-tiba saya merasakan gejala yang sama seperti hari Senin. Pandangan mata saya jadi warna-warni. Saya langsung duduk dan menimbang-nimbang apakah sebaiknya saya masuk kantor atau tidak, karena hari ini ada keperluan urgent berkaitan dengan pekerjaan saya. Akhirnya saya memutuskan tidak masuk karena takut muntah-muntah lagi di kantor, padahal maag saya belum sembuh benar. Nah sambil berbaring leyeh-leyeh dan pijat kepala, saya sempatkan meng-Whatsapp dan mem-BBM beberapa kolega untuk membantu menuntaskan urusan kerja. Benar saja, baru beberapa menit, gejala muter-muter itu pun muncul kembali disertai mual. Saya langsung menghentikan semua aktivitas chatting dan merem.

Setelah si eric pulang dari kantor, kami langsung ke dokter. Pertama maunya ke dokter praktek biasa aja, tapi akhirnya berakhir di UGD Siloam dan sama si dokter disuruh MRI scan.
Berhubung MRI scan ini mahal, sekitar 2.3 - 2.8 juta, si dokter menyarankan supaya saya nginep di RS saja supaya bisa klaim asuransi. Akhirnya kami pun setuju, karena selama ini saya belum pernah klaim asuransi, padahal selalu bayar tiap bulan.

Ahhhh, setelah sekian lama gak masuk RS, saya masuk RS lagi deh. Dan mengalami yang namanya infus lagi. Sepanjang memori saya, masuk RS itu berarti derita karena makanannya nggak enak, plus disuntik hampir tiap hari. Tapi benarkah demikian ?? Mari kita telusuri....

Masuk RS 1 : pas bayi sakit muntaber, ini sih saya gak ingat, cuma berdasarkan info dari mami

Masuk RS 2 : Pas TK nol kecil, ada peradangan usus buntu jadi harus operasi. Waktu itu tahun 1989, teknologi operasi (apalagi di kota Kudus) masih sederhana banget. Pasien dibius total, perut dibelek pake pisau, terus dijahit, selesai. Saya masih ingat tuh, usus saya yang kecil warnanya putih dimasukin ke tabung yang ada cairan entah apa. Kata papi, usus tuh harusnya warna merah, kalo udah warna putih berarti udah meradang. Tahun 2008, temen saya ada yang operasi usus buntu, ehhh...operasinya pake komputer, cuma dibelek 1 cm. Ajibb....bentaran bekasnya juga ilang tuh. Sedangkan saya, punya bekas jahitan sepanjang 6 cm di perut, tak mungkin saya pakai bikini T____T

Masuk RS 3 : Pas kelas 2 SD, gara-gara dokter anak di Kudus salah diagnosis, harusnya sakit CAMPAK, ehhh dibilang sakit TIPES. Yang seharusnya bisa berobat jalan, malah harus masuk RS beberapa hari sampai akhirnya muncul gejala bercak-bercak yang menandakan itu sakit campak. Dasar dokter di Kudus gak bonafit ah !

Masuk RS 3 : Pas kelas 4 SD, saya sakit demam berdarah. Seingat saya, sakit yang satu ini paling paling paling paling nggak enak. Perut sakittttttttt minta ampun. Dan menurut mami saya, di hari saya masuk RS, malemnya saya mengalami masa kritis, karena demam tinggi sampe badan menggigil semua, trombosit turun drastis, selain itu juga mengigau. Untung waktu itu saya masih polos, kalo udah mesum, bisa-bisa mengigau yang mesum-mesum, gawat banget !!

Masuk RS 4 : To Be Continued....

Monday, 18 March 2013

Lifestyle in Jakarta

Pernah dengar pepatah "Kejamnya ibukota lebih kejam daripada ibu tiri" ?
Jika dipikir-pikir, istilah itu ada benarnya.
Menurut seseorang, saya lupa ntah dosen saya atau manager saya atau baca di buku, tipikal orang Indonesia itu, terutama yang tinggal di kota besar adalah KONSUMTIF.
Saking konsumtifnya, sering kali seseorang mengalami besar pasak daripada tiang, dan tagihan kartu kredit jadi menumpuk, seperti saya misalnya, hehehehee......

Bagi karyawan golongan menengah yang tidak punya pendapatan kedua (passive income kek, usaha sampingan kek), tentu menggantungkan segala pengeluaran pada gaji bulanannya. Dan untuk menutup semua kebutuhan yang konsumtif itu, diperlukan gaji besar.
Sedangkan, tidak semua perusahaan bisa membayar karyawannya sesuai standard pasar atau bahkan di atasnya. Belum lagi orang-orang yang berusaha masuk ke perusahaan yang seperti itu jumlahnya bejibun melewati tes berlapis-lapis. Yang pintar dan beruntung, bisa lolos. Namun perjuangan dia ternyata belum selesai, karena dia harus mempertahankan performance-nya. Jika dia dianggap COST oleh perusahaan, dan bukannya ASSET, maka bersiaplah untuk ditendang dan digantikan oleh pendatang-pendatang baru yang siap bersaing. Seperti adik ipar saya, meski berhasil lolos menjadi trainee di BCA bersaing dengan ratusan kandidat lain, perjuangannya belum selesai. Dia harus belajar tiap hari supaya lolos tes tiap minggunya. Tahun depan, ia masih harus melalui seleksi karyawan tetap. HIGH GAIN, HIGH RISK. Perusahaan yang memberi gaji di atas rata-rata, tentunya juga mengharapkan karyawan dengan kemampuan di atas rata-rata.

Orang-orang lain yang kurang beruntung bisa masuk ke perusahaan seperti itu, meski menyerah pada nasib dan melamar ke perusahaan lain supaya dapurnya tetap ngepul dan gak jadi pengangguran. Tidak jarang juga, mereka menerima pekerjaan yang kurang sesuai dengan ekspektasi, ntah itu jobdesk-nya atau salary-nya. Akibatnya, karyawan-karwayan di perusahaan seperti ini menjadi kutu loncat, loncat sana, loncat sini, mencari pekerjaan yang sesuai harapan dan salary yang lebih tinggi.

Ada salah seorang teman saya yang bilang jika gaji 2,5 juta di Jakarta itu MIRIS.
Entah kenapa dia bilang begitu, padahal bila dilihat dari berbagai variabel, kondisi itu sangatlah masuk akal. Misal :
1/ Gaji 2,5 juta itu didapat dari pekerjaan part-time alias tidak setiap hari
2/ Dia adalah seorang fresh-graduate
3/ Persaingan di industri keahlian dia, di Jakarta ini sangat ketat. Semua orang ingin ke Jakarta demi penghasilan yang lebih baik, tapi tidak semua bidang kerja di Jakarta itu over demand, banyak juga yang over supply

Waktu saya fresh-grade dan kerja pertama kali di Surabaya tahun 2007, gaji saya CUMA 1,5 juta. Dan ketika saya mulai kerja di Jakarta tahun 2009, gaji saya juga berkisar sekitar 2,5 juta. Tapi apakah kondisi saya dengan gaji sekian miris ? NO. Saya masih bisa ngekos di tempat yang ada AC, Internet, dan water heater-nya. Saya bisa makan kenyang tiap hari, bahkan waktu itu saya lebih gendut dari saat ini. Tidak ada supply dari orang tua sepeser pun. Meski kalo saya bokek, kadang-kadang juga ditraktir makan sama cowok saya waktu itu :D

Mungkin orang-orang yang tidak pernah merasakan gaji sekecil itu bertanya-tanya bagaimana bisa gaji 2.5 juta mencukupi kebutuhan hidup di Jakarta ? Tapi kenyataan bilang itu bisa, lihat saja buruh-buruh yang cuma digaji 2,3 juta. Mereka bisa hidup berkecukupan.
Intinya, berapa pun gaji seseorang, pengeluaran harus bisa menyesuaikan. Kondisi idealnya, jika penghasilan meningkat, invetasi harus meningkat juga, tapi kenyataannya seringkali pengeluaran berbanding lurus dengan penghasilan. Makin tinggi penghasilan, makin tinggi juga pengeluaran (uuppss...ini seperti membicarakan diri saya sendiri :p )

Saya juga pengen curhat tentang kondisi suami saya, bagaimana dia mulai dari 0 lagi ketika sudah tidak tahan dengan pekerjaan pertamanya. Jadi ketika itu, dia datang ke Jakarta dengan tawaran gaji yang lumayan tinggi untuk ukuran fresh-grade. Tapi ternyata kerja di perusahaan itu tidak cocok dengan kata hatinya, dan dia memutuskan resign setelah setahun bekerja. Semua keluarganya menentang keputusan itu. Dia mulai melamar ke sana-sini mengharapkan diterima sebagai engineer elektonik. Tapi mendapatkan jobdesk yang sesuai susah sekali, akhirnya dia mencoba banting stir sebagai programer meski tidak yakin mampu, yang penting waktu kuliah sudah pernah dapet dasar logika coding. Akhirnya ada yang menerima, tapi dengan gaji hampir 50% lebih kecil dari pekerjaan pertamanya dan dengan pekerjaan baru yang dia sendiri tidak yakin menguasainya. Tapi dia pikir lebih baik perpenghasilan 50% lebih kecil daripada penghasilan 0, lebih malu lagi kalau sampai ngutang orang tua. Hare geneee ??? Apa kata dunia ???

Ternyata kerja di perusahaan ini sedikit membuat dia shock dan stress, singkatnya setelah 3 bulan, dia tidak diangkat jadi karyawan tetap karena dianggap kerjanya terlalu lama. Sedih tentu iya. Tapi dapur harus tetap ngepul, maka job-hunting dimulai lagi. Dengan bekal 3 bulan belajar coding, kali ini dia sudah lebih pede melamar sebagai programer dan berhasil diterima di perusahaan di mana dia bisa lebih enjoy dan belajar lebih banyak lagi. Gajinya standard, lebih tinggi sedikit dari yang sebelumnya, tapi tidak bisa dibilang di atas rata-rata. Selama dua tahun dia belajar menguasai beberapa program dan mengasah kemampuan coding. Akhirnya, ketekunannya membuahkah hasil juga. Mungkin ini rencana Tuhan, setelah menikah dia diterima di perusahaan yang bisa memberi dia gaji yang lebih tinggi dari saya, kenaikan gajinya lebih dari 50% thank God. Waduuhh...sedikit saya merasa kalah, karena sudah S2 tapi penghasilan tetap lebih kecil. Tapi apa saya berhak menjadikan S2 sebagai alasan untuk mendapatkan gaji tinggi ? kalau saya berpikiran begitu, seharusnya saya malu pada diri sendiri.

Jika ditilas balik, seandainya waktu itu dia tidak memutuskan resign dan nekat mendapat gaji kecil, mungkin saat ini kami belum bisa beli mobil.

Sekarang, saya merasa perlu lebih memperhatikan finansial keluarga. Tidak boleh sembarangan seperti dulu lagi. Porsi untuk invetasi harus ditingkatkan menjadi 30%, porsi untuk konsumtif dan living cost harus ditekan menjadi 50%, porsi amal harus dinaikkan menjadi 10%, dan porsi lain-lain yang selama ini tidak pernah terhitung harus dialokasikan 10%.

Pokoknya kalau jiwa konsumtif mulai merayap, 1 hal yang harus saya pikirkan, "Kapan jadi pengusahanya kalau boros terus ?????"
Jadi ingat film "Billionaire", di mana si Top Ittipat harus jual mobilnya demi mendapatkan modal usaha, saya sih berharap jangan sampai mobil yang saya dapat susah payah harus melayang lagi demi buka usaha. Tapi kalau dapet mobilnya jatuh dari langit, ya bolehlah dipikirkan lagi untuk modal usaha dan ganti mobil yang lebih murah (atau motor) heheheeeee...
Ada lagi cerita dari teman kantor saya mengenai seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya, sejak kecil segalanya serba ada, dia tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu. Namun nasib berputar, ketika orang tuanya meninggal, dia belum siap untuk mengurus bisnis keluarga dan lama kelamaan bisnis itu tidak segemilang saat diurus orang tuanya.
Semoga saja saya tidak mengulangi kesalahan orang tua saya dalam mengelola asset, saya sebagai anaknya yang sudah diberi pendidikan lebih tinggi seharusnya juga bisa menjadi lebih baik dan lebih makmur daripada orang tua saya yang cuma tamatan SMP dan SMA. Jadi suatu hari kelak, orang tua saya bisa menuai apa yang sudah ditanamkan mereka pada diri anaknya ehuehehueheuhe...*prikitiuw

Ayo kita mencoba refleksi pada diri sendiri, jika kita sudah bergaji tinggi, masih bisakah kita hidup dengan lifestyle seperti saat kita bergaji kecil ? Misalnya, kalo udah punya mobil, masih mau naik motor gak ? Masih mau naik busway / angkot gak ? Kalo biasa makan delivery service, masih mau makan warteg gak ? Jangan mentang-mentang sudah kaya, lalu kita sudah lupa rasanya jadi orang susah :)


Wednesday, 2 January 2013

Life Changes, Friends Don't

Di tahun 2012 ini, banyak sekali teman kantor yang resign, karena berbagai alasan. Mulai dari yang jenuh sama pekerjaan, mau melanjutkan bisnis keluarga, mau kawin, mau fokus S2, mau mencari tantangan di luar, mau usaha sendiri, mau cari gaji yang lebih besar, de el el.

Saya sendiri, sejak lulus dari kuliah sampai saat ini sudah berpindah tempat kerja sebanyak 4x. Sudah capek juga bikin surat resign, surat lamaran, apalagi update portfolio.

Setiap tempat kerja, selalu ada poin minusnya. Tidak ada yang benar-benar memuaskan bagi saya. Tapi tentu saja juga ada poin plusnya. Kan hidup itu harus seimbang, ada negatif, ada positif. Saya pernah kerja di tempat yang bos-nya gendut dan galak, semua pegawai takut pada bos-nya. Kalo pake komputer, gak bisa internetan. Bosnya gamau tau tuh kalo graphic designer juga butuh browsing buat cari ide-ide dan referensi. Jadi, kalo mau internetan ya pakai komputer marketing yang cuma bisa dipake beberapa menit.
Kalo mau tidur atau mata merem boro-boro, karena ruangannya disekat pakai kaca dan bos bisa muncul sewaktu-waktu berhubung rumahnya ada di atas. Kalau pulang tenggo dikomentarin, padahal kalo telat potong gaji. Bekerja under pressure, itu istilah yang cocok untuk perusahaan itu. Sebagai fresh-grade yang sebelumnya belum pernah bekerja selain kerja praktek, tentu hal ini cukup membuat saya shock. Karena di tempat saya kerja praktek, bos-nya baik dan suasana kerja menyenangkan. Akhirnya saya cuma bertahan selama 6 bulan di sana, dan memutuskan hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studi, pengen S2 cing !! Meski kerja di perusahaan tersebut banyak negatifnya, tetap ada kenangan manis dan lucu bersama teman-teman seperguruan.

Sesampai di Jakarta, saya berkenalan dengan teman-teman S2 binus yang lumayan membuka wawasan dan channel. Beberapa bulan pertama, saya hanya menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada uang saku dari orang tua. Tapi lama-kelamaan, saya merasa menjadi beban bagi mereka. Saya sudah lulus S1, seharusnya sudah bisa cari duit sendiri. Sementara orang tua saya masih harus menanggung biaya kuliah dan sekolah 2 adik saya. Akhirnya saya putuskan untuk melamar kerja di Jakarta ini, dan berhasil diterima di salah satu perusahaan game online. Gajinya tidak besar, tapi lumayan buat menghidupi saya sendiri daripada saya terus meminta orang tua. Di titik inilah, saya benar-benar lepas dari supply orang tua. Saya merasa senang bekerja di perusahaan ini meskipun gajinya kecil untuk standard Jakarta dan hari Sabtu masuk. Semua yang bekerja di situ adalah gamer, jadi setiap pulang kerja selalu ada pertandingan DOTA, termasuk manager saya sendiri ikut kecanduan heheheeee.....
Setahun pertama saya lalui dengan riang gembira, lalu memasuki 1,5 tahun saya merasa jenuh dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Apalagi kantor perusahaan yang pindah dari gedung di tengah kota ke ruko terpencil membuat mood kerja meredup, ditambah lagi frekuensi main DOTA yang semakin dibelenggu oleh bos - padahal saya kan belum jago, gelar MONSTER KILL aja belum bisa apalagi BEYOND GODLIKE !!!

Lalu kesempatan dan keputusan untuk resign muncul setelah saya lulus S2 dan ditawari oleh teman untuk bekerja di perusahaannya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Dengan tawaran gaji yang 30% lebih besar, tentu saya jadi ngiler dot com. Belum lagi lokasi kantornya di Menara BCA, persis di depan bundaran HI, what a prestigious place to work hahaaa....
Ternyata impian dan bayangan tak seindah kenyataan. Again. Di kantor ini, ada lagi yang namanya bos nyebelin. Kalo di pekerjaan pertama saya seorang om gendut, kali ini seorang tante centil. Setau saya, di perusahaan itu ga ada yang suka sama tuh tante, termasuk teman saya sendiri yang mana adalah komisaris perusahaan. Tapi karena tante centil itu adalah istri pemegang saham, jadi walopun dia ga pintar, tetap aja bisa duduk di kursi Vice President tanpa bisa didepak. Itu satu hal, dan hal lainnya adalah bidang pekerjaan dan suasana kerja. Ternyata kerjaan saya banyak berhubungan dengan administrasi, yang mana tidak ada lagi software-software ADOBE di komputer saya, tidak ada lagi desain, hanya ada angka dan tulisan. It's so stressful !! Lalu ada 2 kelompok kerja, front office dan back office. Saya sebenarnya kurang suka dengan kelompok front office, dan cenderung bergaul dengan kelompok back office. Dan ternyata entah kenapa, 2 kelompok ini juga tidak bisa berbaur. Jika kelompok front mengadakan acara, kelompok back tidak mau ikut, begitu juga sebaliknya. Akhirnya saya cuma bertahan di perusahaan ini selama 4 bulan. Tadinya cuma mau 3 bulan lalu kabur, tetapi saya merasa tidak enak pada teman saya yang adalah komisarisnya, saya tidak ingin hubungan kami menjadi buruk karena saya kabur dan mempermalukan dia, akhirnya saya diperpanjang 1 bulan. Dalam 1 bulan terakhir itu, bisa dibilang saya jarang masuk karena sibuk interview hahahahaa.....

Di perusahaan tempat saya bekerja saat ini, bisa dibilang hal negatif dan positifnya lebih banyak positifnya, jika dibandingkan perusahaan-perusahaan sebelumnya. Pertama, bos-nya baik dan pintar, bisa menjadi teladan bagi bawahannya. Bidang pekerjaan sesuai dengan skill dan minat. Teman-teman dan suasana yang menyenangkan. Poin minusnya cuma gaji. Yahh...tapi kalo dipikir-pikir lagi, sebagai karyawan saya gak akan pernah puas dengan gaji. Yang bisa memuaskan kita adalah jika kita bekerja sendiri sebagai pengusaha dan penghasilan ditentukan oleh kita sendiri. Karena itu saya berharap, bisa memiliki usaha sendiri di tahun-tahun berikutnya entah kapan, karena saya sudah capek pindah-pindah kerja dengan berbagai alasan. Saya harus berhenti di 1 titik dan fokus, daripada loncat-loncat kayak kutu.

Dulu setiap kali saya resign, saya merasa sedih karena meninggalkan teman-teman yang sudah akrab. Dan setelah beberapa bulan, berkenalan dengan orang baru membuat jarang kontak dengan teman-teman lama, karena sibuk dengan hal baru dan teman baru. Saya berharap teman-teman saya yang resign meninggalkan saya di perusahaan ini bisa tetap menjaga kontak dan suatu hari nanti bisa reuni lagi.

LIFE CHANGES, FRIENDS DON'T
 


Dedicated to all my ex-colleagues and ex-colleague soon to be : 
Dina, Rossa, Jun, Pras, Pak Alex, Bu Yuli, Lily, Bengky, Rizki, Sianne, Franky, Simon, Nita, Budi Anduk, Andreas, Patrick, Vivi, Susan, Vina, Suwandi, Dhini, Koento, Fani, Andini, Rere, Diko, Anggita, Lia "Cila", Jessica, Ko Bro, Oka, David ?, Niken ?, Mbak Tri ?, Wening ?, Liswandi ??


Wednesday, 17 October 2012

Oktober Ceriaaaaa

Bulan Oktober ini adalah bulan yang bisa dikatakan bulan tersibuk of the year.

Pada minggu pertama, saya udah kelimpungan menyiapkan berbagai sample yang akan dipamerkan pada mini expo di event yang diselenggarakan pada minggu 2. Pada minggu ini saya setiap hari pulang malam dan pegal-pegal.

Pada minggu kedua, mulai dari hari Senin sampai Jumat, ada event yang namanya Asia Pasific Marketing Meeting, yang mana pada rangkaian acara ini saya harus meeting ini itu, konsentrasi dengerin orang ngomong bahasa Inggris maupun mengajak foreigner ngomong bahasa Inggris. Saya kasihan sama mereka karena harus menerjemahkan grammar saya yang kacau heheheeee....
Hal menariknya karena bisa makan enak di hotel bintang 5 secara gratis :)

Pada minggu ketiga, saudara saya dan teman kantor saya akan mengadakan pernikahan. Pada pernikahan saudara saya ini, ortu saya berencana datang...masih ditambah kedatangan mertua yang akan menjemput adik ipar. Meskipun kedatangan mereka membuat saya happy dan excited, tapi tetap saja saya jadi sibuk, sibuk yang menyenangkan tentunya.

Pada minggu keempat, saya harus pulang ke kampung halaman saya di Kudus untuk mengurus surat kepindahan kependudukan. Jadi nantinya saya akan jadi warga kota Malang, sama kayak suami saya. Untuk mengurus administrasi ini, saya harus cuti 2 hari kerja, beli tiket bus pulang pergi, plus booking hotel 1 malam karena saya udah ga punya rumah lagi di kota itu. Hal yang menyenangkan adalah....Saya bisa wisata kuliner !! Yippie....

Saya bahkan sudah membuat daftar menu dalam kepala untuk direalisasikan kelak.
- Tanggal 28 pagi hari : Sesampainya di Kudus, makan lentog di daerah wergu, lentog adalah makanan mirip ketupat sayur yang jauh lebih enak dan cuma ada di Kudus
- Tanggal 28 siang hari : setelah cek-in di hotel lalu beranjak menuju Mie Bandung & Es Teler di daerah pandjunan. Ini mie ayam favorit semua keluarga Kudus.
- Tanggal 28 malam hari : menuju pedagang Nasi Tahu Telor yang berjajar di sepinggir jalan Sunan Kudus atau pasar Kliwon, datengin langganan dan langsung pesan Tahu Telor Kudus yang rasanya susah ditemukan di tempat lain. Ini adalah makanan favorit suami saya sewaktu dia kerja praktek di Kudus dan juga teman kantor yang ternyata pacarnya kerja di Kudus, setelah mencicipi makanan ini langsung jatuh cinta.
- Tanggal 29 pagi hari : breakfast di hotel, semoga menunya lumayan
- Tanggal 29 siang hari : soto kerbau karso-karsi
- Tanggal 29 malam : udah balik ke Jakarta lagi....hixx...

Semoga saya tidak lupa memotret setiap kuliner yang berhasil saya santap, karena saya tidak tahu kapan akan ke kudus lagi.