Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Thursday, 30 June 2016

The Diary of Caymaru - The Point of No Return (FINALE)

Postingan kali ini (terakhir) ditulis sendiri oleh Caymama beberapa hari sebelum menjalani operrasi. Saya, Caypapa cuma bantu upload agar kisah "The Diary of Caymaru" terselesaikan dan (mungkin) bisa berguna bagi para pembacanya.

Week 24
Setiap malam aku selalu terbangun karena saturasi oksigen yang cuma 60an, padahal selang oksigen tidak pernah lepas dari hidungku.
Saat-saat seperti itu, sepertinya tubuhku tidak menyatu satu dengan yang lainnya.
Aku terduduk. Aku sebut nama Yesus terus dan terus...
Aku kuat. Aku bisa. Tuhan besertaku. Ia akan mampukan aku.
 
Hasil USG minggu ini tidak bagus.
Caymaru positif mengalami IUGR dengan kondisi ABSENT DIASTOLIC END FLOW (ADEF).
Aku tanya ke gugel, beberapa forum ibu hamil di Amerika menceritakan bahwa kondisi ini pertanda buruk, tapi masih bisa dipertahankan asalkan gejala ini tidak berubah menjadi REVERSE END DIASTOLIC FLOW (REDF).
Jika janin mengalami gejala di atas (ADEF) artinya sirkulasi plasenta tidak bagus.
Janin tidak mendapatkan nutrisi cukup yang dibutuhkannya untuk bertumbuh dan berkembang secara normal.
Dalam hal ini, aku gagal mensupply oksigen karena minimnya oksigen darah.
Caymaru bertumbuh sangat sedikit bahkan grafiknya menunjukkan gejala pertumbuhan yang sangat memprihatinkan.
Beratnya hanya 500 gram.

Caymaru,
apapun yang terjadi aku serahkan semuanya pada Tuhan.
Aku memang egois karena memintamu untuk berjuang terus dan terus bahkan sebelum kau mengenal cahaya.
Tapi aku percaya Tuhan punya rencana besar akan kehadiranmu.
Karena itu aku mohon berjuanglah sampai akhir.


Week 25
Kondisi Caymaru tidak bertambah baik, meski beratnya menjadi 560 gram, tetapi aliran darah plasenta menjadi ABSENT-REVERSE END DIASTOLIC (ARED).
Menurut forum di gugel, lagi-lagi perkumpulan calon ibu di Amerika, biasanya jika mereka sudah memasuki gejala REVERSE FLOW, dokter akan mengeluarkan bayi secara paksa alias terminasi kehamilan. Sebagian besar ibu-ibu di sana menuruti maunya dokter, karena memang survival rate di Amerika untuk bayi prematur sudah tinggi, beda dengan Indonesia. Di Amerika, untuk janin berusia 28 minggu dengan berat berkisar 500 - 1000 gram, tingkat survivalnya mencapai 95%, sedangkan di RSCM sebagai rumah sakit terbesar di Indonesia dengan dokter-dokter mumpuni, tingkat survival rate usia 28 minggu dengan syarat berat badan janin minimal 1 kg hanya sebesar 70%.


Week 26
Kami mencoba USG 4D untuk kedua kalinya...dannnn eng ing eng... kami bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas dibandingkan ketika berusia 14 minggu.

Caymaru - USG 4D.

Tapi karena kondisi IUGR Caymaru makin memburuk, gerakannya tidak seaktif ketika dia masih berusia muda, ditambah lagi jumlah air ketubanku yang lebih sedikit dibanding wanita hamil normal, membuat dia makin tidak bebas bergerak.
Beratnya di minggu ke 26 ini ditulis 690 gram, ada peningkatan tetapi ukuran yang tertulis berdasarkan hasil USG tidak bisa dikatakan akurat karena ada selisih plus minus sebesar 20%.... weewww banyak banget ya.


Week 27
Minggu ini merupakan.....
.
.
.
.
.
.
.



Postingan Caymama berakhir sampai disini.... Dia takkan pernah bisa melanjutkan lagi tulisannya di sini.
Dia telah mengakhiri pertarungannya bersama sama dengan Caymaru pada Week 28.



 Kondisi Caymama saat menulis postingan terakhir ini.


Caymama tidur pulas, kelelahan menulis postingan ini


Selamat jalan Caymama,
Selamat jalan Caymaru,
Hidupmu boleh berakhir di dunia ini, tapi tulisanmu ini akan tetap hidup dan menjadi pesan positif bagi dunia.

Terima kasih atas teladanmu yang sangat luar biasa...




I LOVE YOU,




( Caypapa )   


Sunday, 19 June 2016

The Diary of Caymaru - Let's Fight Together

Akhirnya perjalanan RS kami berakhir di RSCM, yang katanya merupakan rumah sakit umum nomor 1 di Indonesia, di mana calon-calon dokter hebat dilahirkan dari sebuah institusi tersohor bernama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Tapi....ironisnya, fasilitas di RS yang pasiennya banyak banget ini sangat kurang memadai. Jumlah penduduk Jakarta aja udah berapa, jumlah penduduk Indonesia berapa, jumlah RS berapa, semua itu gak cukup Pak Presiden, gak heran kalo banyak kasus pasien ditolak atau terlambat penanganannya karena terbatasnya fasilitas yang ada.
Percuma kalo otak dan skill dokternya mumpuni, tapi fasilitasnya kurang, pada akhirnya kita tidak mempercayai tenaga medis di Indonesia. Hanya orang yang bergantung pada BPJS seperti saya ini yang sudi memilih pengobatan di Indonesia untuk menangani kasus berat, kalo duit saya kayak Paman Gober sudah pasti saya terbang ke Jepang atau Amerika sekalian hahahaaaa....


Week 14
Saya datang ke klinik obgyn dan ditangani oleh dokter residen yang sedang mengambil pendidikan spesialis kebidanan. Mereka semua di bawah mentoring seorang dokter senior bergelar Profesor Doktor yang ahli di bidang fetomaternal, yaitu sub spesialis kebidanan yang khusus menangani kehamilan berisiko tinggi.
Awalnya saya sempat dibawa ke IGD karena terjadi kesalahpahaman. Para dokter residen mengira saya setuju untuk melakukan aborsi. Tapi mereka kaget karena saya ternyata tidak menyetujuinya. Akhirnya saya diopname supaya mereka bisa mengadakan join conference dengan dokter jantung mengenai kondisi saya.
Ketika saya diopname, seorang dokter residen yang lumayan ganteng bernama dokter Greg menyuruh suami saya keluar dan ingin berbicara 4 mata dengan saya.

dr. Greg : Saya ingin tahu kenapa ibu sangat kukuh mempertahankan kehamilan ini ? padahal Ibu tahu risikonya. Kehamilan ini berbahaya bukan cuma buat si bayi tapi juga buat Ibu. Saya perlu tahu alasan Ibu untuk bahan pertimbangan saat join conference nanti.
Me : Yaaa... saya sudah pernah bilang kalo saya sulit hamil selama 3 tahun. Saya sudah putus asa bahkan berpikir tidak mungkin saya hamil secara alami. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Dokter tahu eisenmenger sulit diobati, setiap tahun saya selalu menerima kabar kematian dari teman-teman di grup Hipertensi Paru. Saya pun tidak tahu kapan saya akan mati. PH belum ada obatnya di dunia ini. Kalo saya menggugurkan kandungan ini demi memperpanjang hidup saya, sampai berapa lama lagi ? 5 tahun ? 10 tahun ?
Lalu selama sisa hidup saya itu, apakah saya bisa hidup tenang, Dok ? Yang ada hanya rasa penyesalan dan kesedihan karena saya menyerah...
(lalu ntah kenapa air mata menetes dan sesenggukan di depan dokter itu, padahal selama ini saya pantang nangis di depan dokter-dokter)


Week 15
Saya bertemu dengan Profesor Yudit, mentor para dokter residen itu untuk melakukan USG perkembangan janin.
Ketika saya berbaring, dia bertanya dengan suara sinis,
"Apa yang Ibu harapkan dari kehamilan ini ? Percuma...paling hanya bisa bertahan hingga bulan ke-5..."
Saya cuma terdiam.
Janin saya masih dalam kondisi normal. USG selesai. Saya dan suami digiring ke ruangannya dan disidang bersama dengan beberapa dokter residen.
Pertanyaannya masih sama dengan yang lalu-lalu,

Dr.dr.Yudith, PhD :
"Kenapa Ibu kukuh mempertahankan kehamilan ini ? Padahal sudah dijelaskan berkali-kali tentang risikonya, taruhannya nyawa. Ini bukan soal buah simalakama, kalo yang 1 dikorbankan akan menyelamatkan yang lain, tapi ini menyangkut 2 nyawa. Bisa keduanya selamat, bisa keduanya tidak selamat kalo menunggu sampai kehamilan lebih tua."
Me :
"Karena di dunia ini tidak ada yang pasti. Dokter bilang risiko berapa 50%, 60& bahkan ada dokter yang bilang sampai 75%, tapi kan masih ada kemungkinan 50%, 40%, atau 25% untuk berhasil... emang kalo orang kena kanker divonis setahun lagi bakal mati, apa dia pasti mati ?"
Dr.dr.Yudith, PhD :
Ya enggak sih...tapi di sini kamu mempertaruhkan 2 nyawa sekaligus
Suami :
Iya dokter, saya paham semua dokter akan menghindari risiko tinggi. Tapi kami tidak mau menyerah, kami mau berjuang sampai akhir, seandainya suatu hari nanti kita menghadapi risiko terburuk, kami tidak akan menuntut apa pun dari dokter. Kamu sudah diberi tahu berkali-kali mengenai risikonya...tapi kami minta dokter juga berusaha semaksimal mungkin membantu kami.

Mendengar jawaban suamiku, tiba-tiba si dokter itu berubah sikap, tidak lagi sinis. Ketika keluar dari ruang fetomaternal, dia menepuk-nepuk bahuku dan memberi semangat.


Week 17
Join conference sudah dilaksanakan antara dokter kandungan, dokter jantung, dan legal ethic dengan konklusi sbb :
  • week 28 bayi harus dikeluarkan untuk menghindari risiko gagal jantung kanan dan thromboemboli vena (pembekuan darah) pada ibu yang bisa menyebabkan kematian mendadak (sudden death)
  • pemantauan secara rutin perkembangan bayi setiap minggu karena risiko IUGR - Intra Uterina Growth Restriction - terhambatnya perkembangan janin karena kurang oksigen, risiko terburuk adalah IUFD - Intra Uterine Fetal Death - di mana plasenta menjadi kering sehingga tidak mampu menyalurkan nutrisi pada janin dan mengakibatkan janin meninggal dalam rahim
  • kontrol rutin untuk memantau kondisi fungsi jantung ibu, perburukan pada eisenmenger syndrome, atau peningkatan hipertensi paru yang berpotensi mengakibatkan gagal jantung

Week 20
Aku merasakan sesak yang semakin berat. Tiap malam aku terbangun karena susah bernapas padahal bantal udah tumpuk 3. Batukku menjadi makin sering, bahkan beberapa kali disertai gumpalan kecil darah. Saat aku kontrol ke dokter jantung, dia geleng-geleng... TVG ku sudah di atas 100 mmmHg, itulah yang membuat beberapa pembuluh halus paru pecah sehingga dahakku berdarah.

Akibat PH yang terlalu tinggi, menyebabkan hipoksia (sesak napas) dan beberapa pembuluh halus paru-paru pecah, jadi dahak yang keluar bercampur darah

Dia mengganti pengencer darah aspirin dengan heparin sodium, yang berarti aku harus disuntik setiap hari. Jadi mulai sekarang aku punya suster baru yaitu suamiku yang kadang nyuntiknya sakit, kadang gak sakit, kadang juga sakit banget.... sampe lengan kanan kiri dan pahaku memar-memar.


 memar-memar di lengan akibat suntikan HEPARIN SODIUM, sebenarnya di paha juga masih banyak, tapi malu fotonya karena pahaku gendut hueheehehee.....

Aku selalu mengingatkan diriku, untuk siapa aku berjuang, karena siapa aku mau percaya. Aku hanya bisa menyebut nama YESUS dalam setiap saat aku merasa sangat lemah, karena aku percaya dia selalu bersamaku.


Week 21
Aku dan suamiku sepakat untuk meminta didoakan dalam sebuah sakramen perminyakan, sebuah ritual dalam gereja Katolik yang bertujuan untuk mendoakan orang sakit.
Prosesnya begitu cepat karena orang-orang di lingkungan sangat support. Seorang pastor datang dan memberikan penguatan melalui sakramen minyak suci.
Biasanya upacara ini diadakan buat orang yang sudah mendekati ajal, walaupun sebenarnya tidak, tapi seringnya kebiasaan orang Katolik di Indonesia seperti itu. Sampai-sampai ketika berita ini didengar oleh mantan managerku, dia langsung shock dan mengira kondisiku sudah amat buruk sehingga berencana menjengukku bersama beberapa teman kantor. Tapi setelah dikonfirmasi bahwa aku masih stabil, akhirnya dia tidak jadi menjenguk hehehee..... baik yah mantan managerku :D


Week 22
Aku merasa lebih sehat. Kadang masih terbangun tengah malam karena sesak napas tapi sudah gak sesering minggu lalu. Dahak berdarahku juga sudah sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah.
Aku kontrol ke dokter kandungan untuk melakukan USG. Dokter bilang janinku terlalu kecil untuk ukuran 22 minggu. Seharusnya di usia sekian berat bayi sudah mencapai 500 gram, tapi janinku hanya kisaran 350 gram. Walaupun organnya normal, tetapi dia juga kesulitan oksigen sehingga penyerapan nutrisi tidak maksimal.
Dokter pesimis aku bisa melahirkan di usia 28 minggu.
Dia bilang, "paling gak di usia 34 minggu...tapi berisiko buat kamu,"

Aku bilang pada suamiku, kalo aku sepertinya tidak mungkin melahirkan di usia 28 minggu karena berat bayi tidak sesuai target.
Aku sih oke2 aja melahirkan di usia 34 minggu, tapi suamiku jadi galau...karena itu berarti semakin tua kehamilan, semakin berisiko untuk jantungku.
Aku bilang padanya, "Kamu harus percaya padaku kalo aku kuat, aku gak akan menyerah demi Caymaru...semoga Caymaru juga terus berjuang di sini."


Aku mungkin ibu yang paling egois.
Aku tidak bisa memberikan kenyamanan atau apa yang dibutuhkan anakku.
Aku malah memintanya berjuang.
Bahkan sebelum dia mengenal cahaya.

Aku tidak ingin dia menyerah, "berjuanglah, let's fight together..." itu yang selalu aku ucapkan saat aku merasakan gerakannya yang semakin aktif.

The Diary of Caymaru - We Will Protect You

Menginjak usia 7 minggu, aku balik ke Jakarta ditemani si mami naik Argo Anggrek.
Sepanjang perjalanan, perut mual bangeeettttt....makan apapun gak nafsu, malah takutnya muntah kalo dipaksa. Akhirnya aku merasa lemes banget setelah 2x muntah di pagi harinya.
Sampai di Jakarta, aku minta nginep aja di Harapan Kita supaya dapet infus dan gak kekurangan cairan.
Setelah masuk IGD dan tes ini itu, akhirnya aku pun nginep karena hari itu hari Sabtu dan hanya ada dokter residen.

Saat mereka tau riwayatku yang menderita ASD + PH + eisenmenger syndrome, para dokter juga memintaku untuk melakukan terminasi kehamilan. Mereka memberiku waktu untuk berunding dengan keluarga.
Hahahaaa....apa yang mau dirundingkan ??? Sejak awal aku menginginkan kehamilan ini, dan aku sama sekali tidak ada rencana untuk menggugurkannya. Jadi tidak ada musyawarah mufakat, mami dan suami semuanya menyerahkan keputusan di tanganku.
Keputusanku sudah bulat....

AKU AKAN MEMPERTAHANKAN BAYI INI SAMPAI AKHIR

Mereka memberikan selembar surat pernyataan penolakan tindakan terminasi. Aku membubuhkan tanda tangan.
Betapa ironisnya ya... sebuah keajaiban bernama kehidupan, bisa dilenyapkan hanya dengan coretan hitam di atas putih.

Seandainya bayi ini bukan rejekiku, seandainya bayi ini belum saatnya hidup di dunia, aku percaya Tuhan akan mengambilnya dengan cara-Nya sendiri.
Tapi bukan dengan coretan tanda tanganku.

Beberapa minggu kemudian, aku kontrol ke dokter jantung yang biasa di Harapan Kita, di mana aku kembali sebulan sekali buat ambil obat BPJS.
Saat aku bilang bahwa aku sedang hamil, dokternya langsung ngomel-ngomel, yang katanya susah proses lahirannya harus diawasi dokter lintas spesialis, harus pake ICU, risiko kematian, bla bla blaaaa.....
Aku sih cuma diem aja, udah tau kok reaksinya bakal gitu, tapi giliran si mami yang kaget kok ini dokter galak bangettt... bukannya ngasi solusi gimana kek, atau at least cara ngomongnya halusan dikit gak usah emosional gitu.
Yah...aku ngerti kok gimana perasaan dokter kalo menghadapi pasien bandel hahahahaaaa....
Akhirnya dia nulis sesuatu di buku status pasien bahwa dia sudah menjelaskan risiko kehamilan dan lagi-lagi aku membubuhkan tanda tangan.

Oke, selanjutnya aku sempat mengecek kondisi janin di beberapa RS seperti di RS Siloam MRCCC, di sana dokter kandungannya gak seberapa pintar tapi dari hasil USG dia bisa tau bahwa kondisi fisik janin masih normal. Aku juga mampir ke RS MMC Kuningan untuk nyobain USG 4D...

Untuk pertama kalinya, aku dan suami bisa melihat cikal bakal wajah CAYMARU aka BABY G.
Dia sangat aktif bergerak, dan dokter bilang dia cowok.

Caymaru 17 weeks

Saat keluar dari klinik, suamiku bilang kalo dia jadi pengen nangis...
Aku tanya kenapa.
Dia bilang,

"Sebelum ini mungkin aku masih punya perasaan untuk membuangnya kalo suatu hari kamu sudah gak kuat lagi. Tapi hari ini sewaktu melihat wajahnya dan bagaimana aktifnya dia bergerak dengan tangan dan kaki yang normal, aku jadi gak tega kalo suatu hari dia harus digugurkan,"

Mendengar perkataannya, entah kenapa aku jadi terharu.
Ternyata naluri kebapakan seseorang bisa muncul ketika melihat calon bayinya :'(

CAYMARU,
you don't need to worry, we will protect you till the end.
Even if someday we lose the battle, I swear I will never give up...




Friday, 15 April 2016

The Diary of Caymaru - The First Rejection

Awal Januari di Kudus, aku mengikuti terapi Chi dari seorang shinshe yang mengajarkan aku beberapa gerakan ringan untuk menarik napas dan menghembuskan napas jika sesak, ia juga memberikan beberapa terapi pijatan di titik Chi supaya pernapasanku menjadi lebih baik.

Aku melakukan perjanjian dengan seorang dokter kandungan di Kudus, di mana dulu adek bungsuku dilahirkan di sana. Selama 20 tahun, klinik bersalin itu kini sudah berkembang menjadi RSIA kecil. Kebetulan dokter yang menangani aku adalah dokter kepala RS yang dulu juga menangani kehamilan mamaku.

Aku masuk ke ruang praktek ditemani oleh tanteku.
Di dalam terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini :

Dokter : Ada yang bisa kami bantu Ibu ?

Me : Saya sudah terlambat beberapa minggu Dok, saya sudah test pack dan hasilnya positif, jadi saya mau cek apakah benar saya hamil dengan USG.

Dokter : Oh baik...baik...silakan... (sambil menyilakan aku berbaring di ranjang pasien)


Lalu aku pun di USG dan ditest oksigen menggunakan Pulse Oximemeter. Pulse Oximeter menunjukkan saturasi oksigenku yang hanya 85%. Sedangkan hasil USG menunjukkan bahawa memang benar ada embrio di sana.
Gambarnya begini....

Lalu kami pun kembali ke tempat duduk, dan kali ini dokter aku beritahu bahwa aku ada kelainan jantung sehingga hasil pulse oximeter menunjukkan saturasi oksigen yang sangat rendah, yang seharusnya pada orang normal berkisar 99% tapi aku cuma 85%

Ekspresi dokter menunjukkan kekhawatiran dan tidak lagi seramah tadi.

Dokter : Ibu harus konsultasi dengan dokter jantung, sekarang ibu tinggal di mana ? Saya akan buatkan surat rujukan.
Terus terang, dalam kasus ini saya menyatakan angkat tangan jika harus menangani kehamilan ibu, karena ibu harus melahirkan di ruang ICU dengan pengawasan ketat dari dokter jantung.
Dan sebelum semuanya dilanjutkan, kita harus mendapatkan persetujuan dari dokter jantung apakah kehamilan ini bisa diteruskan atau tidak.

Me : Ya, saya tahu itu...

Tante (tiba-tiba nyeletuk) : Tapi ini kehamilan yang sudah ditunggu bertahun-tahun Dok....

Dokter : Ya saya paham akan adanya keinginan untuk memiliki anak, tapi kita harus lihat juga antara keinginan dan kenyataan... jika memang kehamilan ini berisiko ya tidak bisa dipaksakan

Me : (diem aja karena udah tau dia bakal ngomong begitu)

Tante : (tiba-tiba ekspresinya berubah jadi bete dan jutek)


Dalam perjalanan pulang, si tante yang tadi ketika pergi dalam keadaan ceria, ngajakin makan tahu telor... tiba-tiba terdiam dan sama sekali melupakan ajakannya. Waktu aku tanya lagi apakah jadi makan tahu telor khas kudus, dia malah jawab..."Makan di rumah aja ya..."

Huaaaa... kok jadi dia yang galau melow...tahu telor pun melayang bai-bai..

Mungkin memang orang yang baru dapat berita hepi terus dijebloskan ke kemungkinan terburuk PASTI akan shock.
Tanteku juga demikian.

Aku pun demikian.

Tapi itu sudah lama terjadi, ketika 2 tahun lalu aku didiagnosa PH oleh seorang dokter di Siloam.
Waktu itu apapun yang dia katakan aku tidak takut atau gentar, mau dia bilang jantungku bolong 2 cm kek, harus minum obat seumur hidup kek, sudah tidak bisa dioperasi kek.... I don't care.
Hanya 1 omongannya yang membuatku menangis, TIDAK BOLEH HAMIL.

Selama 2 tahun aku tidak mau menelan omongan dokter itu bulat-bulat. Aku selalu browsing di google mengenai kasus kehamilan pada penderita ASD + PH + eisenmenger. Artikel-artikel kedokteran yang aku temukan mengkategorikan penyakit itu sebagai penyakit jantung dengan risiko tertinggi pada kehamilan. Dalam kamus mereka, penderita jantung digolongkan ke dalam 3 kategori risiko untuk kasus kehamilan, low-medium-high... mungkin udah rejekiku dapet penyakit yang masuk golongan HIGH RISK.

Dan aku juga menemukan beberapa artikel mengenai keberhasilan dalam proses kelahiran pada penderita ASD + PH + eisenmenger, meskipun persentase keberhasilan yang terjadi di luar negeri, yang memiliki tenaga medis lebih profesional dengan tingkat manajemen yang lebih baik daripada di Indonesia, hanya berkisar 50-60%. Tidak heran waktu itu dokterku mengatakan risiko bisa sampai 75%, jika kondisi medis di Indonesia yang memiliki keterbatasan peralatan, tenaga medis, dan manajemen yang masih berbelit.

Sampai sekarang aku masih ingat apa yang dikatakan seorang pendoa ketika aku berada di Siloam pada tahun 2014 silam, yang pernah aku posting di sini.

Tidak apa-apa, saya percaya kamu bisa hamil, semua ini terjadi supaya kamu benar-benar mengalami sendiri bahwa Tuhan kita sungguh besar."

Tuesday, 5 April 2016

The Diary of Caymaru - A Hello from the Womb

Halo dunia...aku Caymaru si keren, sebelumnya mamaku memanggilku Baby G, tapi kok kesannya kayak merk jam tangan Casio yah...
akhirnya suatu hari papaku memanggilku "Caymaru" and I like it !
Kalian suka juga nggak ?

Diary ini akan ditulis olehku, atau oleh Caymama, atau mungkin juga oleh Caypapa :)

Apakah kalian mau nimbrung juga ?
Boleh.. boleh...kalo mau nimbrung di komen donk, aku suka punya banyak temen, aku kan shio Monyet api :)

kata master Shifu, kalo shio monyet itu temennya banyaaaakkkkk karena orangnya supel, tapi beneran gak yah nanti aku kayak gitu ?
Kalo sekarang sih aku cuma bisa jumpalitan di perut mama, soalnya aku masih keciiillll tiny winy bity... masih banyak space kosong di sini ^_^

Oh iya di post pertama ini, aku mau flashback dikit ah ke akhir tahun 2015, itu adalah saat di mana aku tercipta di dunia ini.... myohohohoho ^o^

Jadi pada awal bulan Desember 2015, keluargaku sedang berduka karena kehilangan Opa, papinya Caypapa, yang sangat kami cintai. Beliau meninggalkan kami begitu cepat sehingga kami semua merasa shock dan tidak siap.

Pada saat itu, ketika Caymama melihat tubuh Opa yang terbujur kaku dan melihat Oma dan Caypapa menangis, Caymama refleks memegang perutnya dan berkata dalam hati, "Jika saja Tuhan berkenan memberikan kehidupan baru ketika kehidupan lain telah Ia ambil..."
Caymama tidak tahu kenapa ia berpikir begitu, dan yang ia lakukan juga reflek aja karena di dalam hati ia juga sangat merindukan kehadiranku.

Waktu berlalu dan hidup harus terus berlanjut.

Caymama yang sudah mengajukan surat resign pada bulan Oktober pun akhirnya bersiap meninggalkan cita-citanya sebagai wanita karir demi menjaga kesehatannya. Caymama berharap suatu hari nanti di masa depan, ketika kesehatannya membaik, dia ingin melanjutkan program baby yang sempat tertunda 2 tahun lalu.

Caymama bilang, hidup itu tentang pilihan. Kita tidak bisa memiliki segalanya yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita rencanakan, pada suatu titik manusia akan dihadapkan pada berbagai pilihan untuk menentukan masa depannya. Jika 1 pintu kesempatan tertutup, akan selalu ada pintu kesempatan lain terbuka. Caymama rela bekerja serabutan, menjadi freelancer atau penjual online atau ibu rumah tangga, demi kesehatan dan sebuah kesempatan yang lain.

Menjelang 2016, Caymama dan Caypapa mudik ke Malang. Ketika kebelet pipis, mereka berhenti di sebuah Rest Area di daerah Bekasi Timur, di situlah pertama kalinya Caymama hoekk...hoekkk di dalam WC yang baunya pesing. Padahal menurut Caymama selama 30 tahun dia hidup belum pernah mungkok karena bau pesing WC, sepesing apapun dia bisa tahan karena memang indera penciumannya kurang tajam dan terpercaya :D

Selama di Malang, Caymama juga selalu merasa mual dan pusing dan merasa badan tidak fit, menurutnya itu karena sakit maag dan kurang oksigen, seperti yang selalu terjadi. Bahkan ketika piknik ke sebuah pantai di selatan Malang yang bernama Balekambang, Caymama mau pingsan karena cuaca panas dan hiruk pikuk keramaian yang ruarrrrr binasaaaaa...untunglah hal tersebut tidak sampai terjadi karena Caypapa menggendong Caymama balik ke mobil. Sampai pada akhirnya, Caymama tidak tahan dengan sakit maagnya, ia ingin bermanja-manja di rumah Omi dan Opi di Surabaya.... menurut Caymama bersantai di rumah orang tua sendiri jauh lebih nyaman daripada di rumah mertua.

Di Surabaya, rasa mual Caymama tak kunjung berkurang walaupun sudah minum berbagai obat maag. Suatu pagi Caymama dalam keadaan perut kosong makan buah kelengkeng banyak banget, karena itu buah favoritnya. Alhasil lambungnya kram melilit tak tertahankan dan ia pun dilarikan ke UGD. Di sana Caymama baru menyadari bahwa ia sudah terlambat haid selama 2 minggu. Tapi ia masih tidak mau percaya 100% kalau ia kemungkinan hamil, karena sudah 3 tahun lebih usahanya untuk hamil secara alami tidak membuahkan hasil.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, Caymama membeli test pack dan berniat melihat hasilnya saat menginap di tengah perjalanan.
Walopun saat itu keadaan sangat kacau karena tiba-tiba aja Caypapa demam tinggi, tidak nafsu makan, dan tidak mampu menyetir dengan fokus...hampir aja dia nabrak sepeda gowes. Sampai di hotel di Pekalongan, ia sudah dalam keadaan hampir pingsan.

Saat di hotel sambil menjaga Caypapa yang demamnya gak turun-turun, Caymama mengetahui bahwa hasil test pack-nya positif.
Kalo kondisi normal, seharusnya adegan ini menjadi adegan mengharukan kan ? kayak di film-film gitu yang istri dan suaminya berpelukan saling mencucurkan air mata, atau berpelukan bahagia....tapi waktu itu Caypapa lagi sakit (yang nantinya ketauan kalo dia kena DBD...huhuhu) dan Caymama galau karena susah membujuk Caypapa untuk menunda perjalanan ke Jakarta, Caypapa ngotot pengen kembali ke Jakarta walopun fisiknya gak mampu. Mereka akhirnya bertengkar...dan Caymama mengeluarkan jurus maut wanita yaitu.... air matanya T_T
Akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Caymama. Karena memang wanita selalu benar, laki-laki selalu salah....uuuhhh gimana nih ??? Sabar yah Caypapa, mungkin ini semua demi kebaikan kita bersama :p


harusnya pelukan romantis gini lohhhh kalo ada berita kehamilan.....

pic source : veer.com / google search

Keesokan paginya, Caymama memutuskan untuk meminta jemputan dari saudara di Kudus, yang jaraknya 4 jam perjalanan. Di Kudus, Caypapa mendapatkan sedikit perawatan walopun ia ngotot untuk kembali ke Jakarta. Caymama setuju dengan syarat Caypapa mengajak sopir, sedangkan Caymama stay di Kudus untuk berobat di salah seorang shinshe rekomendasi Mak Ik, tantenya Caymama.
Lalu berpisahlah Caymama dan Caypapa untuk sementara waktu ditemani semburat sinar mentari pagi...

Uuhhh....aku ngantuk nih...
Caymama juga kayaknya udah capek duduk lama-lama jadi jubir aku, keren kan aku punya jubir kayak Farhat Abbas...aku kan gaol (^^)v



kayaknya segini dulu post pembukanya, kapan-kapan kita lanjutkan lagi ya


Salam sayang dari dalam perut sexy,
Caymaru si keren  :-*


Monday, 28 December 2015

Jogja Trip 2015 - Part 2 : Merapi Lava Tour

Siapa sih yang nggak pernah denger tentang keganasan gunung Merapi ?
Gunung yang paling aktif di Indonesia ini menyimpan seribu cerita kelam dan mistis sepanjang masanya, dan belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan tidur panjang. Sang Ardi masih akan berdiri kokoh menyaksikan cerita manusia di Jawa Dwipa :)

Di Kaliurang - sebuah wilayah tujuan wisata di kaki gunung Merapi - atraksi yang paling menarik adalah "Lava Tour", di mana kita akan diantar berkeliling oleh seorang pemandu dengan mobil Jeep ke lokasi-lokasi yang terkena "Wedhus Gembel" alias awan panas, atau tersapu lahar dingin.
Ada beberapa operator yang menyediakan jasa tour ini. Kebetulan yang saya ikuti adalah operator yang posnya tepat berada di samping Raffles Villa di dekat bundaran patung udang.
Ada beberapa paket tour yang ditawarkan dengan kisaran harga mulai Rp. 350.000,- sampai Rp. 600.000,-
Kami bertiga sepakat mengambil paket yang paling murah karena sorenya harus segera ke Candi Prambanan sehingga tidak bisa berlama-lama di Kaliurang.


Brosur paket Lava Tour by Mas Yus

Ternyata naik Jeep asik banget...apalagi kalo guide-nya, Mas Yuswanto, agak sedikit ngebut sehingga udara sejuk Kaliurang berhembus menerpa wajah...uhuuuiiii....

Sebelum mulai menelusuri desa yang hancur karena awan panas, jeep kami melakukan aksi offroad di atas sungai pasir yang namanya Kali Opak...pokoknya Seru banget !!! Kata Mas Yus, sungai tersebut dulunya penuh air dan ada bangunan bendung yang berfungsi, tapi sejak tertimbun Lava dingin, airnya sekarang cuma seuprit dan bendungannya juga masih dalam tahap renov karena mengalami kerusakan.


Perjalanan menuju Kali Opak... melewati bangunan runtuh, jalan berbatu, dan kuburan massal

Perjalanan dilanjutkan menyusuri pemakaman massal korban letusan merapi melewati jalanan pasir berbatu-batu yang di kanan kirinya banyak bangunan runtuh. Lalu sampailah kami ke "Museum Sisa Harta".
Di situ banyak barang rusak maupun mayat hewan yang sudah membatu akibat terkena awan panas. Mulai dari televisi, rak kulkas, mesin jahit, sepeda motor, "sisa" kelinci, batu-batu vulkanik yang terlempar dari semburan merapi, dll

 
Museum Sisa Harta

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke sebuah monumen yang disebut "BATU ALIEN" yaitu sebongkah batu super gede yang terlempar dari semburan Merapi, dan jika dilihat pada angle tertentu menyerupai wajah orang. Karena itu penduduk sekitar menyebutnya batu alien. Ada juga yang menyebutnya "BATU ALIHAN" - alihan = perpindahan - konon menurut mereka batu itu menghadap tepat ke arah keraton Yogyakarta jika ditarik garis lurus.
Di lokasi ini, Mas Yus menunjukkan kepiawaiannya mengambil berbagai angle foto unik yang mungkin sudah sering ia lakukan pada setiap turis yang berkunjung. Berhubung kami nggak pernah melakukan adegan foto begitu, jadinya kami excited banget... saya aja sampai kelelahan disuruh lompat-lompat, gak terasa sampai sepatunya jebol.


 
Batu alien - mirip kan sama wajah orang ?!


 
Foto-foto unik dengan background langit biru ^^

Dari batu Alien, kami melanjutkan perjalanan ke tambang pasir yang lokasinya nyeremin tapi eksotis bangettttt....
Gimana gak serem kalo jeep-nya diparkir di pinggir jurang yang notebene adalah pasir, bisa aja kan sewaktu-waktu longsor. Uniknya di tambang pasir ini, beberapa lubang masih mengeluarkan asap dari dalam, dan batu yang warnanya coklat basah jika disentuh ternyata hangat !
Kali ini kami banyak mengambil foto panorama, sayangnya background gunung Merapi tidak tampak tertutup awan :'(

 
Tambang pasir...offroad rute, taken with ASUS Zenfon 2 panorama mode

Hari sudah semakin panas ketika kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi terakhir, BUNKER DARURAT di dusun Kaliadem.

Sampai di lokasi, kayaknya saya udah kelelahan banget dan mulai sesak napas, sehingga pada saat ada tangga menanjak, mau nggak mau harus minta bantuan suami buat gendong hehehehe.... yang mana aksi ini mengundang perhatian bule-bule di sana, dikiranya saya males banget kali yah nggak kasian ama suami :p

Masuk ke bunker, suasananya gelap dan pengap.
Di dalam ada sebuah batu besar yang di atasnya diberi sesajen, menambah suasana makin mencekam dan bikin merinding meskipun banyak pengunjung dan masih di siang bolong.
Menurut cerita, ketika letusan tahun 2006, 2 orang relawan bersembunyi di dalam bunker yang memiliki ketebalan dinding 3 meter dengan pintu beton setebal 25 cm, namun panasnya material merapi yang melahap daerah tersebut malah membuat bunker itu bagaikan oven raksasa. Dua orang relawan yang terjebak di dalam, yang satunya meninggal di dalam bak mandi yang terletak di dalam bunker, dan satu lagi meninggal di dekat pintu bunker. Katanya saat bunker diselimuti material panas merapi, suhu di dalam bisa mencapi lebih dari 200*C, atau maksimal 700*C. Ya Tuhan....gak kebayang panasnya kayak apa, di Jakarta aja suhu 33*C udah bikin emosi !

 
Peresmian bunker

 
Foto dari dalam bunker....


 
digendong ayang karena capek naik tangga wakakaka XD

Dari lokasi bunker, jeep kami kembali menuju Kali Opak untuk melakukan off road di sungai yang asik banget tadi sebagai penutupan sebelum akhirnya kembali ke villa.

Kami pun berkemas untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan.

To be continued...

Wednesday, 18 February 2015

New Year 2015 in Bandung - Part 2 : BRAGA WALK

1 Januari 2015

Pagi-pagi, kami turun ke bawah buat sarapan dan kaget setengah mati melihat kondisi
restoran hotel yang....

semrawut
kotor buanget
makanan udah abis semua

Sambil mengeluh, aku duduk di salah satu meja yang piringnya belum diberesin, masih ada ceceran makanan di sana-sini, pokoknya buat aku sih...ini rada menjijikkan !

Waiter dan waitress nya kewalahan menghadapi tamu di peak season, cuma 2-3 orang dan mereka gak mampu melayani kami, bahkan untuk makanan yang udah abis pun, kami harus meminta dan menunggu beberapa saat sampai disajikan lagi. Tentu saja itu cuma menu makanan yang bisa direfill, macam nasi goreng, kue bolen, roti tawar, dan puding. Menu seperti bubur dan daging atau ikan, jangan harap nongol lagi.

Kata welcome boy-nya, itu karena mereka baru buka beberapa bulan dan gak siap menghadapi peak season. Pemiliknya juga lagi keluar negeri jadi mereka kayak gak punya wewenang untuk melakukan inovasi.

Yahhh...whatever your reason, menurut aku sih mereka sama sekali gak siap untuk buka hotel.

Siangnya, aku dan suami jalan-jalan ke stasiun yang berada tepat di depan hotel. Stasiun Bandung ini bersih banget dan ramai, sayang sekali aku gak ambil foto bangunan landmark itu. Menurut salah satu blog, perjalanan ke Bandung naik kereta api itu sangat menyenangkan karena melewati gunung dan bukit-bukit yang pemandangannya indah. Memang kalo dilihat dari mobil saat di tol Cipularang, jalanan kereta yang dibangun Belanda itu masih nampak kokoh dan menyembul di antara lembah-lembah perbukitan, jadi penasaran juga seperti apa rasanya naik kereta ke Bandung.

Malamnya, kami memutuskan untuk cari makan di Braga Walk karena letaknya yang cukup dekat dari hotel.

Kami memarkir mobil di ujung jalan, dan menyusuri Braga dengan berjalan kaki. Karena menurut trip advisor, jalanan Braga itu romantis dan enaknya dilewati sambil jalan kaki.
Sayang banget, pas ke sana, sedang ada renovasi yang membuat jalanan nampak kotor dan berantakan, bahkan lampu jalan yang jadul itu, yang kayak lampu jalanan di London, juga ikut dibongkar...meskipun mungkin setelah renovasi akan dibangun lagi.

di depan salah satu cafe

Aku paling suka sama suasana kota tua yang berbau-bau Eropa gitu, kayak kota tua di Jakarta, kota tua di Semarang, dan kota tua di kawasan Braga ini. Di sini banyak cafe-cafe yang jual minuman beralkohol dan dipenuhi asap rokok, berhubung aku harus menghindari asap rokok sebisa mungkin, kami mencari resto yang memungkinkan.

Dan ketemulah warung penyet Bu Tris....mirip yah sama Bu Kris yang tersohor itu.


menu oseng ini enak banget, meskipun isinya tanpa daging...cuma tulang ikan sama kuah cabe-cabean

Aku menyukai Braga yang eksotis,
Aku akan kembali lagi ke sana,
Tak sabar aku menantikan wajah barunya....


*last update : katanya Jalan Braga gak akan pernah kembali seperti jaman keemasannya dulu.... sayang banget kalo gitu, padahal ini kan heritage yang harus diselamatkan kayak kota tua Jakarta, cmon Bang Kamil....do something about it T_T


New Year 2015 in Bandung - Part 1 : KAWAH PUTIH

*Gegara di rumah kontrakan ga pasang internet, dan ga ada sinyal WIFI, jadinya sekarang jarang ngeblog, postingan lama ini pun terpaksa harus antri sekian minggu baru bisa diupload.


Sebenarnya impian kami untuk mengakhiri tahun 2014 adalah dengan mudik ke Jawa Timur naik mobil sendiri, dan mampir ke kota Jogja serta Semarang.

Asik kayaknya kalo pergi berdua terus mampir-mampir ke kota yang dilewati untuk kuliner...
Apa daya, duitnya udah run out buat something else which is more important T___T

Alhasil, kami cuma berakhir tahun di Bandung, lagi-lagi.....
Iyah. Soalnya, Bandung itu destinasi wisata yang meski dikunjungi berkali-kali, tetap aja ada sesuatu yang baru yang bisa dikunjungi.
Apalagi kami yang ke sananya belum tentu setahun sekali, pasti masih buaaaanyyyaakkkkk banget tempat yang bisa dijelajah !

Kali ini, aku penasaran banget sama yang namanya Kawah Putih, yang sering jadi lokasi pemotretan pre-wed, jadi lokasi film cinta-cintaan, pokoknya memberikan aura romantisme.
Masalahnya adalah....di sana uap sulfurnya tajam, padahal aku kan harus menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, bisa-bisa ntar di sana pusing dan pengen pingsan.
Tapi, puji Tuhan semuanya berjalan lancar, pas di sana kondisiku sehat walafiat, bisa foto-foto selfi narsis, naik tangga juga kuat meskipun berhenti setiap 10 anak tangga.

Kronologinya begini...

31 Maret 2014

Berangkat pagi-pagi dari Jakarta dengan berbekal uang bensin, uang makan, pakaian secukupnya, dan tentu saja tabung oksigen !!

Sampai di Bandung lanjut ke arah Bandung selatan, Ciwidey, untuk menuju kawah putih.
Di tengah perjalanan, entah di daerah mana, kami berhenti di sebuah depot sederhana yang jual masakan Sunda untuk makan siang, aku ngidam pepes teri !

Menu Sunda itu sehat banget yah, isinya daun-daunan.....non kolesterol,
bandingin sama menu Jawa Timur yang walopun enak jugaaa....tapi isinya petis, jeroan, dll :D
 

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kawah putih.

Di gerbang depan, kami harus membayar Rp. 180.000,- untuk 1 mobil + 2 orang

Ini tiketnya mahal banget kalo aku bilang, soalnya fasilitas jalan rada rusak dan WC kurang nyaman


Di gerbang ini, biasanya turis yang naik bus berhenti dan melanjutkan ke kawah naik angkutan spesial, wahhh...lupa namanya tapi sejenis kolt dengan bagian samping terbuka, kalo rame-rame asik juga kali ya...

Lalu setelah menyusuri 5 km jalanan yang berliku yang agak rusak di beberapa bagian, kami sampai juga di kawasan kawah putih yang sebenarnya, tinggal parkir di parking land, lalu turun menyusuri tangga yang lumayan banyak, dan voilaaa....nikmatilah pemandangan romantis ! plus bau-bau sulfur yang mirip kentut itu.

Di lahan parkirnya, petugas sering menginformasikan bahwa wanita hamil dilarang turun sampai ke kawah. Petugas juga menginstruksikan kami supaya menggunakan masker karena uap sulfur sedang lumayan pekat.

\(^^)/ udah kayak pelem korea belon gan ?? #ngarep

Puas selfie, kami pun balik ke atas dan tepat saat itu, hujan mengguyur kawasan kawah putih.
Pas banget daahhh...coba kalo kesiangan dikit, pasti udah gak bisa turun akibat ujan :)
Di dalam mobil, sambil megap-megap akibat capek naik tangga, aku langsung menikmati oksigen pake selang kesayangan yang selalu setia masuk ke goa upil hahahaaa....

Perjalanan pulang menuju Bandung diiringi hujan lebat dan macet di daerah KOPO.

Untung aja si biru masih mampu menerjang banjir....padahal motor yang di sebelah kiri kami udah oleng akibat kena arus banjir...

Akhirnya kami sampai di hotel Grand Sovia di depan stasiun pukul 19:00.
Kami mendapatkan voucher makan malam (horeee...ga perlu keluar ujan-ujan cari makan) karena ada acara New Year's Eve !

1. tetap semangat naik tangga, 2. Si Oksi yang setia menemani
3. Dinner @ hotel ada live band, 4. Besoknya di roof pool mini...maunya kayak MBS, sayang viewnya ga banget kakakakaaa....

Setelah mandi dan istirahat bentar, kami turun untuk makan malam, di sana udah ada band yang lagi nyanyi2. Sayangnya menu makan malamnya standard banget, yahhh...maklum sih karena ini hotel budget. Kami gak menghabiskan detik-detik tahun baru di sini karena bosan, akhirnya kelar makan kami balik ke kamar. Suami udah tepar duluan, jadinya aku nonton TV sambil nungguin kembang api dari jendela kamar.

Ternyata oh ternyata.....

Tidak semeriah Jakarta...

Bahkan di sekitar hotel tidak nampak jedar-jedor yang terlalu banyak.
Kayaknya tahun baruan di Indonesia, paling semarak dan hingar bingar...ya...di Jakarta.

Dan aku pun mengakhiri tahun 2014 dengan berdiri di depan jendela lantai 6,
melihat gebyar cahaya warna-warni di kejauhan,
merasa sendiri,
dan tenggelam dalam rasa rindu pada keluargaku di Surabaya....


To be continued....


*New Year 2015 in Bandung - Part 2 : BRAGA WALK


Wednesday, 28 January 2015

Suka Duka Tinggal di Apartemen dan di Landed House

Setelah 2x tinggal di apartemen, dan 1x tinggal di landed house, aku jadi bisa sedikit banyak merasakan plus minusnya.

Tinggal di apartemen :
Minus :
- Sempit
- Males naik turun lift
- Parkir motor/mobil ke unit jauh
- Peraturan ketat
- Lebih costly

Plus :
- Privasi
- Di kota, deket ke mana-mana
- Pemandangan indah
- Gampang kalo mau beli makanan atau laundry, tinggal telpon langsung antar
- Lebih aman, gak khawatir barang dalam unit ilang karena keluar masuk barang ada yang pantau

 
Suka banget sama garden apartemen yang terletak di atas gedung.....


Tinggal di rumah :
Minus :
- Jauh ke mana-mana --> tergantung lokasi rumah juga sih
- Transport susah, kalo ga ada kendaraan sendiri repot
- Berisik dari tetangga, ada anak kecil, anjing, orang ngamuk-ngamuk, dll
- Harus bersosialisasi, soalnya aku rada cuek jadi kalo ketemu cuma senyum aja, ga bisa basa-basi ngobrol macam-macam
- Karena lebih besar dari apartemen, bersihinnya juga lebih memakan tenaga
- Pemandangan gitu-gitu aja atap rumah tetangga

Plus :
- Parkiran motor dan mobil di depan rumah, bisa dipantau setiap saat dan kalo mau keluar ga ribet
- Ada halamannya
- Biaya operasional lebih murah dari apartemen


 Rumah berantakan....ga kebayang kalo nambah anggota keluarga harus punya si embak nih....

Sebenarnya kondisi ini diambil karena apartemen dan rumah yang aku tempatin masih kontrak,
Aku jadi penasaran kalau keduanya merupakan milikku sendiri, apakah lebih homey atau beda rasanya aku gak tau....
Lagipula komplek perumahan yang aku tempatin ini masih sangat baru, jadi kondisi sekitar masih sepi. Padahal kalo udah rame lumayan banyak fasilitasnya, ada ratusan ruko yang suatu saat pasti bakal rame banget kayak di PIK, ada akses tol langsung seperti komplek Alam Sutera.
Sayang, saat semua fasilitas itu sudah siap, aku pasti sudah pindah lagi dari sini.

Yang jelas, kalo tidak ada kendala biaya, disuruh milih kontrak apartemen atau rumah, definately I WILL CHOOSE APARTMENT !!

Monday, 26 January 2015

A Very Late Post : Selamat Tahun Baru 2015


Menilik resolusi tahun 2014 kemarin, kayaknya banyak terget yang tidak tercapai.


Contohnya, pengen bisa nyetir ke mana-mana sendirian, ternyata sampai tahun berakhir aku belum berani juga kalo ditinggal eric. Paling banter nyetir sendirian sepanjang 5 km dari rumah menuju bengkel Honda Mugen di Puri, dan sebaliknya dari honda mugen ke rumah, jadi total tempuh 10 km saja. Atau ke alfamart yang masih di dalem komplek sejauh 3 km hanya supaya bisa internetan.

Terus, pengen kelarin 1 novel ecek-ecek buat dikirim ke penerbit ternyata mandek juga. Yang ada bawaannya males melulu....

Penyakit males ini emang racun berbahaya kalo nanti pengen resign dan bikin usaha sendiri.
Pengen ngelunasi cicilan mobil, rencananya pertengahan tahun tapi ketunda beberapa bulan jadi awal tahun ini karena ternyata duitnya kepake buat DP rumah !!! Muahahahaaa.....ini juga salah satu hal unpredictable yang tidak direncanakan di awal tahun 2014. Kita sih mikirnya mau kontrak aja lagi seperti sebelum-sebelumnya, tapi entah ide sinting dari mana yang membuat aku nekat beli rumah, padahal duitnya pas-pasan, ternyata setelah diitung-itung, kebeli juga itu rumah....makasih ya Gusti Allah, eke gak menyangka bisa beli rumah taun 2014 ini !

Jadi resolusi tahun 2015 ini enaknya apa yahhh ?
Tentu saja melanjutkan resolusi tahun 2014 yang tidak tercapai....

Nyetir sendiri ke mana-mana.
Entah berapa tahun lagi aku berani nyetir sendiri tanpa co-pilot di jalanan Jakarta yang mengerikan ini.


mobil penyok akibat nabrak pantat truck, kata orang kalo gak nabrak ya gak belajar...
huuuu...menghibur diri T___T


Menyelesaikan novel amatir.
Meski aku juga udah lupa terakhir nulis sampe mana ya...


Menabung buat travelling.
Tujuan travelling masih tentative yang jelas kudu ke luar Indonesia, jadwal travelling juga tentative tergantung tiket yang didapat. Semoga aja sebelum aku mati, masih punya kesempatan mengunjungi tempat-tempat indah kaya si Walter Mitty !

 Aihhh...ke tempat yang deket-deket aja jarang, mau ke tempat jauhhhhh....duitnye dari mane ?
jangan pesimis, kata orang...kalo punya mimpi yang tinggi sekalian jangan cetek2 :p


Mulai mikirin dana pensiun
Yah ini sebenarnya keputusan yang sulit. Di lubuk hati terdalam, aku masih pengen meniti karir sampe ke jenjang manager di perusahaan ternama, masih pengen loncat sana-sini. Tapi apa daya sepertinya tubuhku tidak mampu. Kalo lagi kumat, aku bener-bener gak kuat ngapa-ngapain, bahkan hanya bangun tidur dan berjalan ke kamar mandi aja aku ngos-ngosan. Meskipun ini terasa sangat dini, kayaknya aku harus udah mulai mikirin akan usaha apa nanti kalo resign. Penghasilan seiprit di awal usaha pasti akan terjadi, tidak akan menyamai penghasilan saat ini, tapi apa boleh buat jika tidak berani memulai maka aku tidak bersikap adil terhadap tubuhku sendiri.

 
source: google

Pengobatan ke jenjang selanjutnya.
Kemarin udah dijadwalin untuk kateterisasi jantung di akhir Maret, abis kateterisasi terus dilihat apakah masih memungkinkan untuk menjalani operasi penutupan lubang jantung. Emang sih gak bakal ditutup semua, karena aku sudah kena eisenmenger syndrome a.k.a aliran darah yang melewati lubang ASD itu sudah 2 arah, mungkin nanti bakal disisain lubang sekitar 2-5 mm dari yang sebelumnya 17 x 22 mm. Tapi kalo ternyata hasil kateter tidak memungkinkan aku untuk operasi yahh....pasrah aja deh.


 kateter jantung bisa dimasukin lewat tangan, bisa lewat paha....
kayaknya kalo aku bakal lewat paha nih !


Baby program continuity.
Sebenarnya ide ini cukup kontroversial. Kalo nanti aku bisa dioperasi dan PH-ku bisa turun, aku pasti akan melanjutkan baby program, tapi kalo ternyata tidak bisa operasi....aku akan tetap mencoba, meski eric dan mamiku lebih memilih menghindari risiko dengan menyarankan adopsi saja, tapi aku tetap pengen mencoba. Kenapa kita harus menyerah sebelum mencoba ? Beberapa teman dari grup PH Indo, ada yang berhasil melahirkan bayi sehat walopun pas melahirkan, sekujur tubuh mereka jadi biru. Masalahnya, ternyata kesulitan hamil ini bukan disebabkan oleh PH, beberapa waktu lalu pas aku test darah diketahui bahwa test ANA ku positif. ANA adalah singkatan Anti-Nuclear Antibody, biasanya ditemui pada penderita LUPUS. Tapi ANA positif belum tentu penderita lupus. Masalah antibody ini sebenarnya cukup mempengaruhi proses kehamilan. Bisa aja hasil pembuahan tidak berkembang karena dihancurkan oleh antibody atau immune tubuh karena dianggap benda asing. Pokoknya, bisa atau tidak bisa operasi, aku akan melanjutkan beberapa test yang sebelumnya disarankan dokter tapi belum sempat aku lakukan. Semoga aja ANA test-ku berubah jadi negatif.

Hasil ANA test aku yang...POSITIVE....makkkk T___T


Yahhh...itu aja sih, sebenarnya bukan resolusi juga, malah lebih ke rencana-rencana tanpa target yang jelas. Karena untuk beberapa kasus, aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan.

Tapi aku yakin setiap tahun selalu memberikan cerita tak terlupakan pada setiap orang, entah itu cerita sedih yang membuat kita makin kuat, atau cerita bahagia yang membuat kita makin bersyukur dilahirkan sebagai diri kita.

Selalu begitu, terus, sampai entah kapan akhirnya kita meninggalkan dunia.
Bolehlah kita membuat rencana A sampai Z, tapi apa daya kalo besok ternyata hari terakhir kita menghirup udara, entah dengan cara bagaimana dan di mana.
Aku bersyukur aku masih bisa bersama orang-orang yang aku kasihi, meskipun anjingku telah pergi untuk selamanya dan membuat nangis mami serta adikku.

Selamat berpulang Justin, my 11 years old dog !
Selamat berpulang penumpang Air Asia QZ8501 !

Bye-bye Justin....walopun mami belum rela kau pergi...
tapi aku rela kok....terima kasih sudah menjadi anjing dan teman kami selama 11 tahun,
itu adalah waktu yang cukup panjang :)


Selamat datang 2015 !
selamat datang harapan baru !

Saturday, 5 April 2014

Rest in Peace, Baby Oliver...

Beberapa hari yang lalu, saya berencana mengunjungi salah satu teman saya, seorang dokter muda yang merekomendasikan dokter spesialis paru-paru pada saya. Dia baru saja melahirkan anak cowoknya yang pertama di usia kehamilan 33 minggu. Yap...bayi itu lahir prematur.

Menurut teman saya, dia terpaksa melahirkan prematur karena tekanan darahnya melonjak sangat tinggi dan bisa berakibat fatal pada ibu dan bayi sehingga diputuskan harus operasi cesar meski baru 33 minggu.

Saya dan suami yang sudah berencana membeli kado barang bayi, tiba-tiba mendapatkan informasi bahwa bayi itu, yang diberi nama Oliver, ternyata telah meninggal 3 hari setelah dilahirkan karena kelainan patologis organ jantung, sehingga aliran oksigen dan karbondioksida jadi kacau.

Saya dan suami sangat shock mendengar berita tersebut. Tadinya kami mau menyambut kelahiran, kenapa sekarang kami harus ke rumah duka ?

Berita sedih itu membuat saya berpikir, bahwa kejadian ini bisa saja jadi salah satu skenario masa depan hidup saya.
Ya, masih tentang penyakit saya dan kehamilan, dan efeknya, seperti yang pernah saya bahas di postingan terdahulu.

Waktu itu, sebelum saya melakukan IUI, saya berdoa semoga apa yang saya lakukan untuk baby program ini diberkati dan saya tidak melakukan hal yang sia-sia. Saya berencana melakukan IUI pada bulan April. Ternyata nasib berkata lain, manusia boleh berencana, Tuhanlah yang menentukan. Akhir Maret hasil medical check-up keluar dan saya opname dan mendapatkan diagnosis annoying itu, sehingga saya membatalkan niat saya untuk IUI.

Jika saja saya melakukan IUI sebelum diagnosis, entah bagaimana skenario hidup saya. Jika IUI gagal, artinya saya sia-sia keluar ongkos belasan juta. Jika IUI berhasil, dan pada usia kehamilan triwulan ketiga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, artinya saya akan sia-sia mengandung.
Saya tau sebenarnya Tuhan telah menjawab doa saya, sehingga saya tidak jadi melakukan hal yang sia-sia. Mungkin Tuhan ingin saya menunggu dan menguji kesabaran saya. Karena meskipun saya lelet, saya termasuk orang yang gak sabaran dan mudah bertindak karena emosi sesaat.

Baby Oliver memang hanya hadir di dunia selama 3 hari, namun dia telah sukses menjadi kaki tangan Tuhan bagi kedua orang tuanya, dan mungkin bagi teman orang tuanya ?

Oiya...baby Oliver sempat dibabtis dengan nama GABRIEL.

GABRIEL !!

Ini jodoh atau apa ya ??
Gabriel kan nama yang sudah terpatri dalam otak saya buat anak saya kelak, nama yang selalu saya teriakkan dalam hati kalo saya sedang merindukannya, nama yang selalu terngiang ketika saya nulis seluruh episode surat dalam "How I Met Your Father"

Drama Masa Depan :
Gue : "Gabriel....Gabriel...ayo makan dulu, jangan maen piano terus !"
Anak gue : "Bentar, Mi. Kata guru pianoku, Tante Nita, aku harus bisa lagu ini biar lulus grade."
Gue : "Tante Nita mulai minggu ini udah cuti melahirkan anak ke-3, jadi kamu makan dulu !"
Anak gue : "Hahhh...udah mau lahiran, Mi ? Ciyuss ? Miapah ? Hebat juga Om Dimas bisa bikin 3 anak ya ?? Kok si papi cuma bisa bikin 1 ?"

*elus dada* sejak kapan anak gua jadi alay ?!

Gue : "Jangan salahin papimu, mami sih udah dikasi anak satuuuu aja, udah bersyukur banget...gatau apa kamu tuh brojolnya bikin orang mau mati, tapi mami hepi..."

*mami dan anak berpelukan bercucuran air mata*
THE END
~Tokoh dalam cerita di atas hanyalah fiktif belaka, jika ada kemiripan nama mohon maaf emang disengaja~

Selamat tidur Baby Oliver.
Selamat kembali ke surga dan tidak merasakan sakit.
Kelak kamu akan bertemu dengan mama, papa, dan adik-adikmu :)

Tuesday, 25 March 2014

Berteman dengan Atrial Septal Defect dan Pulmonary Hypertension

Hari ini, saya mendaftar sebagai member di PHA Indonesia, sebuah asosiasi cabang dari PH International yang didirikan di USA di mana anggotanya adalah para pasien penderita PH, serta keluarganya.

Website PHA International dan Website PHA Indonesia

Di situs itu, kita bisa mendapatkan berbagai informasi yang mudah dicerna oleh orang awam, kalau sebelumnya kita agak dung-dung mendengarkan penjelasan dokter dengan bahasa dewanya. Selain itu, bagi keluarga pasien juga diberikan cara penanganan dan penyuluhan untuk mensupport pasien PH, kayaknya suami saya perlu juga nih daftar jadi member.

Nah, keuntungan jadi member ini, ternyata ada link spesial yang hanya bisa dibuka oleh para membernya yang pastinya memuat informasi yang lebih spesifik dan lebih rahasia, bau-bau Sherlock Holmes dikit.
Untuk jadi member, saya harus isi form yang akan direview secara manual oleh admin-nya dan saya belum mendapatkan balasan approval dari mereka berhubung baru kirim beberapa jam yang lalu hehee...

Memang ya, orang ember itu sekali ember, seumur hidup bakal terus ember. Kayak saya ini.

Tadinya, di postingan sebelumnya saya pikir saya bakal merahasiakan atau at least membagikan info sesedikit mungkin kepada orang lain mengenai penyakit yang saya derita. Tapi, emang dasarnya suka ember, menyimpan air dalam tempayan sendiri itu gak enak banget, suerr...rasanya kayak ada yang menekan dan suatu hari bisa meledak. Jadi saya putuskan untuk melakukan apa yang biasanya saya lakukan, and I love to do that hahahaa....maapkan daku yah teman-temin korban gossiper, untuk membagikan informasi sebanyak-banyaknya, apapun yang saya tahu, meskipun semuanya juga hasil dari brosing sana sini nanya Om Gugel.

Mungkin, mungkin saja di suatu hari di masa depan, ada seseorang yang sedikit bingung dan mencoba browsing mengenai penyakit ini, entah karena dia sendiri menderitanya atau keluarga atau teman atau orang yang dia kenal menderitanya, dan tanpa sengaja menemukan postingan ini. Itung-itung untuk lebih mempopulerkan penyakit ini di kalangan awam, berhubung penyakit ini tergolong langka dan penelitian di dunia kedokteran mengenai penyakit ini masih sangat sedikit sekali dibandingkan critical disease lain seperti kanker, stroke, dsb.

Apa itu Pulmonary Hypertension (Hipertensi Pulmonal / Hipertensi Paru) ?
Suatu keadaan dimana terjadi tekanan darah tinggi di arteri paru-paru.
Tekanan darah di arteri pulmonal yang normal adalah 8-20 mmHg, pada pasien PH tekanan paru >25 mmHg pada kondisi istirahat dan >30 mmHg pada saat aktifitas.Tekanan darah tinggi tersebut yang terjadi karena saluran (arteri pulmonal) yang membawa darah dari jantung ke paru-paru menyempit/menebal sehingga jantung kanan harus bekerja extra keras untuk memompa darah tersebut menuju paru-paru. Hipertensi pulmonal adalah penyakit kronis yang memerlukan perubahan/penyesuaian gaya hidup dari pasien dan pengobatan sesegera mungkin setelah diagnosa, karena bila tidak maka bisa menyebabkan gagal jantung kanan.
Pada kasus saya, tekanan di paru-paru mencapai 60-65 mmHg

Apa gejalanya ?
  1. Sesak nafas,
  2. Nyeri di dada (angina pectoris)/dada terasa tertekan (berat),
  3. Pusing, Pingsan, Mudah lelah
  4. Bengkak air (edema) pada pergelangan/tungkai kaki, lengan dan perut, Batuk kering
  5. Raynaud’s Phenomenon – jari menjadi pucat/biru dan kadang terasa sakit, bisa juga dicetuskan karena hawa dingin.
Gejala pada umumnya terjadi setelah melakukan aktifitas, tetapi tergantung pada tingkatan penyakit itu sendiri, gejala bisa juga terjadi dengan aktifitas minimal atau bahkan tanpa adanya aktifitas.
Gejala2 di atas adalah yang umum terjadi pada pasien hipertensi pulmonal, bisa juga terjadi gejala hipertensi pulmonal lainnya yang masih berhubungan/efek dari hipertensi pulmonal contohnya seperti : detak jantung tidak beraturan (aritmia), detak jantung cepat, palpitasi, kuku jari tangan biru, liver bengkak, batuk berdarah, dst.
Seringkali pasien dengan PH terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya aktifitas sedikit saja sudah merupakan hal yang berat dan menimbulkan gejala sesak nafas dll/memperburuk keadaan PH. Karena itu pasien PH harus menyesuaikan diri dan membiarkan pandangan orang lain yang mungkin kurang baik terhadapnya dan lebih memilih untuk berbaik hati dengan kondisi kesehatan sendiri.

Apa hubungan PH dengan penyakit jantung bawaan ?
Hipertensi paru dapat disebabkan oleh penyakit jantung bawaan yang tidak diperbaiki pada masa awal/bayi/anak-anak. Karena penyakit jantung bawaan meningkatkan aliran darah dan tekanan pada paru-paru.
Pada hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit jantung bawaan, biasanya progressivitas PH berjalan lebih lambat dan prognosisnya lebih baik dibandingkan hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh lainnya. Selain itu dalam banyak kasus dimana penyakit jantung bawaan yang ada dapat dikoreksi, tekanan paru dapat turun drastis mendekati normal.
Di Indonesia sendiri, kebanyakan kasus hipertensi pulmonal yang terjadi saat ini adalah karena penyakit jantung bawaan yang parah dan tidak diperbaiki pada masa anak-anak.
Contoh kondisi-kondisi penyakit jantung bawaan yang bila tidak diperbaiki dapat menimbulkan hipertensi pulmonal adalah Ventricular Septal Defects, Atrial Septal Defects, Truncus Arterioses dan Pulmonary atau Tricuspid Atresia.

Apa itu Atrial Septal Defect ?
is a form of a congenital heart defect that enables blood flow between two compartments of the heart called the left and right atria. Normally, the right and left atria are separated by a septum called the interatrial septum. If this septum is defective or absent, then oxygen-rich blood can flow directly from the left side of the heart to mix with the oxygen-poor blood in the right side of the heart, or vice versa.[1] This can lead to lower-than-normal oxygen levels in the arterial blood that supplies the brain, organs, and tissues. However, an ASD may not produce noticeable signs or symptoms, especially if the defect is small.

In the case of a large ASD (>9mm), which may result in a clinically remarkable left-to-right shunt, blood will shunt from the left atrium to the right atrium. This extra blood from the left atrium may cause a volume overload of both the right atrium and the right ventricle. If untreated, this condition can result in enlargement of the right side of the heart and ultimately heart failure.

Any process that increases the pressure in the left ventricle can cause worsening of the left-to-right shunt. This includes hypertension, which increases the pressure that the left ventricle has to generate in order to open the aortic valve during ventricular systole, and coronary artery disease which increases the stiffness of the left ventricle, thereby increasing the filling pressure of the left ventricle during ventricular diastole. The left-to-right shunt increases the filling pressure of the right heart (preload) and forces the right ventricle to pump out more blood than the left ventricle. This constant overloading of the right side of the heart will cause an overload of the entire pulmonary vasculature. Eventually, pulmonary hypertension may develop.

The pulmonary hypertension will cause the right ventricle to face increased afterload. The right ventricle will be forced to generate higher pressures to try to overcome the pulmonary hypertension. This may lead to right ventricular failure (dilatation and decreased systolic function of the right ventricle).

If the ASD is left uncorrected, the pulmonary hypertension progresses and the pressure in the right side of the heart will become greater than the left side of the heart. This reversal of the pressure gradient across the ASD causes the shunt to reverse; a right-to-left shunt will exist. This phenomenon is known as Eisenmenger's syndrome.
source : Wikipedia

Terus, berikut ini adalah hadiah ulang tahun terburuk yang pernah saya terima, dari hasil TEE :
Biatrial Enlargement.
A large ASD secundum is seen. The diameter is 18 x 22 mm in size.
The aortic part of the atrial septum rim is deficient.
The other rims of the atrial septum is > 7mm.
Bidirectional flow is seen accross the atrial septum.
This finding and the pulmonary hypertension is consistent with Eisenmenger Syndrome.

All four Pulmonary veins are seen draining into the left atrium as confirmed by cardiac CT Scan.

Dilated RV with PASP 60-65 mmHg, with systemic BP 75-80/50

Well, saya akan selalu ingat kata-kata seorang wanita dari kelompok pendoa Gereja saya yang hari Jumat itu mengunjungi rumah sakit. Meskipun selama di depan mami saya, saya selalu menahan tangis, soalnya mami saya udah nangis terus, ketika didoakan entah kenapa saya tidak bisa menahannya lagi. Karena saya merasa mereka seperti bisa membaca pikiran saya, bahwa bukan karena jantung saya bolong atau paru-paru saya rusak yang membuat saya sedih, tapi karena rahim saya yang normal itu tidak diijinkan untuk mengandung seorang bayi.

Wanita pendoa itu berkata,
"Tidak apa-apa, saya percaya kamu bisa hamil, semua ini terjadi supaya kamu benar-benar mengalami sendiri bahwa Tuhan kita sungguh besar."

Saya berharap saya memiliki iman sebesar wanita itu, karena jujur saja, saya masih terpasung dalam diagnosis dokter. Belum lagi membaca artikel-artikel di internet yang menulis kasus kematian seorang wanita penderita PH, 14 hari pasca melahirkan dan lain-lain. Rasa-rasanya kehamilan itu sesuatu yang tidak mungkin. Dan kalau saya memaksakannya, bukankah saya akan menjadi orang yang egois ? Bagaimana jika bayi saya nantinya cacat ? Seandainya bayi saya selamat dan saya tidak, apakah saya tega meninggalkan suami saya jadi duda beranak satu ? Apa gunanya saya memimpikan kelahiran anak, tapi saya tidak bisa merawatnya sebagai ibu dan malah mati begitu saja ?
Bukankah lebih baik jika kita membiarkan segalanya berjalan sesuai kehendak Tuhan ? Meskipun itu berarti merelakan keinginan memiliki anak kandung.

Tuhan, saya ingin sekali memiliki iman sebesar biji sesawi.


Articles Source : PHA Indonesia & Wikipedia

Tuesday, 11 March 2014

How I Met Your Father - Part 9

IT'S NOT GOODBYE YET

Dear Kid(s),

Maybe this is the last chapter of this season.
I have just done some medical treatments and the result is not good.

The doctor said that I may not be pregnant because of my heart & lungs condition.
If I insist, he said that 75% will cause the death of you, me, or us both.

The tension in my lungs is way too high, even if it's just to supply the oxygen for my body. It will become even higher if I'm pregnant and my heart will exceed its limit to pump the blood.

It's not my broken lungs or heart that made me cry.
It's because I can't have you that make me the saddest woman in the world.

Deep inside my heart, I believe that 25% is more that enough for miracle to happen into somebody's life.

25% is a big opportunity.
25% is hope.
25% is everything for me.

I will cancel ALL the baby program that I have planned because of that 75%.
But, I WILL NOT say goodbye to you because of that 25%.

So, I would like to say....
See you again in the next chapter of my life.