Friday, 2 November 2012

Gerakan Sejuta Jokowi

Jakarta Baru memiliki seorang Jokowi dan Ahok. Media tidak bosan-bosannya meliput sepak terjang kedua orang ini sejak mereka berdua menjabat.
Mungkin orang belum muak.
Mungkin sulit untuk muak kalau kinerja kedua orang ini membuat warga provinsi lain iri dan ingin memiliki pemimpin seperti sosok Jokowi.
Ora kakean cangkem, seng penting kerjo ono hasile !

Seandainya ada sejuta Jokowi di bumi pertiwi ini dan tersebar di seluruh pelosok negeri, kira-kira bakal jadi apa ya Indonesia 5 atau 10 tahun lagi ?

Terus kenapa kita butuh sejuta Jokowi ???

Kemarin saya mudik ke Kudus untuk mengurus kepindahan domisili. Semua administrasi di Kelurahan sudah beres, tinggal mengurus Surat yang membutuhkan sidik jari di kepolisian.
Om saya yang membantu mengurus ini itu bilang, kalau kami sekeluarga harus ke POLSEK dahulu, baru kemudian ke POLRES KUDUS.

Sekeluarga; saya, mami, papi, dan adek saya menuju POLSEK Kaliwungu. Di sana kami disuruh mengisi formulir lalu masing-masing mendapatkan sebuah dokumen yang judulnya Rekomendasi Kelakuan Baik or whatever.
Dari Polsek, kami beranjak menuju Polres Kudus.
Di Polres, tempat pertama yang harus kami datangi adalah loket pembuatan Kartu Sidik Jari, untuk diambil foto dan sidik jarinya.
Waktu itu, mami saya menanyai Pak Polisi Judes yang duduk di sebelah Pak Polisi Antasari (karena mukanya mirip banget sama Antasari), perihal kenapa adek saya tidak dimintai sidik jari padahal dia sudah punya KTP. Si polisi judes dengan tegas menjawab, TIDAK PERLU, karena adek saya masih 1 Kartu Keluarga dengan orang tua.

Setelah itu kami menunggu beberapa saat. Sambil menunggu di luar loket, papi saya dengan kepo-nya melihat-lihat penangkapan 5 tersangka curanmor yang sedang dijepret-jepret oleh reporter media. Katanya, dia melihat 2 pistol sebagai barang bukti. 1 dari tersangka tersebut tangannya diborgol dan digiring terpisah dari 4 tersangka lainnya yang cuma disuruh berbaris dengan tangan di pundak.

Oke, selesai melihat-lihat, kartu sidik jari kami pun jadi. Segera kami berikan ke ruangan sebelahnya untuk meminta Surat Kelakuan Baik or whatever.
Ketika kami menyerahkan surat rekomendasi dari POLSEK, pengurusnya menolak dan mengatakan bahwa dokumen tersebut tidak diperlukan dan menyuruh kami mengisi formulir sekali lagi yang pertanyaannya SAMA PERSIS dengan formulir di POLSEK. What the fuck !!!
Akhirnya kami mengisi formulir tersebut dengan terburu-buru karena pengurusnya mengatakan bahwa jam pelayanan cuma sampai jam 2 siang saja, padahal antriannya banyak banget. ENAK BANGET YAH KERJANYA SETENGAH HARI DOANK, What the fuck #2 !!!
Sambil mengisi, mami saya mewawancarai orang yang dari tadi juga ikutan menunggu. Ternyata dia juga berasal dari wilayah Polsek yang sama dengan saya, dia juga meminta dokumen dari polsek tapi tidak dipergunakan oleh petugas polres, bahkan DILIHAT PUN TIDAK. What the fuck #3.

Setelah kami selesai mengisi formulir-formulir tersebut sambil ngedumel merasa dikerjain, kami pun menyerahkan ke pengurus tadi. Tapi ternyata sudah terlambat dan kami pun disuruh kembali besok pagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 lebih dikit.
Ketika mengumpulkan berkas-berkas milik kami, petugas tadi menanyakan kartu sidik jari adek saya. Dengan tidak percaya, orang tua saya pun protes karena tadi dibilang TIDAK PERLU. Bagaimana bisa, staff yang ruangannya BERSEBELAHAN memberikan INFORMASI YANG BERLAWANAN ??!! Yang 1 bilang tidak perlu, yang 1 bilang perlu ??!!
Akhirnya terjadi adu mulut antara orang tua saya dan petugas tersebut.
Merasa tidak mungkin menang, akhirnya orang tua saya mengalah dan ingin meminta kembali berkas adek saya. TAPI TERNYATA TIDAK DIPERBOLEHKAN oleh petugas KAMPRET tersebut. What the fuck #4.

Adegan selanjutnya, saya udah bete tingkat dewa dan tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Yang jelas saya ingin segera meninggalkan tempat birokrasi bangsat tersebut cepat-cepat.

Dalam perjalanan pulang menuju tempat makan siang soto & pindang kudus, sambil berusaha melupakan tampang petugas kampret tadi dan membayangkan lezatnya calon makan siang saya, saya pun berpikir...

"I want this country have 1 million Jokowis."

Culinary Journey to Kudus

Bulan Oktober nan ceria yang telah saya nobatkan sebagai "Bulan Bokek of The Year" akhirnya berlalu sudah.
Di penghujung bulan, seperti yang pernah saya singgung pada post  Oktober Ceria, saya harus mudik ke kudus untuk mengurus beberapa hal terkait dengan administrasi perubahan domisili. Akhirnya, saya resmi didepak dari Kudus, tapi belum resmi menjadi warga kota Malang, anggap saya Gipsy yang rumahnya gak jelas - di kolong langit, di atas ibu pertiwi.

Selama di kudus, hampir semua rencana kuliner terwujud, kecuali soto kerbau karso-karsi. Hix...tapi kegagalan makan soto kerbau ini malah digantikan oleh kombo pindang ayam & soto kudus, saya makan semuanya !!!
 
LENTOG
Lentog
Dont judge the book by its cover ! Mungkin penampilan lentog kurang menimbulkan selera layaknya menu hotel bintang 5, tapi jangan tertipu dengan tampangnya yang terkesan amburadul. Lentog merupakan kombinasi dari lontong, lodeh tahu, dan sayur gori (nangka muda). Menurut saya, yang paling mempengaruhi enak tidaknya seporsi lentog adalah kombinasi rasa lodeh tahu dan lontongnya. Lebih mantap lagi jika di tiap suapnya, kita juga menyertakan cabe rawit rebus biar pedassss......






MIE AYAM BANDUNG & ES TELER
Mie Bandung & Es Teler
Wahhh...kalo ini sebenarnya menu favorit keluarga saya. Tapi ternyata setelah saya pesan semangkok, entah kenapa rasanya gak seenak dulu lagi. Mungkin karena selama berkelana, saya banyak merasakan berbagai cita rasa mie dari yang lebih tidak enak sampai yang lebih enak sehingga saya merasa rasa mie ini, walopun ngangenin, ternyata so-so saja.
Tapi yang tetap enak adalahhh.....Es Teler-nya. Entah karena cuaca lagi super panas dan saya kehausan, pokoknya rasa enak, jauh lebih enak dari Es Teler 77.




NASI & LONTONG TAHU TELOR GIMBAL
Tahu Telor
Ini diaaaa....primadona Kudus, yang setau saya belum ada restoran di Jakarta yang bikin menu tahu telor kayak gini. Bu Kris ? NO ! Depot Surabaya ? NO ! Soto Jatmi ? NO !
Entah kalo restoran PENDOPO 21 yang rumornya beli resep langsung dari kota Kudus, apakah rasanya bisa sama seperti yang ada di Kudus atau nggak.
Tahu telor dengan bumbu kecap dan kacang tumbuk, dimakan dengan lontong atau nasi, ditambah gimbal. Gimbal dikenal juga sebagai peyek udang. Tapi karena saya ga terlalu suka peyek, jadi saya ga makan sama itu.

PINDANG AYAM & SOTO KUDUS
Pindang Ayam
Jangan kaget kalo kuah dari 2 masakan ini manisssss....khas lidah orang Jawa Tengah. Jadi buat orang yang sukanya asin, biasanya dari Jawa Timur, kurang suka sama menu ini. Secara visual, pindang ayam memiliki kuah yang lebih keruh kecoklatan dan rasanya lebih manis. Biasa dihidangkan di atas piring berlapis daun pisang.
Aneka Lauk Yang disajikan, murahhhhh.....

Sedangkan soto kudus, kuahnya lebih bening kekuningan, dan disajikan dalam mangkuk kecil ala China. Keduanya pas bila dimakan bersama krupuk paru alias kulit sapi.
The Famous Soto Kudus

Waktu adik saya makan pindang ayam, saya yang semula berencana makan soto kudus jadi ganti haluan pesan pindang ayam. Lalu setelah saya menghabiskan sepiring pindang ayam, saya melihat papi saya makan soto kudus yang membuat saya pengen. Akhirnya saya pesan setengah porsi soto ayam juga karena lapar mata. Namun setelah beberapa sendok makan, saya gak kuat perut udah buncit dan menyerah gak habis...huaaaaa.....dasar kemaruk !!!

Demikian wisata kuliner di kota Kudus ini berakhir. Lain waktu akan disambung lagi dengan wisata kuliner ke Bandung di bulan November, dan kuliner ke Surabaya-Malang di bulan Desember. Yippiiieee......

Btw, apakah Oktober cocok dinobatkan sebagai bulan bokek of the year kalo di bulan November dan Desember ada kemungkinan lebih bokek lagi ?????!!

Hanya Tuhan yang tau.

Tuesday, 30 October 2012

How I Met Your Father - Part 1


Hello Kid(s),

I am your mother, and this is the first story from me to you.
First of all, I am sorry for these horrible grammars. I just want to practice my english so that someday we can have a little chit-chat in english. In God's permission, I will take you to the international elementary school. About where the money come from ? I do not know yet :)
I am not a rich people, you know, nor your father, your grandmas and granpas. But just like I mentioned before, in God's permission, I have faith that everything is possible.

You know kids, everyone told me that money is not the most important thing. But, we still do believe that everything need money, yes ?
Sometimes i really hate this condition that I have to choose to postpone to have you in the first year of I and your father marriage.
Life is about to choose. I hate it, but I have to.

It is not that I prefer to have another thing instead of you. HELL NO.

I just want to prepare a better living condition for you.
If a car become the first priority before you, it is mean that I don't want you to consume air polution in Jakarta directly while you still breathe through me. I don't want you to feel the hard-shaking motorcycle while you still sleep in my belly.
How can I handle this very fragile sweet creature inside of me ?

But Kid(s),
I think I can't wait anymore.
Although we do not have a car yet, we welcome you anytime.
I really hope that you won't let me and your father wait too long for your presence.
Pic Source : designandprgirl.com.au
 
 
Will God let you come to us ? When is God let you come to us ?

In the end, I can only said what Mother Mary said to Angel Gabriel,
"I am the Lord's servant, May it be to me as you have said."

Monday, 22 October 2012

Tidak Bisa Hidup Tanpa Sambel


Sakit maag, rasanya frasa ini sudah mendarah daging dalam hidup saya dan kedengaran sepele remeh temeh. Gimana nggak ? Sejak kecil, saya sudah doyan dan cinta mati sama yang namanya SAMBAL aka sambel (panggilan cayangnya). Kalo makan gak pake sambel, kayaknya something wrong dan ada yang kurang, pepatah bilang bagai makan sayur tanpa garam.
Padahal, kalau lidah udah dibiasakan makan pedas apalagi sejak kecil, pasti lama-lama akan kebal dan tingkat kemampuan menyantap makanan pedas akan meningkat.

Namun tidak begitu halnya dengan perut dan lambung saya.

Karena makan makanan pedas inilah, perut saya sering sakit. Alhasil, saya selalu punya persediaan berbagai macam obat maag dan ulu hati, seperti; polycrol forte, promag, ulsikur, radin 150 gr, ranitidin 150 gr, acitral, spasminal buat kalo lagi keram, buskopan juga mirip-mirip spasminal walo kurang nampol, dan primperan buat kalo muntah-muntah non stop.

Lalu, suatu hari saya ngidam banget sama yang namanya bubur ayam pasundan di daerah binus kemanggisan. Dulu waktu saya kos di daerah situ, saya sering banget makan. Tapi karena sekarang tempat tinggal saya jauh dari situ, jadi saya kangennn...dan pengen makan di situ. Sayangnya karena dia menu sarapan, sehingga jam 12an biasanya sudah habis, dan saya harus berangkat lebih pagi untuk beli menu sarapan. Padahal saya kan males banget bangun pagi apalagi kalo hari libur.

Singkat kata, demi bubur ayam, badai pun saya terjang untuk dapat menyantapnya. Saya bangun pagi, siap-siap dan langsung cabut. Sampai di sana, saya makan semangkuk bubur plusssss....4 sendok sambel. Sampe buburnya jadi warna orange. Yahh...emang kemaruk sih, dalam hati saya dengar ada yang berbisik, "jangan banyak-banyak" tapi saya cuekin aja kata hati itu berhubung saya gak mau ketinggalan momen menyantap bubur pedas yang sudah diidamkan sejak lama. Kalo gak pedas mana nampol ??!!

Menjelang beberapa suapan terakhir, perut saya mulai sakit, tapi saya anggap itu karena kekenyangan dan eneg. Karena lagi kemaruk, saya paksakan untuk menghabiskan meski saya sudah eneg.

Setelah itu, saya cabut ke carrefour Central Park untuk membeli beberapa keperluan. Selama muter-muter di carrefour, entah kenapa saya merasa sakit kepala, sementara sakit perut saya berangsur-angsur menghilang digantikan oleh feeling ingin pup. Tapi karena saya udah terbiasa dengan gejala ini, akhirnya saya cuekin saja dan tetep keliling.

Ketika saat membayar di kasir, gejala sakit kepala ini semakin menjadi-jadi. Saya suruh suami saya cepetan bayar, terus kami mendorong trolley ke arah bangku pengunjung tepat di depan carrefour. Saya langsung duduk dan berusaha menahan rasa pusing mendadak itu.

Beberapa menit berlalu, dan bukannya perasaan sakit itu hilang, makin lama malah makin menjadi-jadi. Masih belum puas juga, perasaan mual datang mendadak, dan saya mulai berkeringat dingin. Lalu saya mengalami gejala familier yang saya kenali sebagai "perasaan ingin pingsan" ditandai dengan pandangan kabur, semua obyek menghitam, pendengaran kabur, dan hanya terdengar suara ngiiiiinggggg......

Lalu dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran, sayup-sayup saya merasa beberapa orang mendekat menanyakan kondisi saya. Saat orang itu mendekat, tiba-tiba saya muntah dan langsung kembali ke alam nyata karena perut saya sakiitttt bangetttt....
Sambil menahan muntahan dalam mulut (yaikssss!!), saya menunjuk-nunjuk minta plastik buat tempat muntah, lalu sepertinya orang asing tadi dan suami saya sibuk mengambilkan ini itu. Kemudian tak lama, ada satpam yang datang dan berusaha mengantar kami ke klinik mall.

Sempoyongan dan masih muntah-muntah dikit sambil jalan, saya diantar ke klinik mall, yang namanya KLINIK ROYAL TARUMA, dengan dokter jaga yang kayaknya masih cupu dan logatnya cadel sehingga apa yang diomongkan susah dimengerti sampai terkadang susternya harus mengulang kembali maksud si dokter heheheee...
Lalu saya diberi beberapa obat, yang setelah saya minum 2x ternyata kurang manjur, sehingga saya ganti pakai obat andalan saya sendiri, yaitu spasminal buat perut kram, plus radin 150 gr.
Ternyata obat saya jauh lebih manjur.....

Yahhhh...but life goes on.

Saya akan tetap makan sambel apapun yang terjadi, karena saya tidak bisa hidup tanpa sambel. Tapi saya akan menjadi lebih waspada saat menyantap sambel terutama ketika perut kosong. Karena hal ini pernah terjadi sebelumnya, ketika saya melahap kripik singkong pedas "MAICIH" dengan tingkat kepedasan level 10 alias MAX di saat perut kosong, karena enak saya jadi keterusan. Lalu setelah itu saya merasa perut panas dan sakit luar biasa, sampai rasanya mau mati. Bahkan saat itu, ketika di kamar mandi kantor saya berpikir, "Apakah saya akan mati sia-sia seperti ini di kamar mandi kantor ?"

Sebenarnya jika saya menyantap makanan pedas dengan perut yang sudah diisi akan baik-baik saja, seperti ketika saya menjadikan maicih level 10 cemilan setelah makan, saya tidak kenapa-kenapa dan berhasil menghabiskan sekantong seorang diri. Tapi ketika saya menyantap barang yang sama dengan kondisi perut kosong, gejalanya sama sekali berbeda.

Seharusnya dengan 2x kejadian seperti ini, saya menjadi lebih waspada.

Seharusnyaaa.......
I loveeeeee it !!!!!!!!!

Eittssss...tunggu dulu, postingan ini belum berakhir.....
Ketika mertua datang dan mendengar kasus ini, dia langsung berasumsi bahwa sakit perut ini adalah gejala awal kehamilan....
Karena menurut mimpinya, ada 2 anak ayam kecil-kecil yang katanya itu pertanda akan mendapat keturunan. Sedangkan adik ipar saya sudah hamil dan anaknya bukan kembar, sehingga mertua saya menganggap bahwa anak ayam kedua adalah anak saya dan suami saya hahahahahahahaaaa....

Anak ayam rainbow, saya mau yang warna UNGU....


Wednesday, 17 October 2012

Oktober Ceriaaaaa

Bulan Oktober ini adalah bulan yang bisa dikatakan bulan tersibuk of the year.

Pada minggu pertama, saya udah kelimpungan menyiapkan berbagai sample yang akan dipamerkan pada mini expo di event yang diselenggarakan pada minggu 2. Pada minggu ini saya setiap hari pulang malam dan pegal-pegal.

Pada minggu kedua, mulai dari hari Senin sampai Jumat, ada event yang namanya Asia Pasific Marketing Meeting, yang mana pada rangkaian acara ini saya harus meeting ini itu, konsentrasi dengerin orang ngomong bahasa Inggris maupun mengajak foreigner ngomong bahasa Inggris. Saya kasihan sama mereka karena harus menerjemahkan grammar saya yang kacau heheheeee....
Hal menariknya karena bisa makan enak di hotel bintang 5 secara gratis :)

Pada minggu ketiga, saudara saya dan teman kantor saya akan mengadakan pernikahan. Pada pernikahan saudara saya ini, ortu saya berencana datang...masih ditambah kedatangan mertua yang akan menjemput adik ipar. Meskipun kedatangan mereka membuat saya happy dan excited, tapi tetap saja saya jadi sibuk, sibuk yang menyenangkan tentunya.

Pada minggu keempat, saya harus pulang ke kampung halaman saya di Kudus untuk mengurus surat kepindahan kependudukan. Jadi nantinya saya akan jadi warga kota Malang, sama kayak suami saya. Untuk mengurus administrasi ini, saya harus cuti 2 hari kerja, beli tiket bus pulang pergi, plus booking hotel 1 malam karena saya udah ga punya rumah lagi di kota itu. Hal yang menyenangkan adalah....Saya bisa wisata kuliner !! Yippie....

Saya bahkan sudah membuat daftar menu dalam kepala untuk direalisasikan kelak.
- Tanggal 28 pagi hari : Sesampainya di Kudus, makan lentog di daerah wergu, lentog adalah makanan mirip ketupat sayur yang jauh lebih enak dan cuma ada di Kudus
- Tanggal 28 siang hari : setelah cek-in di hotel lalu beranjak menuju Mie Bandung & Es Teler di daerah pandjunan. Ini mie ayam favorit semua keluarga Kudus.
- Tanggal 28 malam hari : menuju pedagang Nasi Tahu Telor yang berjajar di sepinggir jalan Sunan Kudus atau pasar Kliwon, datengin langganan dan langsung pesan Tahu Telor Kudus yang rasanya susah ditemukan di tempat lain. Ini adalah makanan favorit suami saya sewaktu dia kerja praktek di Kudus dan juga teman kantor yang ternyata pacarnya kerja di Kudus, setelah mencicipi makanan ini langsung jatuh cinta.
- Tanggal 29 pagi hari : breakfast di hotel, semoga menunya lumayan
- Tanggal 29 siang hari : soto kerbau karso-karsi
- Tanggal 29 malam : udah balik ke Jakarta lagi....hixx...

Semoga saya tidak lupa memotret setiap kuliner yang berhasil saya santap, karena saya tidak tahu kapan akan ke kudus lagi.

If You Can Turn Back Time

Suatu kali, teman saya pernah menanyakan apakah saya ingin kembali ke masa lalu ?
Secara spontan, waktu itu saya berpikir bahwa saya puas dengan kondisi sekarang, dan mensyukuri apa yang ada.

Di lain waktu, ketika saya lagi merenung-renung sok melow, pikiran itu pop-out lagi dalam ingatan saya....dan YA ! Saya memiliki satu atau mungkin lebih jika waktu merenungnya lebih lama, untuk kembali ke masa lalu.

Jika saya bisa kembali ke masa lalu, saya ingin...

Membatalkan pesta pernikahan di Malang, which is my 2nd wedding party.
Jika saya bisa kembali ke masa itu, saya akan menolak rencana pesta yang disiapkan oleh mertua, dan saya akan memilih untuk HONEYMOON.
Jika saya bisa kembali ke masa itu, saya tidak perlu repot-repot meminjam 2 gaun pengantin, which is bisa menghemat biaya, dan biayanya bisa digunakan untuk tambahan honeymoon hehee...

Jika diingat lagi, rasanya menyesakkan karena saya tidak merasakan honeymoon even a single day. Meskipun setelah pernikahan, kami masih ingin berdua saja dan belum berencana memiliki anak sampai setidaknya 1 tahun, mungkin orang bilang situasi ini seperti honeymoon setiap hari.

But no.

Honeymoon adalah momen yang sangat penting, saya tidak bisa menjelaskan secara rasional karena mungkin alasannya memang emosional. Tapi untuk para calon pengantin, saya punya satu saran...

Jangan pernah menukar kesempatan untuk honeymoon dengan apapun.


Pengen honeymoon nginep di Marina Bay Sands hihihihiiii....

Thursday, 20 September 2012

September Books Review


Sebenarnya buku-buku ini sudah saya beli pada awal Juli lalu, tapi karena saya bacanya cuma sebentar-sebentar, atau kalo pas lagi pup di WC aja jadi selesainya lama. Bahkan buku yang judulnya "Rumah Arwah" aka The House of Spirit belum sempat saya baca karena baru-baru ini saya beli buku Memoar Kwee Thiam Tjing dan buku ke-4 tetralogi Inheritance yang pastinya lebih menarik untuk dibaca. Heheee....

The Spiderwick Chronicle

Ini nih buku jadul yang bioskopnya mau diputar di Surabaya beberapa tahun silam sebelum saya hijrah ke Jakarta, udah lama banget ya ? Waktu itu saya ingat banget pengen nonton Freddie Highmore yang nampak cute di diorama-nya. Alhasil setelah saya kelar baca novelnya, saya langsung minta suami donlotin film ini karena penasaran. Ternyataaaaa......filmnya jelek, aktingnya si Freddie juga pas-pasan kalo gamau dibilang jelek, cuma modal tampang doank imut. Kuciwaaa deh saia.....
Jadi, novel fantasy ini modelnya mirip kayak Narnia, mungkin juga pengarangnya dapet ide dari sana. Tokoh utama cerita yang hidup di dunia nyata berhubungan langsung dengan dunia gaib peri-peri dan makhluk ajaib di sekitar mereka. Plot cerita dibangun dengan sangat cerdas dan unik oleh Holly Black disertai ilustrasi menarik oleh Tony Diterlizzi sehingga membuat pembaca (saya) gak sabar untuk segera menyelesaikan ke-5 serinya.


The Story Girl


Pemeran utama dalam novel ini adalah anak-anak berusia belasan tahun dengan segala problema khas anak. Topik yang diangkat pada tiap bab pun rasanya ringan dan ceria, sesuai dengan emosi yang ingin dibangun oleh L.M.Montgomenry tentang romantisme dan keindahan pulau Prince Edward di musim panas dan musim gugur. Pengarang cewek itu tidak pernah membiarkan dirinya lupa menggambarkan betapa indah padang rumput, kebun buah, hutan mapple, gunung, lembah, bukit, tempat bermain, hutan, dan kebaikan hati orang-orang di Carlisle.
Saya ingin sekali bisa menceritakan keceriaan masa kanak-kanak yang begitu antusias dan penuh impian serta semangat dalam karya fiksi saya seperti yang sukses dilakukan L.M.Montgomery.


Nobody's Boy


"Slamat pagi pohonku...slamat pagi gunungku...slamat pagi teman-teman semuaaa....Aku kan pergi jauh demi cita-citaku, Remi mohon doa restu darimuuu...Jangan bersedih teman-temanku, hidup ini adalah perjuangan...marilah kita mulai melangkah, menuju cita-cita bahagiaa...."
Ya ampunnn, saya gak nyangka masih inget bagian lagu pembuka anime "REMI" yang ditayangkan RCTI setiap hari minggu pada tahun 1995, film animasi 3D pertama yang katanya kalo nonton kudu pake kacamata 3D, tapi meski udah saya pake, kayaknya itu efek 3D ga terlalu nampol hahahahaa....jaman dulu :D
Seperti yang sudah saya duga, membaca novel ini juga bisa membuat saya mencucurkan air mata, sama seperti ketika nonton anime-nya. Memang novel ini saya lahap dalam waktu sekejap dibanding ketika membaca The Story Girl, itu karena Hector Malot bisa menceritakan kisah dengan realistis dan mengalir apa adanya. Tapi ada poin minus dalam plot cerita ini, yang membuat aura jadulnya sangat terasa, yaitu kebahagiaan yang ditemukan dalam gelimangan harta. Yeahh..cinderella boy. Sang tokoh utama si Remi ternyata anak orang kaya, dan setelah penderitaan yang begitu panjang, ia bertemu dengan ibu kandungnya yang ternyata janda kaya, dan Remi adalah salah satu pewaris kekayaannya. Klise banget kan ?? Emangnya kalo udah kaya terus ga ada masalah yah ?? Untungnya Remi adalah anak yang baik, jadi meskipun kaya, dia tetap ingat sama orang-orang yang membantunya semasa masih miskin, dan dia nyumbangin duitnya buat mendonasi anak-anak pemusik jalanan.
Kalo alternate ending di animenya yang saya browsing di youtube, setelah Remi menemukan ibu kandungnya, ia tetap memutuskan untuk berkelana bersama sahabat sejatinya Mattia menjadi pemusik jalanan dan belajar mengenai kehidupan. Nahh...yang ini lebih mending. Para penulis script anime yang notabene adalah orang-orang modern mungkin berpikir, "so what kalo lu udah kaya ? it is not a fairy tale yang mesti berakhir di dalam istana jadi pewaris tahta dan gak ngapa-ngapain."



Menjadi Tjamboek Berdoeri


Ini adalah memoar tentang Kwee Thiam Tjing, seorang jurnalis yang aktif di tahun 1920-1930an dan pernah menulis buku Indonesia Dalam Bara & Api yang cukup fenomenal karena menuturkan pembantaian puluhan warga etnis Tionghoa di Malang.
Saya mengetahui buku ini dari suatu blog ketika browsing tentang Malang Tempo Doeloe dan cukup tergelitik untuk membacanya.
Gaya bahasa Thiam Tjing menurut saya cukup unik, karena meskipun ia mengangkat topik yang cukup serius, dia bisa menuturkannya dengan sesuatu yang lucu dan menggelitik. Entah bagaimana saya harus menyebutnya...Yang jelas saya cukup sering tertawa sendiri ketika membaca ulasan beliau mengenai perbedaan perlakuan yang diterima Inlander dan Nederlander,  atau ketika cowok-cowok ABG MULO menggoda cewek-cewek ABG Cor Jesu lalu disiram air oleh suster, atau sindiran si pemilik toko kebangsaan Jepang yang barangnya dianggap murahan, atau ketika rakyat Indonesia sama-sama meneriakkan "BANSAIIII" meski mereka tidak tahu artinya.
Saya membaca buku ini secara random, tidak urut dari depan ke belakang, sehingga masih banyak bagian yang belum sempat saya baca. Tapi saya jadi punya sedikit gambaran bahwa kondisi yang ingin saya tampilkan dalam literatur bebas saya ternyata tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masa lalu, di mana kebebasan sangat mahal harganya.


Inheritance


Ini buku ke-4 Inheritance karya Christopher Paolini dan merupakan buku terakhir dari petualangan penunggang naga Eragon dan naganya Saphira. Ketika membaca beberapa bab di depan, saya sudah merasa bahwa buku ini jauh lebih menarik daripada buku ke-3 nya BRISINGR yang cukup membosankan dan bertele-tele.
Menurut teman saya, di seri terakhir ini cukup banyak adegan pertarungan ala abad pertengahan yang menegangkan, tentu saja karena di seri ini tokoh-tokoh utama harus menghadapi The Final Boss Galbatorix.
Lupakan tentang filmnya yang busuk, cukup nikmati saja petualangan Eragon dan Saphira di setiap lembarnya.


Next Book To Read....
The House Of Spirit, Peranakan Tionghoa di Nusantara, Candu Tempo Doeloe

Aduhhh, kapan yah bacanya ?! kebiasaan buruk saya adalah tidak dapat menahan diri dari godaan iman kalo lagi di toko buku, apalagi kalo kartu kreditnya masih ada saldo T__T
Buku lama belum kebaca, udah beli buku baru lagi >_<


"Jangan biarkan saya berkeliaran sendiri di toko buku atau saya akan kembali tanpa tangan hampa...."