Tuesday, 25 March 2014

Berteman dengan Atrial Septal Defect dan Pulmonary Hypertension

Hari ini, saya mendaftar sebagai member di PHA Indonesia, sebuah asosiasi cabang dari PH International yang didirikan di USA di mana anggotanya adalah para pasien penderita PH, serta keluarganya.

Website PHA International dan Website PHA Indonesia

Di situs itu, kita bisa mendapatkan berbagai informasi yang mudah dicerna oleh orang awam, kalau sebelumnya kita agak dung-dung mendengarkan penjelasan dokter dengan bahasa dewanya. Selain itu, bagi keluarga pasien juga diberikan cara penanganan dan penyuluhan untuk mensupport pasien PH, kayaknya suami saya perlu juga nih daftar jadi member.

Nah, keuntungan jadi member ini, ternyata ada link spesial yang hanya bisa dibuka oleh para membernya yang pastinya memuat informasi yang lebih spesifik dan lebih rahasia, bau-bau Sherlock Holmes dikit.
Untuk jadi member, saya harus isi form yang akan direview secara manual oleh admin-nya dan saya belum mendapatkan balasan approval dari mereka berhubung baru kirim beberapa jam yang lalu hehee...

Memang ya, orang ember itu sekali ember, seumur hidup bakal terus ember. Kayak saya ini.

Tadinya, di postingan sebelumnya saya pikir saya bakal merahasiakan atau at least membagikan info sesedikit mungkin kepada orang lain mengenai penyakit yang saya derita. Tapi, emang dasarnya suka ember, menyimpan air dalam tempayan sendiri itu gak enak banget, suerr...rasanya kayak ada yang menekan dan suatu hari bisa meledak. Jadi saya putuskan untuk melakukan apa yang biasanya saya lakukan, and I love to do that hahahaa....maapkan daku yah teman-temin korban gossiper, untuk membagikan informasi sebanyak-banyaknya, apapun yang saya tahu, meskipun semuanya juga hasil dari brosing sana sini nanya Om Gugel.

Mungkin, mungkin saja di suatu hari di masa depan, ada seseorang yang sedikit bingung dan mencoba browsing mengenai penyakit ini, entah karena dia sendiri menderitanya atau keluarga atau teman atau orang yang dia kenal menderitanya, dan tanpa sengaja menemukan postingan ini. Itung-itung untuk lebih mempopulerkan penyakit ini di kalangan awam, berhubung penyakit ini tergolong langka dan penelitian di dunia kedokteran mengenai penyakit ini masih sangat sedikit sekali dibandingkan critical disease lain seperti kanker, stroke, dsb.

Apa itu Pulmonary Hypertension (Hipertensi Pulmonal / Hipertensi Paru) ?
Suatu keadaan dimana terjadi tekanan darah tinggi di arteri paru-paru.
Tekanan darah di arteri pulmonal yang normal adalah 8-20 mmHg, pada pasien PH tekanan paru >25 mmHg pada kondisi istirahat dan >30 mmHg pada saat aktifitas.Tekanan darah tinggi tersebut yang terjadi karena saluran (arteri pulmonal) yang membawa darah dari jantung ke paru-paru menyempit/menebal sehingga jantung kanan harus bekerja extra keras untuk memompa darah tersebut menuju paru-paru. Hipertensi pulmonal adalah penyakit kronis yang memerlukan perubahan/penyesuaian gaya hidup dari pasien dan pengobatan sesegera mungkin setelah diagnosa, karena bila tidak maka bisa menyebabkan gagal jantung kanan.
Pada kasus saya, tekanan di paru-paru mencapai 60-65 mmHg

Apa gejalanya ?
  1. Sesak nafas,
  2. Nyeri di dada (angina pectoris)/dada terasa tertekan (berat),
  3. Pusing, Pingsan, Mudah lelah
  4. Bengkak air (edema) pada pergelangan/tungkai kaki, lengan dan perut, Batuk kering
  5. Raynaud’s Phenomenon – jari menjadi pucat/biru dan kadang terasa sakit, bisa juga dicetuskan karena hawa dingin.
Gejala pada umumnya terjadi setelah melakukan aktifitas, tetapi tergantung pada tingkatan penyakit itu sendiri, gejala bisa juga terjadi dengan aktifitas minimal atau bahkan tanpa adanya aktifitas.
Gejala2 di atas adalah yang umum terjadi pada pasien hipertensi pulmonal, bisa juga terjadi gejala hipertensi pulmonal lainnya yang masih berhubungan/efek dari hipertensi pulmonal contohnya seperti : detak jantung tidak beraturan (aritmia), detak jantung cepat, palpitasi, kuku jari tangan biru, liver bengkak, batuk berdarah, dst.
Seringkali pasien dengan PH terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya aktifitas sedikit saja sudah merupakan hal yang berat dan menimbulkan gejala sesak nafas dll/memperburuk keadaan PH. Karena itu pasien PH harus menyesuaikan diri dan membiarkan pandangan orang lain yang mungkin kurang baik terhadapnya dan lebih memilih untuk berbaik hati dengan kondisi kesehatan sendiri.

Apa hubungan PH dengan penyakit jantung bawaan ?
Hipertensi paru dapat disebabkan oleh penyakit jantung bawaan yang tidak diperbaiki pada masa awal/bayi/anak-anak. Karena penyakit jantung bawaan meningkatkan aliran darah dan tekanan pada paru-paru.
Pada hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit jantung bawaan, biasanya progressivitas PH berjalan lebih lambat dan prognosisnya lebih baik dibandingkan hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh lainnya. Selain itu dalam banyak kasus dimana penyakit jantung bawaan yang ada dapat dikoreksi, tekanan paru dapat turun drastis mendekati normal.
Di Indonesia sendiri, kebanyakan kasus hipertensi pulmonal yang terjadi saat ini adalah karena penyakit jantung bawaan yang parah dan tidak diperbaiki pada masa anak-anak.
Contoh kondisi-kondisi penyakit jantung bawaan yang bila tidak diperbaiki dapat menimbulkan hipertensi pulmonal adalah Ventricular Septal Defects, Atrial Septal Defects, Truncus Arterioses dan Pulmonary atau Tricuspid Atresia.

Apa itu Atrial Septal Defect ?
is a form of a congenital heart defect that enables blood flow between two compartments of the heart called the left and right atria. Normally, the right and left atria are separated by a septum called the interatrial septum. If this septum is defective or absent, then oxygen-rich blood can flow directly from the left side of the heart to mix with the oxygen-poor blood in the right side of the heart, or vice versa.[1] This can lead to lower-than-normal oxygen levels in the arterial blood that supplies the brain, organs, and tissues. However, an ASD may not produce noticeable signs or symptoms, especially if the defect is small.

In the case of a large ASD (>9mm), which may result in a clinically remarkable left-to-right shunt, blood will shunt from the left atrium to the right atrium. This extra blood from the left atrium may cause a volume overload of both the right atrium and the right ventricle. If untreated, this condition can result in enlargement of the right side of the heart and ultimately heart failure.

Any process that increases the pressure in the left ventricle can cause worsening of the left-to-right shunt. This includes hypertension, which increases the pressure that the left ventricle has to generate in order to open the aortic valve during ventricular systole, and coronary artery disease which increases the stiffness of the left ventricle, thereby increasing the filling pressure of the left ventricle during ventricular diastole. The left-to-right shunt increases the filling pressure of the right heart (preload) and forces the right ventricle to pump out more blood than the left ventricle. This constant overloading of the right side of the heart will cause an overload of the entire pulmonary vasculature. Eventually, pulmonary hypertension may develop.

The pulmonary hypertension will cause the right ventricle to face increased afterload. The right ventricle will be forced to generate higher pressures to try to overcome the pulmonary hypertension. This may lead to right ventricular failure (dilatation and decreased systolic function of the right ventricle).

If the ASD is left uncorrected, the pulmonary hypertension progresses and the pressure in the right side of the heart will become greater than the left side of the heart. This reversal of the pressure gradient across the ASD causes the shunt to reverse; a right-to-left shunt will exist. This phenomenon is known as Eisenmenger's syndrome.
source : Wikipedia

Terus, berikut ini adalah hadiah ulang tahun terburuk yang pernah saya terima, dari hasil TEE :
Biatrial Enlargement.
A large ASD secundum is seen. The diameter is 18 x 22 mm in size.
The aortic part of the atrial septum rim is deficient.
The other rims of the atrial septum is > 7mm.
Bidirectional flow is seen accross the atrial septum.
This finding and the pulmonary hypertension is consistent with Eisenmenger Syndrome.

All four Pulmonary veins are seen draining into the left atrium as confirmed by cardiac CT Scan.

Dilated RV with PASP 60-65 mmHg, with systemic BP 75-80/50

Well, saya akan selalu ingat kata-kata seorang wanita dari kelompok pendoa Gereja saya yang hari Jumat itu mengunjungi rumah sakit. Meskipun selama di depan mami saya, saya selalu menahan tangis, soalnya mami saya udah nangis terus, ketika didoakan entah kenapa saya tidak bisa menahannya lagi. Karena saya merasa mereka seperti bisa membaca pikiran saya, bahwa bukan karena jantung saya bolong atau paru-paru saya rusak yang membuat saya sedih, tapi karena rahim saya yang normal itu tidak diijinkan untuk mengandung seorang bayi.

Wanita pendoa itu berkata,
"Tidak apa-apa, saya percaya kamu bisa hamil, semua ini terjadi supaya kamu benar-benar mengalami sendiri bahwa Tuhan kita sungguh besar."

Saya berharap saya memiliki iman sebesar wanita itu, karena jujur saja, saya masih terpasung dalam diagnosis dokter. Belum lagi membaca artikel-artikel di internet yang menulis kasus kematian seorang wanita penderita PH, 14 hari pasca melahirkan dan lain-lain. Rasa-rasanya kehamilan itu sesuatu yang tidak mungkin. Dan kalau saya memaksakannya, bukankah saya akan menjadi orang yang egois ? Bagaimana jika bayi saya nantinya cacat ? Seandainya bayi saya selamat dan saya tidak, apakah saya tega meninggalkan suami saya jadi duda beranak satu ? Apa gunanya saya memimpikan kelahiran anak, tapi saya tidak bisa merawatnya sebagai ibu dan malah mati begitu saja ?
Bukankah lebih baik jika kita membiarkan segalanya berjalan sesuai kehendak Tuhan ? Meskipun itu berarti merelakan keinginan memiliki anak kandung.

Tuhan, saya ingin sekali memiliki iman sebesar biji sesawi.


Articles Source : PHA Indonesia & Wikipedia

Monday, 24 March 2014

SEANDAINYA

Seandainya
Waktu adalah milik kita
Kan kurengkuh hangatmu tiap detik
dalam dekap dan lelap

Seandainya
Ruang adalah lukisan tanpa judul
Kan kucoretkan nama malaikat
dalam relung jantung dan nadiku

Seandainya
Musim berlari tanpa arah
kan kubuka jendela bermandikan sinar mentari
serta atap kaca di mana bulan dan bintang tersenyum malu
untukmu

Seandainya
Awan dan hujan tak berjalan satu tujuan
Kan kuputar kemudi untuk menjemputmu
di ujung busur pelangi

Seandainya
Duri dalam daging mengoyak serpih-serpih hati
dan pisau-pisau kaca memburai semburat air mata
Dunia adalah komidi putar dalam alunan nina bobo
Jika kau tertawa

Seandainya
Bisa kudengar pecah tangismu
Saat menjumpai dunia fana
Maka itu adalah seluruh hidupku

Tuesday, 11 March 2014

How I Met Your Father - Part 9

IT'S NOT GOODBYE YET

Dear Kid(s),

Maybe this is the last chapter of this season.
I have just done some medical treatments and the result is not good.

The doctor said that I may not be pregnant because of my heart & lungs condition.
If I insist, he said that 75% will cause the death of you, me, or us both.

The tension in my lungs is way too high, even if it's just to supply the oxygen for my body. It will become even higher if I'm pregnant and my heart will exceed its limit to pump the blood.

It's not my broken lungs or heart that made me cry.
It's because I can't have you that make me the saddest woman in the world.

Deep inside my heart, I believe that 25% is more that enough for miracle to happen into somebody's life.

25% is a big opportunity.
25% is hope.
25% is everything for me.

I will cancel ALL the baby program that I have planned because of that 75%.
But, I WILL NOT say goodbye to you because of that 25%.

So, I would like to say....
See you again in the next chapter of my life.

Turning 29 - My Life Will Never Be The Same Again

Tidak pernah terbersit sedikit pun di pikiranku bahwa ulang tahun ke-29 akan kurayakan di Rumah sakit dan menerima kabar paling mengejutkan dalam hidupku.

Semua ini berawal ketika suami membelikan paket MCU diskonan dari Groupon Disdus yang di dalamnya termasuk paket foto Rontgen THorax. Setelah hasilnya jadi, suami mendapat telepon dari lab tempat MCU itu kalo hasil foto Rontgen-nya ada yang gak beres, dan si petugas lab itu menyarankan supaya kita ambil tes Echocardiography.

Kita yang sebelumnya sudah pernah periksa ke berbagai macam dokter, mulai dari dokter jantung, dokter THT, dokter saraf, tanpa pikir panjang pun langsung memutuskan untuk periksa ke dokter paru-paru, tanpa memedulikan saran si pegawai lab untuk ECG. Karena tahun 2012, aku sudah pernah melakukannya dengan dokter jantung di salah satu rumah sakit di Grogol.

Dokter spesialis paru-paru ini merupakan rekomendasi salah seorang temanku yang juga dokter muda. Dia pernah menderita pneumonia dan menjadi pasien si dokter paru ini. Namanya Dr. P. Handojo, katanya salah satu dokter spesialis paru senior yang cukup terkenal di Jakarta.

Begitu melihat hasil rontgen-ku, dr. Handojo langsung mengklaim bahwa ada yang tidak beres dengan jantungku. Dia menyarankan untuk CT Scan, untuk melihat lebih detail ke dalam paru-paru ku, meskipun kecurigaan terhadap si pembawa masalah adalah jantung.

Berhubung biaya CT Scan mahal, aku langsung mengajukan untuk rawat inap di RS supaya bisa direimburse asuransi. Dokter langsung setuju, karena dengan dirawat di RS dia jadi bisa langsung kolaborasi dengan dokter jantung, dan langsung merujuk aku ke ketua tim jantung di RS tersebut. Jadilah kami pulang dan berkemas untuk rawat inap di salah satu rumah sakit Kristen di kawasan Kebon Jeruk.

Selama 2 hari pertama, keadaanku di RS baik-baik aja, beberapa tes aku jalani satu persatu :

1. CT Scan dengan disuntikkan cairan kontras. Jadi prosesnya hampir mirip sama tes HSG waktu aku cek apakah di saluran tuba falopi ada kebuntuan atau tidak. Kali ini cairan kontras disuntikkan dari alat berbentuk tabung ke infus dan masuk ke jantung serta paru-paru. Aliran cairan kontras ini kemudian difoto. Ada sensasi panas di sekujur tubuh sewaktu cairan ini mengaliri nadi-nadiku hihiii...untung sebelumnya udah dikasi tau jadi gak shock.

2. Tiup paru-paru. Aku disuruh menghirup napas dalam-dalam, kemudian tahan napas dan memasukkan semacam tabung sensor ke dalam mulut, lalu hembus napas kuat-kuat melalui tabung tersebut. Hasilnya nanti akan muncul di monitor berupa grafik-grafik. Yang lucunya, di monitor ada animasi ikan dan tirai panggung. Kalau kita hembus napasnya pelan, tirai panggung dalam animasi itu cuma akan terbuka dikit dan ikan yang kelihatan cuma 1-2 ekor. Katanya kalau hembus napas kita kuat, tirai yang terbuka akan lebar dan akan nampak jenis ikan lainnya. Dari hasil grafik, sepertinya kemampuanku hanya mencapai kurang dari 50% alias not good.

3. Echo jantung. Nah...yang ini sebelumnya aku sudah pernah, tapi kali ini alat yang digunakan lebih canggih kelihatannya. Dari sini bisa kelihatan bahwa bilik kanan jantung yang menyambung ke arteri paru-paru membesar lebih dari normal. Padahal seharusnya bilik kanan itu lebih kecil dari bilik kiri, karena kan bilik kiri memompa darah ke seluruh tubuh. Di sini juga ketahuan bahwa diagnosis dokter jantung sebelumnya, yang mengatakan bahwa klep jantungku terlalu panjang sebenarnya TIDAK TEPAT. Klep jantungku sebenarnya baik-baik aja, cuman karena ukuran bilik kanan membesar dan bilik kiri mengecil, tampaklah si klep jantung seperti kepanjangan pada bilik kiri.

4. Cek darah setiap hari. Ganti infus sampai 2x karena normalnya infus cuma boleh sampai 3 hari, kalo lebih dari itu harus diganti sebab bisa mengakibatkan infeksi. Selain disuntik melalui pembuluh vena untuk mengetahui profil darah secara keseluruhan, aku juga diambil darahnya melalui PEMBULUH ARTERI untuk mengetahui secara langsung kadar O2 yang dibawa darah Fresh From The Lungs, yaitu pembuluh yang terletak jauh di dalam, yang  terasa denyutnya, dan aliran darahnya menyembur, jika dipotong cocok untuk orang yang mau bunuh diri. Kalo biasanya orang cek darah diambil dari pembuluh vena cuman sakit bentar pas jarum masuk dan keluar, beda dengan ketika disuntik di pembuluh arteri. Luka tusukan di luar udah sembuh, tapi yang di dalem ini berasanya masih sampai berhari-hari kemudian....

Setelah cek ini itu, akhirnya (untuk sementara) para dokter menyimpulkan bahwa penyebab aku gampang capek dan ngos-ngos an di luar batas normal adalah PULMONARY HYPERTENSION PRIMARY.
Psstt...ternyata penyakit ini masuk ke kategori CRITICAL DISEASE di dalam polis asuransi prudential. Tapi belum bisa klaim karena belum masuk stadium 4 alias masih di tingkat menengah.

Kenapa disebut primary ?
Karena waktu itu para dokter masih di grey area untuk menyimpulkan penyebab tingginya tekanan di paru-paru. Selama ini, di dunia kedokteran, 90% penyebab pulmonary hypertension termasuk dalam kategori tidak diketahui alias faktor X karena, penyakit itu sendiri sangat langka terjadi, perbandingannya 1 : 1000

TAPI...
masih ada 1 tes lagi yang bisa dilakukan untuk memperkuat kesimpulan para dokter. Tes itu adalah TEE.

Sayangnya, pada saat dokter jantung akan melakukan TEE, aku malah terserang demam yang menyebabkan trombosit turun setiap harinya. Karena dicurigai virus Demam Berdarah, akhirnya ditunggulah 3 hari untuk menunggu munculnya virus itu sejak masa inkubasi. Puji Tuhan, hasilnya negatif. Ternyata demamnya cuma karena virus biasa, dan setelah 3 hari aku gak demam lagi.

Maka pada hari Kamis, 6 Maret 2014, aku melakukan TEE.
Sebuah prosedur untuk mendapatkan foto organ dalam dengan lebih jelas, dengan memasukkan kamera micro melalui kerongkongan. Untuk melakukan tes ini, mulutku dibius lokal dan aku dibius total alias terlelap tanpa daya selama 1 jam. Meskipun dokternya nawarin supaya aku ga perlu bius total, tapi hatiku lebih tenang kalo aku bius total dan terlelap ke alam mimpi... jadi bangun-bangun semuanya udah kelar. Daripada cuma bius lokal, aku bisa liat ini itu malah cemas dan panik.

1 jam berlalu....

Dan akhirnya si dokter jantung, Antono Sutandar beserta asistennya, Reynold Agustinus, menemukan sesuatu.

Sesuatu yang menyebabkan terjadinya Pulmonary Hypertension.

Sesuatu yang mengubah diagnosis para dokter yang sebelumnya PRIMARY menjadi SECONDARY.

Sesuatu yang menyebabkan mamaku menangis di tempat dan tidak nafsu makan sampai beberapa jam sesudahnya.

Sesuatu yang membuatku divonis tidak boleh hamil, karena 75% akan menyebabkan kematian padaku, bayiku, atau kami berdua.

Sesuatu yang akan mengubah hidupku selamanya.

Sesuatu yang menjadi SALIBKU.

Salib yang harus aku pikul sampai saat Tuhan berkenan mengangkatnya.

Sesuatu yang akan aku ceritakan pada dunia suatu hari nanti.


NB : Perjalanan ini belum selesai sampai sini. Akan ada 2nd opinion dari dokter-dokter lain mungkin suatu hari nanti, akan ada obat-obat alternatif, dan lain-lain dan lain-lain

Friday, 21 February 2014

Mr. Nyebelin

Gue punya kolega yang duduk tepat di depan kubikel gue, sebut aja namanya PETER.

Peter ini orangnya loyal banget sama perusahaan, dan bukti keloyalannya itu akhirnya membuahkan hasil dengan diangkatnya dia menjadi Supervisor dan mendapat fasilitas mobil dari perusahaan.
Gue tau sih, emang dari sononya si Peter ini udah agak nyebelin orangnya. Tapi belakangan, ntah kenapa kok gue ngerasa dia makin meningkat kadar ke-nyebelin-nya.

Jadi ceritanya begini...

Di suatu sore menjelang malam nan cerah selepas jam kerja, sebagian staff di lantai gue udah berkemas untuk pulang, termasuk gue. Tiba-tiba, si Peter ini mendatangi gue dan meneplok lengan gue dengan gulungan kertas, "PLOK !"
Gue meringis aja, karena emang ga sakit sama sekali. Dan dimulailah percakapan kami.

Peter : Eh, udah mau pulang ? Tumben...
Gue : Iya...
Peter : Gak sakit ya gue teplok, udah biasa main kasar di rumah ?
Gue : *tau maksudnya main kasar tuh masokist style, sex pake kekerasan, soalnya si Peter jablai ini kalo guyonan sama gue ntah kenapa topiknya selangkangan melulu*
"Bukan gue donk yang biasa sakit, kan suami gue yang kata lo sering gue kasarin, harusnya dia yang biasa sakit"
Peter : Oh gitu yaa...hehehee...pantesan suami lu naik busway terus, gak pernah naik motor ke kantornya. Pasti gara-gara dengkulnya pegel tiap malem lo kasarin !"
Gue : Hahaaa....kok cowok sih yang dengkulnya pegel. Harusnya kan cewek yang biasanya dengkulnya pegel. Lagian suami gue sering kok naik motor kalo pas lagi macet kayak hari Jumat atao Senin."
Peter : Kalo naik mobil gak pernah ya ?
Gue : Gak...selain karena jalur 3 in 1, di sana meski karyawan tetep harus bayar parkir 3000 per jam. Gak ada sistem langganan kayak di ruko kita.
Peter : Mobilnya dipake cuman buat kondangan doank ya ? ahahahaa....Jual aja lahh...ganti AGYA.
Gue : Gak ah, gue gak suka interiornya AGYA, keliatan ringkih.
Peter : Kan mobil lo bempernya udah mo copot ! Kalo AGYA kan masih baru.
Gue : *Mulai sebel* Udah gue asuransiin kok bempernya kemarin, udah diganti dan gak beret-beret lagi.

Rasanya pengen gue jitak tuh orang.

Mentang-mentang abis dapet Panther dari kantor, dia lupa ama mobil sedannya yang juga keluaran 10 tahun lalu kayak mobil gue, dan power windownya macet pas di kondangan. Masih mendingan mobil gue, biar beret sana-sini tapi gak pernah rewel.

Gue masih inget banget tuh, waktu dia beli mobil sedan tuanya itu. Tiba-tiba aja tanpa ada angin, tanpa ada ujan, dia nunjukin bukti setoran Rp. 40 Juta ke gue dan bilang kalo itu DP mobil. Waktu itu gue kasih dia selamat karena akhirnya bisa beli mobil, dan gue bilang juga lagi nabung buat beli mobil meski gatau kapan bisa beli. Waktu itu kita bercanda-canda kalo beli mobil buat kondangan aja biar dandanan gak rusak, kita ketawa-ketawa, bahkan melakukan TOS aka high five.

Sekarang aja sok-nya kumat dan nyuruh-nyuruh orang jual mobil jelek, mentang-mentang dia udah dapet mobil dari kantor. Teruss...kalo gue beneran jual dan beli BMW seri 5, pasti gue bakal disuruh jual lagi biar bisa beli Jaguar. Kalo gue beli jaguar, mungkin juga disuruh jual dan beli Ferarri !

Pernah juga di suatu hari saat makan siang, dia menyinggung-nyinggung soal jual mobil. Waktu itu dia habis mampir ke apartemen lama gue yang rusunami, dan mungkin agak shock melihat kondisi apartemen yang sumpek dan semrawut. Banyak yang jemur pakaian di balkon yang ketutup pagar bak penjara, terus parkiran sempit nan kacau.

Peter : Tuh mobil lu ga pernah dipake, cuman buat kondangan, mending jual aja lah...buat DP rumah
Gue : *sebel* hehehee...gak lah, gue pengen beli rumah yang DP-nya 300 juta, ga cukup lah kalo mobil gue dijual.
Gue dalem hati : sotoy bener sih nih orang bilang mobil gue ga pernah dipake. Lagian tanpa jual mobil juga gue bisa kok beli rumah someday. Gak kayak elu, udah umur 30 tahun lebih masih aja numpang di rumah orang tua.
Peter : Kok bisa sih tahan tinggal di apartemen sempit banget kayak gitu. Ih kalo gue sih gak bakalan betah deh...hahahahaa....mana kemarin banyak banget lagi bangku baksonya (info: gue ga punya sofa, alhasil tamu didudukin di bangku-bangku bakso).
Udah gitu berantakan, kayak tempat tinggal gue, kayak ga ada ceweknya.
Gue : hahahahaa.....
Gue dalem hati : memble banget nih orang ! udah bagus kemarin gue ajak ke rumah karena dia minta pinjem charger laptop. Dah gue pinjemin, malah jelek-jelekin apartemen gue. Ya emang rusunami masa mau dibandingin sama kondominium. Hello ??!
Daripada elu, ga kluar ongkos sewa, numpang rumah ortu, udah umur 30 tahun lebih, MASIH juga belum bisa beli rumah sendiri ??? Talk to my hand bro...

Terus, gue penasaran juga kenapa dia selaluuu nyaranin orang beli AGYA.

Masih di saat makan siang di lain hari, salah satu kolega kita yang baru aja merit, sebut aja namanya HARI, nanya-nanya ke gue tentang cicilan mobil. Rencananya dia pengen beli mobil Xenia / Avanza.
Eh tiba-tiba si Peter ini nimbrung....

Peter : Lo ngapain beli Xenia Avanza, Har ? Itu mobil kan buat family. Mending lo beli AGYA ato AYLA aja, lebih mungil cocok buat penganti baru.
Hari : Yaaa....gue mikirnya mending beli mobil second tapi bagus, daripada mobil baru tapi ringkih.

Terus terang, gue heran banget sama si Peter ini. Ada temen mau beli mobil yang spec-nya lebih bagus, kenapa dia malah nyaranin beli mobil kelas bawahnya ?
Ya duit-duit nya si Hari, suka-suka dia mau beli apa. Palingan juga seandainya si Hari beneran beli AGYA baru, pasti bakal diledekin sama si Peter kalo itu mobil murah ato apalah...pasti dia lupa kalo dia yang pernah nyaranin.

Gue yakin itu !

Monday, 17 February 2014

How I Met Your Father - Part 8

Dear Kid(s).....

Remember my last post when I said that I wanna do something on February ?
I decided to cancel it.

It's a kind of traditional eastern theraphy called acupuncture.
They said it is good to normalize hormones and metabolism in our body.

I am not sure why I changed my mind, in the beginning of February I decided to postpone it.
At least until I try the first IUI - Intrauterine Insemination.
I will back to Dr. Dario and ask if I can do IUI on March or April.
If he said I can't do it, I will move to another doctor in RSIA Bunda.

I really want to try IUI on March, but I have to go to Sydney again.

You know what makes me sad when I tried to refuse the order to go to Sydney ?
I told my manager about my plan to do IUI on March, and it has to be done exactly on my fertile period.
And he said, it should be no problem for me to postpone it one or two month because it has been 2 years after all.

I know he is right.
and it's so ironic....
 

FOREX, New Acquaintance of Mine

Berawal dari kunjunganku ke pameran properti di JCC minggu lalu, rasanya ngiler banget liat rumah-rumah berharga murah (yang sekitar 200 jutaan), yang cicilannya 2 jutaan. Pengen beli, terus dijual lagi buat modal rumah yang lebih besar, tapi apa daya cicilan mobilnya belom kelar. Ditambah lagi bayar kontrakan yang sebulan sekitar 3 jutaan. Kalo misalnya berandai-andai nih, cicilan mobil dan biaya kontrakan dipangkas, kami yakin mampu bayar cicilan rumah yang harganya 400-500 jutaan. Kalau misalnya bisa beli rumah harga segitu, aku juga pengen jual lagi dan beli yang lebih gede lagi hahahaaaa..... salah siapa, rumah-rumah idaman yang di brosur-brosur itu harganya berkisar 700 juta ke atas.

Permasalahannya sekarang adalah "CONDITION".

Aku kan cewek.
Cita-citaku pengen kerja dari rumah tanpa harus meninggalkan anak-anak. Atau kalau misalnya pun harus kerja, pengennya yang waktunya fleksibel. Mau nawarin aku kerja macam MLM ? PLease no....that's not my type. Aku yakin di luar sana masih banyak hal yang bisa menghasilkan uang selain
MLM.

Saat ini, aku masih belum punya anak, dan masih jadi karyawan berlevel staff. Level staff ini dilihat dari tingkat ke-stress-an tergolong dalam kelas menengah, karena itu wajar jika gajinya juga masuk dalam kelas menengah alias pas-pasan. Belum lagi kalau staff tersebut gak punya passive income alias cuma ngandelin gaji bulanan doank. Kemajuannya dalam memiliki berbagai aset pasti lambat.

Sebagai seorang yang gampang bosen dan jenuh terjebak dalam rutinitas, membayangkan akan bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore - belum termasuk perjalanan dari rumah ke kantor - selamaaa......katakanlah selama membayar cicilan rumah alias 15 TAHUN, adalah sebuah mimpi buruk bagi aku.

Timbul pertanyaan-pertanyaan :

Nanti siapa yang urus anak-anakku ? Baby sitter ?
Baby sitter jaman sekarang apa bisa dipercaya ditinggalin seharian ?
terus ntar anakku apakah bakal menganggap baby sitter itu emaknya ??
kalau aku jadi ibu rumah tangga, siapa yang bakal bantuin suami bayar cicilan rumah, baby sitter, bensin kendaraan, listrik, air, susu bayi yang sebulan bisa ngabisin 2 juta lebih ?
Gimana aku bisa jadi ibu rumah tangga dengan penghasilan yang sama seperti seorang karyawan ?


Hmmm....mari kita berhitung !

Katakanlah penghasilan seorang karyawan adalah 6 juta.
Upss....jangan 6 juta, ntar kurang motivasi, lebih baik kita buat lebih tinggi karena gaji karyawan kemungkinan naik sampai 35% toh tiap tahun ?
Baik, katakanlah gaji karyawan level staff 7,5 juta.
7,5 juta dibagi 22 hari kerja = sekitar 340 ribu
Biar makin termotivasi, mari bulatkan ke atas menjadi 350 ribu.

Tiga ratus lima puluh ribu rupiah per hari !

Apakah menurutmu jumlah tersebut banyak ???
mungkin saat kamu masih jomblo, atau belum punya anak, kamu akan menjawab iya.
Tapi sebetulnya TIDAK.

Dengan effort 5 hari seminggu, minimal 8 jam sehari, jumlah tersebut bisa dibilang KECIL.
Apalagi inflasi tiap tahun ga berbanding lurus dengan kenaikan gaji seorang karyawan. Pasti makin lama, kebutuhan-kebutuhan makin sulit dijangkau, padahal secara naluri manusia tuh pasti ingin berkembang dan kebutuhan serta keinginannya makin banyak.

Bandingkan dengan orang yang buka warteg !

Saya yakin seyakin-yakinnya, penghasilan mereka sehari bisa mencapai jutaan (NB: kalau laris)
Jadi, buat apa bangga jadi karyawan level staff ?
Mendingan buka warteg kan ?

Masalah lain untuk buka warteg ini juga ga gampang loh.
Seorang enterpreneur pasti dituntut untuk kreatif, kerja keras, pantang menyerah, pokoknya syarat PEJUANG TAKESHI deh !

Jika kita belum mau membakar perahu kita bernama "PEGAWAI KANTORAN",
totalitas untuk menjadi enterpreneur BELUM BISA DILAKUKAN.

Terus gimana donk ?

Pernah liat mobil-mobil mewah harga milyaran berseliweran di Jakarta ?
Pernah penasaran gak gimana mereka bisa dapet uang sebanyak itu ?
Bisa jadi mereka pengusaha sukses, bisa jadi mereka koruptor, bisa jadi
juga mereka pegawai TOP MANAGEMENT di perusahaan TOP GAIN REVENUE.

Tapi saya yakin 1 hal....
mereka semua adalah INVESTOR !

THEY DON'T WORK FOR MONEY, THE MONEY WORK FOR THEM.

oke, katakanlah hal penting semacam investasi itu sudah aku lakukan dari tahun-tahun kemarin. Tapi semua itu adalah long term investment. Imbal hasilnya tidak bisa aku rasakan dalam waktu dekat. Dibutuhkan 3 atau 5 atau bahkan 10 tahun untuk menikmati hasilnya. Sedangkan kondisiku saat ini mengharuskan aku bergerak cepat. Masak aku berdoa siang malam tiap hari memohon dikaruniai seorang anak, tapi masih belom bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas ?
I feel so stupid and silly then....

Jadi, aku mulai bertanya-tanya sama adekku, YES my little brother, yang masih ababil dan baru saja berusia 18 tahun itu mengenai seluk beluk forex.

Sejak kuliah di finance, dia mulai tertarik dengan yang namanya cari duit. Entah itu jadi broker properti, MLM kosmetik, sampai belajar forex. Di antara semua coba-coba yang dia lakukan, ternyata dia paling serius menekuni bidang forex. Selain karena dia juga dilatih oleh seorang manager di perusahaan tempatnya latihan pakai virtual account, dia juga termotivasi untuk mendapatkan real account dan nasabah.

Kalau motivasi adek saya ini lain lagi.
Ya iyalah...hidup kan mesti ngikutin fase, masa baru umur 18 tahun udah disuruh mikir ngurus anak.
Jadi ceritanya, dia pengen banget beli mobil buat PDKT ke cewek-cewek.
Memang orang tua kami bukan tergolong orang yang mampu membelikan anaknya mobil buat kuliah. Boro-boro buat anaknya, buat dipakai sendiri aja kagak punya.

Terkadang agak keki juga kalo ke-ababil-an adekku ini lagi kumat. Kenapa sih jadi anak gak bisa ngerti kondisi orang tuanya yang lagi susah. Kerja banting tulang peras keringat buat bayarin dia kuliah, masih aja gak bersyukur.

Tapi kalau mau dipikir lebih lanjut lagi, aku gak bisa juga nyalahin dia 100%, lha wong tempat kuliahnya sekarang didominasi anak orang tajir. Sebagai seorang kakak yang open minded *ciehhh...* aku mikir kalo dia pasti mengalami yang namanya social pressure.
Ibarat San Chai di Universitas Ying De....wakakakakaa....

Karena itulah, dia  getol banget pengen cari duit sendiri, sebanyak-banyaknya, as soon as possible. Menunggu sampai lulus kuliah adalah SANGAT TERLAMBAT. Betul dik, jangan ikutin jejak kakak-kakakmu ini yang baru mikirin cari duit sejak lulusan. Walo sebenarnya pun, cari duit pada saat kuliah ini bisa menimbulkan ketidakfokusan. Terbukti dari IP adik saya yang ga nyampe 3, ampunnn dahh...ngelus dada !
Serba salah emang menghadapi anak ababil @_@

Sekian curcol saya hari ini.

Mari kita segera menuju TKP belajarforex.com dan menyongsong masa depan yang lebih baik.

Selamat berinvestasi.

NB: Beli juga bukunya Ellen May "Smart Trader Not Gambler" yang katanya
bagus buat trader pemula, saham ada forex juga ada.
*kok malah ngiklan ya?*