Showing posts with label Eric. Show all posts
Showing posts with label Eric. Show all posts

Saturday, 5 April 2014

Soft Opening Kasoetkoe Online Shop


Segenap kru "Fly Me to My Dream" mengucapkan :

"Selamat dan Sukses ! Atas dibukanya website Kasoetkoe Shop"


wakakakaaa....lucu juga yah kalo dikasi selamat, berhubung kru fly me to dream itu sama dengan kru kasoetkoe Shop.
Ini dia penampakannya :


 Tampilan halaman katalog Kasoetkoe

Yap, ini adalah proyek "serius" pertama suami dan saya sebagai salah satu usaha mencari duit tambahan. Seperti biasa, suami saya selaku webmaster mendevelop website menggunakan bahasa pemrograman PHP, sedangkan saya yang utak-atik desainnya seperti penciptaan logo, theme warna, dan general layout.

Sebenarnya, saya kurang puas dengan hasil desain ini, karena bikinnya diburu waktu, jadi agak cepet-cepetan. Dan, kalau saya bikinnya kelamaan, suami saya yang inisiatif sendiri melayout-nya :)

Bagi saya, website ini memiliki nilai lebih selain sebagai pencari duit tambahan. Website ini merupakan pilot project untuk usaha-usaha online lainnya di masa depan, itung-itung belajar untuk persiapan kemerdekaan sebagai karyawan kantoran.

Website ini merupakan versi 1 sebagai generasi pertama yang dilaunching. Versi 1 ini belum memiliki fitur "Log In" dan "Keranjang Belanja" sehingga customer harus membeli secara manual melalui email/sms/chat. Karena belum memiliki database terintegrasi, sulit untuk melihat histori dan sebagainya. Nanti rencananya akan ada versi 2, pengembangan lebih lanjut dari versi 1 di mana pembeli harus log in sebagai member untuk mendapatkan poin plus-plus yang bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik.

Setelah websitenya jadi, sekarang saya harus mikirin strategi pemasarannya, business development, supply chain management, customer relationship management, kayak yang pernah saya bahas dalam tugas mata kuliah e-business saya di blog ini :

Tapi kok kayaknya itu idealis banget yah....apa lebih baik saya mulai dari yang simplicity dulu ??
Tapi kalo membatasi diri begitu, sepertinya kita membiarkan diri kita untuk manja dalam berkembang lambat...

Tertarik untuk membuat website sederhana Online Shop Anda ?
Jangan ragu menghubungi kami, karena kami juga menyediakan jasa pembuatan website + design dengan harga terjangkau !
*ngiklan dulu hahahaa...

Silakan dikunjungi yah...boleh...silakan.....Om Tante Mbak Mas...

Jangan lupa "Like" Facebooknya dan "Follow" twitternya buat naikin traffic.

Makasih.
Suwun.

Monday, 18 March 2013

Lifestyle in Jakarta

Pernah dengar pepatah "Kejamnya ibukota lebih kejam daripada ibu tiri" ?
Jika dipikir-pikir, istilah itu ada benarnya.
Menurut seseorang, saya lupa ntah dosen saya atau manager saya atau baca di buku, tipikal orang Indonesia itu, terutama yang tinggal di kota besar adalah KONSUMTIF.
Saking konsumtifnya, sering kali seseorang mengalami besar pasak daripada tiang, dan tagihan kartu kredit jadi menumpuk, seperti saya misalnya, hehehehee......

Bagi karyawan golongan menengah yang tidak punya pendapatan kedua (passive income kek, usaha sampingan kek), tentu menggantungkan segala pengeluaran pada gaji bulanannya. Dan untuk menutup semua kebutuhan yang konsumtif itu, diperlukan gaji besar.
Sedangkan, tidak semua perusahaan bisa membayar karyawannya sesuai standard pasar atau bahkan di atasnya. Belum lagi orang-orang yang berusaha masuk ke perusahaan yang seperti itu jumlahnya bejibun melewati tes berlapis-lapis. Yang pintar dan beruntung, bisa lolos. Namun perjuangan dia ternyata belum selesai, karena dia harus mempertahankan performance-nya. Jika dia dianggap COST oleh perusahaan, dan bukannya ASSET, maka bersiaplah untuk ditendang dan digantikan oleh pendatang-pendatang baru yang siap bersaing. Seperti adik ipar saya, meski berhasil lolos menjadi trainee di BCA bersaing dengan ratusan kandidat lain, perjuangannya belum selesai. Dia harus belajar tiap hari supaya lolos tes tiap minggunya. Tahun depan, ia masih harus melalui seleksi karyawan tetap. HIGH GAIN, HIGH RISK. Perusahaan yang memberi gaji di atas rata-rata, tentunya juga mengharapkan karyawan dengan kemampuan di atas rata-rata.

Orang-orang lain yang kurang beruntung bisa masuk ke perusahaan seperti itu, meski menyerah pada nasib dan melamar ke perusahaan lain supaya dapurnya tetap ngepul dan gak jadi pengangguran. Tidak jarang juga, mereka menerima pekerjaan yang kurang sesuai dengan ekspektasi, ntah itu jobdesk-nya atau salary-nya. Akibatnya, karyawan-karwayan di perusahaan seperti ini menjadi kutu loncat, loncat sana, loncat sini, mencari pekerjaan yang sesuai harapan dan salary yang lebih tinggi.

Ada salah seorang teman saya yang bilang jika gaji 2,5 juta di Jakarta itu MIRIS.
Entah kenapa dia bilang begitu, padahal bila dilihat dari berbagai variabel, kondisi itu sangatlah masuk akal. Misal :
1/ Gaji 2,5 juta itu didapat dari pekerjaan part-time alias tidak setiap hari
2/ Dia adalah seorang fresh-graduate
3/ Persaingan di industri keahlian dia, di Jakarta ini sangat ketat. Semua orang ingin ke Jakarta demi penghasilan yang lebih baik, tapi tidak semua bidang kerja di Jakarta itu over demand, banyak juga yang over supply

Waktu saya fresh-grade dan kerja pertama kali di Surabaya tahun 2007, gaji saya CUMA 1,5 juta. Dan ketika saya mulai kerja di Jakarta tahun 2009, gaji saya juga berkisar sekitar 2,5 juta. Tapi apakah kondisi saya dengan gaji sekian miris ? NO. Saya masih bisa ngekos di tempat yang ada AC, Internet, dan water heater-nya. Saya bisa makan kenyang tiap hari, bahkan waktu itu saya lebih gendut dari saat ini. Tidak ada supply dari orang tua sepeser pun. Meski kalo saya bokek, kadang-kadang juga ditraktir makan sama cowok saya waktu itu :D

Mungkin orang-orang yang tidak pernah merasakan gaji sekecil itu bertanya-tanya bagaimana bisa gaji 2.5 juta mencukupi kebutuhan hidup di Jakarta ? Tapi kenyataan bilang itu bisa, lihat saja buruh-buruh yang cuma digaji 2,3 juta. Mereka bisa hidup berkecukupan.
Intinya, berapa pun gaji seseorang, pengeluaran harus bisa menyesuaikan. Kondisi idealnya, jika penghasilan meningkat, invetasi harus meningkat juga, tapi kenyataannya seringkali pengeluaran berbanding lurus dengan penghasilan. Makin tinggi penghasilan, makin tinggi juga pengeluaran (uuppss...ini seperti membicarakan diri saya sendiri :p )

Saya juga pengen curhat tentang kondisi suami saya, bagaimana dia mulai dari 0 lagi ketika sudah tidak tahan dengan pekerjaan pertamanya. Jadi ketika itu, dia datang ke Jakarta dengan tawaran gaji yang lumayan tinggi untuk ukuran fresh-grade. Tapi ternyata kerja di perusahaan itu tidak cocok dengan kata hatinya, dan dia memutuskan resign setelah setahun bekerja. Semua keluarganya menentang keputusan itu. Dia mulai melamar ke sana-sini mengharapkan diterima sebagai engineer elektonik. Tapi mendapatkan jobdesk yang sesuai susah sekali, akhirnya dia mencoba banting stir sebagai programer meski tidak yakin mampu, yang penting waktu kuliah sudah pernah dapet dasar logika coding. Akhirnya ada yang menerima, tapi dengan gaji hampir 50% lebih kecil dari pekerjaan pertamanya dan dengan pekerjaan baru yang dia sendiri tidak yakin menguasainya. Tapi dia pikir lebih baik perpenghasilan 50% lebih kecil daripada penghasilan 0, lebih malu lagi kalau sampai ngutang orang tua. Hare geneee ??? Apa kata dunia ???

Ternyata kerja di perusahaan ini sedikit membuat dia shock dan stress, singkatnya setelah 3 bulan, dia tidak diangkat jadi karyawan tetap karena dianggap kerjanya terlalu lama. Sedih tentu iya. Tapi dapur harus tetap ngepul, maka job-hunting dimulai lagi. Dengan bekal 3 bulan belajar coding, kali ini dia sudah lebih pede melamar sebagai programer dan berhasil diterima di perusahaan di mana dia bisa lebih enjoy dan belajar lebih banyak lagi. Gajinya standard, lebih tinggi sedikit dari yang sebelumnya, tapi tidak bisa dibilang di atas rata-rata. Selama dua tahun dia belajar menguasai beberapa program dan mengasah kemampuan coding. Akhirnya, ketekunannya membuahkah hasil juga. Mungkin ini rencana Tuhan, setelah menikah dia diterima di perusahaan yang bisa memberi dia gaji yang lebih tinggi dari saya, kenaikan gajinya lebih dari 50% thank God. Waduuhh...sedikit saya merasa kalah, karena sudah S2 tapi penghasilan tetap lebih kecil. Tapi apa saya berhak menjadikan S2 sebagai alasan untuk mendapatkan gaji tinggi ? kalau saya berpikiran begitu, seharusnya saya malu pada diri sendiri.

Jika ditilas balik, seandainya waktu itu dia tidak memutuskan resign dan nekat mendapat gaji kecil, mungkin saat ini kami belum bisa beli mobil.

Sekarang, saya merasa perlu lebih memperhatikan finansial keluarga. Tidak boleh sembarangan seperti dulu lagi. Porsi untuk invetasi harus ditingkatkan menjadi 30%, porsi untuk konsumtif dan living cost harus ditekan menjadi 50%, porsi amal harus dinaikkan menjadi 10%, dan porsi lain-lain yang selama ini tidak pernah terhitung harus dialokasikan 10%.

Pokoknya kalau jiwa konsumtif mulai merayap, 1 hal yang harus saya pikirkan, "Kapan jadi pengusahanya kalau boros terus ?????"
Jadi ingat film "Billionaire", di mana si Top Ittipat harus jual mobilnya demi mendapatkan modal usaha, saya sih berharap jangan sampai mobil yang saya dapat susah payah harus melayang lagi demi buka usaha. Tapi kalau dapet mobilnya jatuh dari langit, ya bolehlah dipikirkan lagi untuk modal usaha dan ganti mobil yang lebih murah (atau motor) heheheeeee...
Ada lagi cerita dari teman kantor saya mengenai seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya, sejak kecil segalanya serba ada, dia tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu. Namun nasib berputar, ketika orang tuanya meninggal, dia belum siap untuk mengurus bisnis keluarga dan lama kelamaan bisnis itu tidak segemilang saat diurus orang tuanya.
Semoga saja saya tidak mengulangi kesalahan orang tua saya dalam mengelola asset, saya sebagai anaknya yang sudah diberi pendidikan lebih tinggi seharusnya juga bisa menjadi lebih baik dan lebih makmur daripada orang tua saya yang cuma tamatan SMP dan SMA. Jadi suatu hari kelak, orang tua saya bisa menuai apa yang sudah ditanamkan mereka pada diri anaknya ehuehehueheuhe...*prikitiuw

Ayo kita mencoba refleksi pada diri sendiri, jika kita sudah bergaji tinggi, masih bisakah kita hidup dengan lifestyle seperti saat kita bergaji kecil ? Misalnya, kalo udah punya mobil, masih mau naik motor gak ? Masih mau naik busway / angkot gak ? Kalo biasa makan delivery service, masih mau makan warteg gak ? Jangan mentang-mentang sudah kaya, lalu kita sudah lupa rasanya jadi orang susah :)


Thursday, 20 December 2012

How I Met Your Father - Part 2

It's a blue chair day that I will remember for the next years.

Kid, I just think that....
maybe...
We are not ready to be your parent yet......
I am so sad to think of it, but it's true.
Because I realized that I am an egoist person, careless, and stubborn.

Let the story begin...

Today, your father bought a blue chair from the nearest supermarket. Once I saw that blue chair, all I can think is....THAT IS AN UGLY CHAIR !!!
When I asked him why he bought it, he answered me that it's the cheapest chair that he can found.

I can't believe it !!!!

He forget about what I said long long time ago that I want to buy the same chair for our dining room - the same black flowery chair. And he suddenly bought that ugly chair. How can he said that he knows me but he can't understand my sense of art ?

I knew, because of my words, your father would be feel offended since he is a kind of person who get upset easily.

You know, your mom is a kind of person who will say everything that she likes and dislikes straightly. And I said, "That chair will make our room looks bad, I don't like it, it's so ugly..."

And your dad said, "Never mind, I'll throw it away to the garbage room !!"

His answer is sooooo childish.
I even didn't ask him to do anything. I just said that I don't like it.

I knew he is so tired of brought that chair all the way home. He even said that he is shaking. How can I ask him to throw it away ? Am I that mean ?

But I don't want to interrupt his decision. I have asked him if it's a waste, but he just acted that didn't care (but actually I knew he DOES CARE about it).

He just want to save his ego.

Kid, I know your mother and father are just kids sometimes.

And maybe, God want us to learn to be more mature before He let us to take care of you.

I also really hope that the chair - which is now in the apartment garbage room - will find a nice master who will keep it carefully.

Sunday, 25 November 2012

Bandung Culinary Journey

Sementara teman-teman saya merencanakan honeymoon ke Bali, Lombok, Singapore, Korea, Amerika, Eropa, Aussie....saat ini saya harus cukup puas dengan merayakan anniversary di kota yang gak jauh-jauh amat dari Jakarta, Bandung.

Selain karena memang saya jarang banget ke sana, juga karena cutinya mau dihabiskan di akhir tahun, jadi untuk jalan ke Bandung ini ga perlu sampai cuti. Cukup pergi hari Sabtu en pulang hari Minggu. So far...pengalaman ke sana cukup menyenangkan, sayangnya kami berdua buta arah dan gak bisa ke tempat yang jauh karena ga ada mobil. someday kalo ada mobil, mungkin saya akan menjelajah daerah-daerah lain seperti Dago Pakar, Ciwidey kawah putih, Lembang Boscha, Pasteur, dll.

Jadi, perjalanan setengah backpacker ini dimulai dari keberangkatan dengan travel DayTrans tujuan Grogol-Cihampelas. Sampai di Cihampelas, kami jalan kaki tanpa tahu arah menyusuri tepi jalan sampai ke Cihampelas Point. Suatu FO yang menurut saya bangunannya klasik. Di situ ada food court, dan karena lapar, kami pun berhenti untuk makan siang. Saya pesan batagor, si eric pesan mie kocok. Ternyata rasanya ga enakkkk....habisnya asal beli sih !

Perjalanan kaki pun berlanjut dan sampailah kami ke Cihampelas Walk. Suatu mall unik dengan konsep outdoor. Di sana kami nyobain beberapa menu tahu di Kedai Talaga.
Ini di lokasi mall, bukan di pedagang kaki lima...lucu ya ?

The Menus.....

Eh, gataunya di depan kedai talaga ada yang jual topi rajut ungu, yang pernah saya tulis di blog "Yui dan Sepatu Boot"
Tanpa banyak pikir en nawar, karena emang ga bisa nawar, maka saya langsung beli tuh topi.
yeyy...my purple hat *joget-joget

Sorenya setelah boci di Hyatt dan merasakan ofuro di bathtub (*katro banget nih), kami melanjutkan kuliner ke Hyper Square Food Market yang katanya menyediakan 1100 macam menu. Di sana suasananya romantis. Ada Wish Fountain juga, buat make a wish terus nyemplungin koin.
yuhuuuii....take a bath, not a shower !!! *katro' dipelihara


It's not that hard to throw a coin ^^ jadi inget game FF IX

Menu dinner kami adalah.....
*Bamboo rice - kayak di Harvest Moon


*cakue


*Martabak manis, helloooo ?!!

Kenyang. Balik hotel. Meskipun sebenarnya saya masih pingin ke daerah Pasteur, tapi karena habis ujan, takutnya macet menurut info sopir taxi.

Besok paginya, saya bela-belain berenang dan menarik si eric keluar dari selimut gulungnya. Soalnya, kalo nginep di hotel berkolam renang, tapi gak renang, rasanya kurang afdol. Habis berenang, kami menuju cafe untuk breakfast, dan saya sedikit kecewa karena menu-nya gak sevariatif di G.H.Universal huhuuu...
Swimming timee.....baru 1/2 putaran udah ngos-ngosan >_<

Oke, perjalanan di Bandung yang menyenangkan namun singkat dan kurang memuaskan ini pun berakhir sudah. Semoga ke depannya kalo udah punya mobil sendiri bisa menjelajahi tempat yang lain.

Tuesday, 30 October 2012

How I Met Your Father - Part 1


Hello Kid(s),

I am your mother, and this is the first story from me to you.
First of all, I am sorry for these horrible grammars. I just want to practice my english so that someday we can have a little chit-chat in english. In God's permission, I will take you to the international elementary school. About where the money come from ? I do not know yet :)
I am not a rich people, you know, nor your father, your grandmas and granpas. But just like I mentioned before, in God's permission, I have faith that everything is possible.

You know kids, everyone told me that money is not the most important thing. But, we still do believe that everything need money, yes ?
Sometimes i really hate this condition that I have to choose to postpone to have you in the first year of I and your father marriage.
Life is about to choose. I hate it, but I have to.

It is not that I prefer to have another thing instead of you. HELL NO.

I just want to prepare a better living condition for you.
If a car become the first priority before you, it is mean that I don't want you to consume air polution in Jakarta directly while you still breathe through me. I don't want you to feel the hard-shaking motorcycle while you still sleep in my belly.
How can I handle this very fragile sweet creature inside of me ?

But Kid(s),
I think I can't wait anymore.
Although we do not have a car yet, we welcome you anytime.
I really hope that you won't let me and your father wait too long for your presence.
Pic Source : designandprgirl.com.au
 
 
Will God let you come to us ? When is God let you come to us ?

In the end, I can only said what Mother Mary said to Angel Gabriel,
"I am the Lord's servant, May it be to me as you have said."

Saturday, 22 November 2008

Eric's Graduation Day


Me and Eric's Mom
nb : liat deh tas warna pink yang aku pake,
itu adalah salah satu tas yg aku post di "bagz...bagz...bagz..."



Hohoho...selamat buat my hunny !!! maap foto wisudanya ga ada, yang ada malah foto paparazzi pas aku n mamanya Eric nunggu di depan gedung, hehe....

Selama 6 hari ini, kegiatan kita di Surabaya cukup padat. Maksudnya bukan padat jalan2 tapi padat nomaden tidur. Bayangin deh, malam pertama nginep di rumah tantenya di Rungkut, malam kedua nginep di rumah tante lainnya di Klampis, malam ketiga aku nginep di kos adekku di daerah UK Petra Siwalankerto, habis itu malam terakhir balik lagi di Rungkut.....what a busy week!!

Gara-gara perjalanan ini, gelar juara pertama yang kupertahankan di Car Madness (Facebook) selama beberapa minggu terpaksa diambil alih oleh saudara Larry, dan lebih buruk lagi posisi kedua pun dirampas oleh saudara Allan yang tidak tahu diri, huh.....Yah, akhirnya aku pun harus cukup puas bertengger di posisi ketiga. Sia-sia sudah puluhan ribu pulsa Fren yang kuhabiskan buat internetan ! Cukup SUDAH!! Silakan kalian berlomba-lomba sendiri, aku main sak mood2 e, sak karepku dewe ! Gampang Wes !!!

Lho...lho....kok malah curhat soal Car Madness ?? Bukannya mau cerita soal wisuda si Eric ya ??

Ya gitu deh, upacara wisuda di gedung sedang dengan jumlah wisudawan yang hanya sedikit, dan rektornya pun ga mau menyalami para wisudawan, (
sombong apa pinter ? baru juga 250 orang, gimana kalo 1000 orang kayak Petra atau Ubaya?!) Ups...jangan sampai aku keceplosan ngejelek-jelekin almamater orang, bisa-bisa suatu hari nanti aku kena karma jadi dosen di sana dan harus mengabdi, hehehe.... At least, terima kasihlah sudah meluluskan Eric jadi Sarjana Teknik :)

Cerita lainnya, dua hari sebelum wisuda, aku dan Eric akhirnya mewujudkan salah satu
Things In My Dream lainnya, yaitu.....Couple Photograph ! Tapi foto-foto ini, baik yang couple maupun yang foto wisuda baru bisa diambil bulan depan. Jadi......ga bisa kupamerin sekarang (padahal pengen banget pamer, hohoho.....---> bulan depan HARUS kupajang di Facebook)

Oiya, sebelum kuakhiri post ini, akan KUPAMERKAN qtex warna blueberry (
atau apa ya?) yang terinspirasi oleh Maria dengan qtex warna birunya (bisa dilihat di blog dia), pokoknya baru kali ini aku pake warna gelap, norak gak ??? hehehe....


ketularan Maria

Friday, 21 November 2008

Soekarno-Hatta VS Juanda


Erika : Cay...cay....pose donk !!
Eric : kampungan banget sih, di Juanda aja jepret2
Erika : Lho, kita harus membiasakan budaya mendokumentasi
Eric : malu diliat orang !
Erika : >____<

Tanggal 13-18 November 2008 kemarin, aku berkesempatan menghadiri Graduation Day-nya Eric di Grand Ballroom Laguna Surabaya. Hehehe...asiknya bisa mengunjungi kota kenangan meski harus bolos beberapa mata kuliah. Ternyata Surabaya tidak berubah (ya iyalaaaah....baru juga ditinggal 6 bulan, mau berubah gimana coba ??), sayangnya waktu yang ada terbatas sehingga aku ga bisa mengunjungi setiap rumah makan yang bikin kangen, ditambah kendala transport yang ga tersedia. Alhasil, beberapa hari itu cuma sempet makan tahu tek, mie ujung pandang, and seafood di daerah Ubaya, yang belum kesampaian ada Hachi-Hachi, mie hijau Ngagel, sama LONTONG KUPANG.... yeaahh....I miss the last one a lot, hahahaha...

Hal menarik lainnya, meskipun beberapa kali ke bandara Juanda, tapi sebelumnya aku ga pernah memerhatikan kelebihan bandara ini. Apa coba ?? YUP ! Bila dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta !

Bisa dibilang, seumur hidup ini aku baru 3x pulang pergi ke Jakarta, dan semuanya ditempuh dengan trasnportasi darat (
baca: bus, kereta, mobil). Di Soekarno-Hatta, aku bener-bener kecewa dengan Bandara yang katanya Internasional ini. Aku pikir bakal melihat bandara besar yang megah dan kinclong, jauh lebih baik dari Juanda di Surabaya yang menurutku sebelumnya biasa2 saja. Gak taunya, bandara kumuh, gelap, suram....maunya sih dibuat berkesan etnik, tapi sepertinya eksterior yang diterapkan ga berhasil. Bandara ini malah terkesan seperti terminal.


Interior Soekarno-Hatta yang biasa2 aja



Kumuh seperti terminal

Sebaliknya, di Bandara Juanda, meski ga sebesar Soekarno-Hatta, namun eksteriornya lebih keren, lebih modern namun tidak meninggalkan kesan etnik. Bandara ini juga jauh lebih bersih dan rapi daripada Soekarno-Hatta.



Ada eskalator buat yang males jalan



Eksterior Juanda yang kelihatan lebih kinclong



Interior yang masih bernapaskan etnik namun elegan

Padahal Bandara boleh dibilang merupakan perwajahan awal dari suatu negara, yaah...kalau bandara nya kumuh.....negaranya tentu ga beda jauh lah....(
meski berat mengatakannya, but that's the fact !)

Gimana pariwisata kita bisa maju coba ? Kalau turis yang baru datang di awal aja sudah kehilangan mood gara-gara "
Bandara Internasional" ini !


Well, Jakarta boleh jadi kota terbesar dan termegah di Indonesia, namun dalam soal Bandara ini,
saya rasa Surabaya lebih memberi muka pada Indonesia.


Kapan ya Indonesia punya bandara semegah Los Angeles ??
Apa kata dunia ??!


Info tambahan :
(edited on Nov 25th 2008)

Bandar Udara Juanda Surabaya mendapat penghargaan Service Quality Award 2008 dalam hal pelayanannya. Untuk kategori International Airport Service di kawasan Asia Tenggara, Bandara Juanda berada di peringkat ketiga setelah Changi Airport Singapore dan Kuala Lumpur International Airport.

Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura I Kuntadi Budianto dalam rilisnya menjelaskan, penghargaan itu berdasarkan penilaian oleh Majalah Marketing yang bekerja sama dengan Customer Centric Organization (CARRE).

Untuk kategori Domestic Airport Service, dia menambahkan, Bandara Juanda di peringkat pertama kemudian berikutnya Bandara Ngurah Rai Bali dan Bandara Hasanudin Makasar.

(Sumber : Tempo Interaktif & RCTI Media 22 Juli @2008)