Friday, 24 August 2012

Resep Sebuah Masterpiece

Belakangan ini, salah satu kesibukan saya adalah menulis.
Akhirnya saya memberanikan diri juga menulis sebuah karya panjang, meski ketidakpedean pastilah datang merayap.
Di antara beberapa ide yang sudah bermunculan, ada dua yang paling menonjol.

Yang satu berbentuk saga atau chronicle, seperti narnia, berjumlah 7 seri. Entah kapan saya bisa mewujudkannya menjadi sesuatu yang berarti daripada sekadar ide antah berantah.

Yang satunya lagi, adalah gabungan tema-tema dan ide yang sebelumnya pernah saya tulis. Dari tulisan pendek itu, hanya tinggal dikembangkan melalui penambahan karakter dan jalan cerita supaya lebih kompleks. Saya berencana menjadikan yang satu ini sebagai debut (Cieilee....gayanya bo' belum tentu juga ada yang mau nerbitin heheheheeee....)

Oke, ide sudah ada.
Plot dan kerangka sudah dibuat, meski harus disesuaikan lagi sambil jalan.
Lalu saatnya merangkai kata demi kata, menjadi bab demi bab.
Astagaaa....ternyata gak gampang.

Menurut plot yang saya buat, buku ini nantinya akan berjumlah 18-19 bab dengan total halaman 150. Jika 150/19 maka seharusnya per bab sepanjang 8 halaman A4 dengan font Times New Roman spasi 1,5.
Kesulitan yang paling nyata saya temui adalah merangkai percakapan. Saya selalu merasa percakapan yang terjadi kurang natural.
Seandainya dialog itu diucapkan anak berusia 10 tahun, saya selalu merasa tidak seharusnya anak sepuluh tahun mengeluarkan statement seperti itu.
Atau ketika percakapan terjadi di antara orang dewasa yang hidup pada awal abad ke 20, saya tidak punya bayangan bagaimana mereka saling bertukar pikiran.
Pokoknya, saya selalu merasa, dialog antar karakter kurang pas.
Mungkin ini bisa dikesampingkan dulu, dan menunggu suatu hari nanti apa pendapat editor.

Kesulitan lain adalah informasi mengenai latar belakang. Yep !!
Saya harus mengumpulkan banyak informasi untuk menggambarkan suasana dan kondisi pada saat cerita saya sedang berlangsung.
Saya tidak yakin ketika menuliskan jarak antara rumah karaker satu dengan karakter lainnya di kota Malang pada tahun 1920. Ke mana kendaraan mereka harus belok, atau di mana letak bangunan ini dan itu.
Memang ada sedikit informasi dari sebuah blog, tapi kurang detail. Seandainya saya punya bukunya Dukut Imam, "Malang Tempo Doeloe" mungkin sedikit membantu.
Untuk mempelajari sedikit gaya bahasa tempo dulu, saya beli juga buku Memoar Kwee Thiam Tjing. Tapi sepertinya tidak mungkin menulis percakapan dengan gaya jadul seperti itu, pembaca pasti akan pusing dan malas baca. Maka saya putuskan untuk menulis dengan gaya bahasa yang modern, sebenarnya untuk memudahkan saya juga heheheheeee......

Jadi dari pengalaman di atas, kesimpulan yang bisa saya tarik adalah :

IDE + SKILL = MASTERPIECE

Ide yang brilian harus bisa diwujudkan dengan skill yang mumpuni untuk menghasilkan suatu maha karya.
Dan meski ide saya yang gak brilian-brilian amat cukup membuat saya puas, tapi skill saya benar-benar melempem.

Oke, saatnya sneak peak membaca salah satu dialog yang terjadi dalam karya saya. Kalimat ini saya persiapkan untuk membangun emosi romantis pembaca akan harapan dan cita-cita masa kecil. Tapi asal tahu saja, bahwa dialog ini terjadi di antara anak berusia 9 tahun dan 12 tahun. Karena masih off the record, nama karakternya akan saya ganti dengan AAA dan BBB. Mungkinkah anak yang hidup di tahun 1921 dengan pendidikan ala kadarnya bisa berujar seperti ini ??

“Aku bercita-cita menjadi jurnalis suatu hari nanti. Kau tahu jurnalis ? Kurasa tidak. Jurnalis adalah orang yang bekerja di surat kabar dan membuat berbagai berita agar orang lain tahu.”

“Apa cita-cita itu sama dengan impian ?” tanya AAA penasaran.

BBB mengangguk, “Bisa dibilang begitu. Kau berharap dewa mau membantumu bisa membaca dan menulis. Apa yang akan kau lakukan jika semua itu sudah terwujud ? Pasti kau juga punya cita-cita. Jika kau mau terus menjadi buruh pencuci botol, kurasa kau tidak akan punya tekad sekuat itu untuk bisa membaca dan menulis.”

SKIP. SKIP. SKIP.

“Saya menebak usia pohon ini lebih tua daripada makam ini. Dan ia selalu berdiri tegak di puncak bukit tanpa bergerak sedikit pun memandang ke segala penjuru di bawah sana. Kalau ia bisa bercerita, pasti ia punya kisah-kisah hebat yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah hari dalam kehidupan saya. Saya ingin sekali bisa mendengar kisah-kisah hebat. Kelak jika saya sudah lancar membaca dan menulis, saya akan menuliskan semua kisah-kisah itu agar tidak hilang ditelan masa,” AAA menoleh pada BBB, “Apakah seorang jurnalis akan seperti itu BBB ? Menuliskan kisah-kisah hebat agar dunia tahu ?”

Mungkinkah anak kecil bisa membuat metafora seperti itu ??
Anak kecil dalam novel bisa saja :D


1 comments:

r-auLia said...

go go buyiiik!
jadi menginspirasi pengen buat tulisan fiksi juga. tapi mungkin ga jadi sebanyak novel! hehehehe...

mari berkarya :)

Lia